alexametrics

Krakatau Steel Waspadai Banjir Produk Baja Impor di Tanah Air

loading...
Krakatau Steel Waspadai Banjir Produk Baja Impor di Tanah Air
Krakatau Steel Waspadai Banjir Produk Baja Impor di Tanah Air
A+ A-
JAKARTA - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) mewaspadai membanjirnya produk-produk impor baja di Tanah Air. Hal ini disebabkan, lantaran terlalu mudahnya izin impor masuk terhadap produk baja asing. Tentunya hal itu memberatkan perusahaan dalam memproduksi baja.

“Belakangan ini industri baja sedang mengalami satu cobaan yang cukup besar dampaknya pada industri baja nasional. Itu karena aturan mudahnya impor baja, jadi kalau bisa kita terus meningkatkan produk baja dengan sinergi ini,” ujar Direktur Utama PT Krakatau Steel, Silmy Karim di Kementerian BUMN, Jakarta.

Lebih lanjut, terang dia persaingan impor baja sangat tidak sehat bagi industri baja dalam negeri. Sebab, bersaing membuat para perusahaan baja berlomba-lomba memberikan harga baja yang murah yang membuat nilainya terus menurun.



“Ini tidak sesuai standar, membuat perusahaan memproduksi baja dengan asal-asalan. Para perusahaan baja berlomba-lomba untuk menghasilkan baja lewat proses induction furnish. Kemudian juga ada satu karena persaingan, proses menjadi tidak diutamakan. Sekitar 30% penghasil baja long product itu adalah dari induction furnish. Kalau dibiarkan, maka yang paling dirugikan adalah konsumen," jelasnya.

Selain itu, Ia menambahkan harga baja seharusnya bisa kompetitif. Karena jika harga terlalu murah, maka perusahaan bakal mengabaikan aspek kualitas dari bajanya itu sendiri. "Saya juga mendapatkan masukan soal harga. Memang kualitas bagus harga lebih mahal. Tapi saya memperhatikan masukan tersebut. Dan kita mulai saat ini harga kita akan kompetitif dan bersaing soal harga. Tapi tentu kita enggak bisa menurunkan harga seperti produk-produk induction furnish," paparnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak