alexametrics

Penggunaan B20 Sektor Maritim Didukung ITS

loading...
Penggunaan B20 Sektor Maritim Didukung ITS
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menyambut positif kebijakan penggunaan bahan bakar biosolar B20 pada industri maritim yang telah disahkan pemerintah. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menyambut positif kebijakan penggunaan bahan bakar biosolar B20 pada industri maritim yang telah disahkan pemerintah. Kepala Departemen Teknik Sistem Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan ITS, M Badrus Zaman mengungkapkan bahwa pihaknya telah penelitian untuk memanfaatkan minyak nabati sebagai bahan bakar biosolar sejak 2000.

Beberapa minyak nabati yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan bakar biosolar, seperti crude palm oil (CPO/minyak sawit), minyak goreng, minyak kemiri, minyak jarak dan beberapa minyak nabati lain. Pengujian pada skala laboratorium telah dilakukan pada mesin land use 1.500-2.500 rpm, menggunakan berbagai variasi biosolar mulai B10, B20, B50, hingga B100 atau alias biosolar murni, serta variasi beban. Hasilnya, biosolar dapat digunakan secara baik pada kondisi-kondisi variasi tersebut.

"Bahkan sudah ada pengujian pada kendaraan bermotor bermesin diesel," kata Badrus dalam Focus Group Discussion bertajuk "Kesiapan Penggunaan Bahan Bakar B20 pada Industri Maritim" di Hotel Royal, Kuningan, Jakarta, Rabu (24/10/2018).



Dibanding solar, biosolar memang punya sejumlah keunggulan. Sebagai bahan bakar nonfosil, biosolar bisa diperbarui (renewable). B20 memiliki kandungan oksigen dan setana yang lebih tinggi ketimbang solar. Hal ini membuat proses pembakaran lebih sempurna sehingga lebih ramah lingkungan.

"Dari kajian kami terhadap proses pembakaran dan emisi yang diukur, biosolar memiliki sifat yang hampir sama dengan solar murni, tetapi emisi baik SOx, partikulat meter, HC, CO yang ditimbulkan lebih rendah," kata Badrus.

Meskipun begitu, untuk menuju penggunaan massal B20 pada industri maritime, diperlukan kesiapan dan antisipasi. Menurut hasil penelitian ITS, pembakaran biosolar menghasilkan NOx (salah satu hasil emisi) yang sedikit lebih tinggi dari solar. Titik panasnya yang rendah juga menyebabkan konsumsi B20 lebih besar dibandingkan solar untuk memperoleh daya atau tenaga yang sama.

"Jadi memang perlu ada pemantapan yang lebih mendalam, terutama berkenaan dengan dampak yang ditimbulkan, juga sisi keekonomian dari penggunaan B20 ini," katanya.

Dalam FGD tersebut juga terungkap bahwa karet dan filter pada mesin menjadi komponen paling membutuhkan perhatian dalam penggunaan B20. Konversi dari solar ke biosolar dapat menyebabkan terlepasnya endapan pada sistem bahan bakar sehingga menyumbat filter bahan bakar.

Karena itu, pada fase awal konversi, pergantian filter bahan bakar harus dilakukan lebih sering sampai sistem bahan bakar bener-benar bersih. "Setelah itu, jangka waktu penggantian filter bahan bakar bisa kembali normal," tutur Heru Hermawan, dari PT Caterpillar Indonesia.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak