Kinerja Manufaktur Indonesia Positif, Tepis Adanya Deindustrialisasi
Jum'at, 29 Maret 2024 - 05:53 WIB
loading...
A
A
A
Ada sejumlah upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah agar sektor industri di Indonesia terus semakin maju. Pertama, kualitas institusi dan lingkungan. Kualitas institusi biasanya diukur dari iklim investasi atau indeks kemudahan berusaha.
Kedua, environment dan sosial. Faktor sosial dilihat dari keberpihakan pemerintah terhadap rakyat, serta bagaimana pemerintah mengatasi ketimpangan kemiskinan. Ketiga yang paling penting yaitu, jumlah penduduk muda dan produktivitas.
"Produktivitas itu parameter ukurannya salah satunya dilihat dari cara menghasilkan barang yang rumit atau complexity index. Sayangnya, complexity index Indonesia masih jauh di bawah Malaysia, Thailand dan Vietnam. Artinya, kalau penduduknya banyak tapi tidak produktif ya repot," jelasnya. Baca juga: Stimulus USD278 Miliar Gagal Hidupkan Kembali Pertumbuhan Manufaktur China
Keempat, infrastruktur yang mampu menurunkan harga logistik. "Kalau infrastruktur tidak bagus, logistik mahal, investor juga tidak mau investasi manufaktur di Indonesia," tandasnya.
Kemenperin menargetkan produk domestik bruto (PDB) industri manufaktur pada 2024 bertumbuh 5,8%. Lebih tinggi dibandingkan proyeksi 2023 yang sebesar 4,81%.
Di sisi lain catatan safeguardglobal.com tahun lalu, Indonesia masuk dalam 10 besar penyumbang produk manufaktur dunia sekaligus satu-satunya negara ASEAN. Berdasarkan publikasi tersebut, Indonesia berkontribusi sebesar 1,4% kepada produk manufaktur global. Posisi prestisius ini merupakan kenaikan yang berarti, karena pada empat tahun yang lalu, Indonesia masih berada di posisi ke-16.
Kedua, environment dan sosial. Faktor sosial dilihat dari keberpihakan pemerintah terhadap rakyat, serta bagaimana pemerintah mengatasi ketimpangan kemiskinan. Ketiga yang paling penting yaitu, jumlah penduduk muda dan produktivitas.
"Produktivitas itu parameter ukurannya salah satunya dilihat dari cara menghasilkan barang yang rumit atau complexity index. Sayangnya, complexity index Indonesia masih jauh di bawah Malaysia, Thailand dan Vietnam. Artinya, kalau penduduknya banyak tapi tidak produktif ya repot," jelasnya. Baca juga: Stimulus USD278 Miliar Gagal Hidupkan Kembali Pertumbuhan Manufaktur China
Keempat, infrastruktur yang mampu menurunkan harga logistik. "Kalau infrastruktur tidak bagus, logistik mahal, investor juga tidak mau investasi manufaktur di Indonesia," tandasnya.
Kemenperin menargetkan produk domestik bruto (PDB) industri manufaktur pada 2024 bertumbuh 5,8%. Lebih tinggi dibandingkan proyeksi 2023 yang sebesar 4,81%.
Di sisi lain catatan safeguardglobal.com tahun lalu, Indonesia masuk dalam 10 besar penyumbang produk manufaktur dunia sekaligus satu-satunya negara ASEAN. Berdasarkan publikasi tersebut, Indonesia berkontribusi sebesar 1,4% kepada produk manufaktur global. Posisi prestisius ini merupakan kenaikan yang berarti, karena pada empat tahun yang lalu, Indonesia masih berada di posisi ke-16.
(poe)
Lihat Juga :