Jadi Backbone Energi Bersih Indonesia, Ekosistem Biomassa Perlu Diperkuat
Minggu, 24 Maret 2024 - 17:26 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Gugatan Pilpres 2024, Hakim MK Dipercaya Masih Memiliki Kenegarawanan
Sementara itu Direktur Biomassa PLN Energi Primer Indonesia (EPI) Antonius Aris Sudjatmiko mengatakan, untuk mencapai target penurunan emisi NDC tahun 2030 dan NZE 2060, diperlukan quickwin dari serangkaian program yang memiliki biaya produksi kompetitif.
"Co-firing biomassa pada PLTU adalah salah satu quickwin paralel menunggu kesiapan teknologi dan industri energi terbarukan lainnya. Program ini membuka lapangan pekerjaan paling banyak dan memiliki value creation green circular economy dengan melibatkan banyak UMKM dibanding energi terbarukan lainnya," paparnya.
Aris menjelaskan, potensi pemanfaatan sumber bahan baku pun bermunculan. Mulai dari berbagai jenis limbah baik dari pertanian, perkebunan, pertukangan, kehutanan, sampah maupun pemanfaatan lahan kering. "Potensi itu tersebar dan tersedia untuk kebutuhan minimal 10 juta ton biomassa, namun perlu didukung dengan regulasi dari Kementerian Lembaga terkait untuk sumber biomassa yang lestari dan berkelanjutan," lanjutnya.
Dia mencontohkan, PLN EPI telah bekerja sama dengan Kesultanan Yogyakarta dalam mengembangkan kawasan ekonomi hijau untuk mendukung NZE, ESG hingga SDG's. Co-firing biomassa, kata dia, dalam hal ini memberikan porsi nilai terbesar bagi UMKM dan perusahaan lokal dalam penyediaan feedstock dan proses bahan baku biomassa.
"Lebih dari 85% biaya produksi berputar di UMKM dan usaha kecil lainnya yang dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi di masyarakat sekitar," tuturnya.
Efek pengganda yang signifikan yang muncul dari dalam pengembangan biomassa menurut dia perlu dukungan dan kerja sama seluruh stakeholder dan elemen. "Misalnya dukungan Kemenkeu untuk pengurangan PPN penyediaan biomassa, termasuk dukungan untuk ekonomi kerakyatan, pemberian subsidi/kompensasi APBN dan skema pendanaan usaha mikro-kecil juga diperlukan," kata Aris.
Sementara itu Direktur Biomassa PLN Energi Primer Indonesia (EPI) Antonius Aris Sudjatmiko mengatakan, untuk mencapai target penurunan emisi NDC tahun 2030 dan NZE 2060, diperlukan quickwin dari serangkaian program yang memiliki biaya produksi kompetitif.
"Co-firing biomassa pada PLTU adalah salah satu quickwin paralel menunggu kesiapan teknologi dan industri energi terbarukan lainnya. Program ini membuka lapangan pekerjaan paling banyak dan memiliki value creation green circular economy dengan melibatkan banyak UMKM dibanding energi terbarukan lainnya," paparnya.
Aris menjelaskan, potensi pemanfaatan sumber bahan baku pun bermunculan. Mulai dari berbagai jenis limbah baik dari pertanian, perkebunan, pertukangan, kehutanan, sampah maupun pemanfaatan lahan kering. "Potensi itu tersebar dan tersedia untuk kebutuhan minimal 10 juta ton biomassa, namun perlu didukung dengan regulasi dari Kementerian Lembaga terkait untuk sumber biomassa yang lestari dan berkelanjutan," lanjutnya.
Dia mencontohkan, PLN EPI telah bekerja sama dengan Kesultanan Yogyakarta dalam mengembangkan kawasan ekonomi hijau untuk mendukung NZE, ESG hingga SDG's. Co-firing biomassa, kata dia, dalam hal ini memberikan porsi nilai terbesar bagi UMKM dan perusahaan lokal dalam penyediaan feedstock dan proses bahan baku biomassa.
"Lebih dari 85% biaya produksi berputar di UMKM dan usaha kecil lainnya yang dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi di masyarakat sekitar," tuturnya.
Efek pengganda yang signifikan yang muncul dari dalam pengembangan biomassa menurut dia perlu dukungan dan kerja sama seluruh stakeholder dan elemen. "Misalnya dukungan Kemenkeu untuk pengurangan PPN penyediaan biomassa, termasuk dukungan untuk ekonomi kerakyatan, pemberian subsidi/kompensasi APBN dan skema pendanaan usaha mikro-kecil juga diperlukan," kata Aris.
(fjo)
Lihat Juga :