alexametrics

Kawasan Ekonomi Khusus Diminta Punya Teknologi Mitigasi Bencana

loading...
Kawasan Ekonomi Khusus Diminta Punya Teknologi Mitigasi Bencana
Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menyatakan bahwa pengelola KEK harus memiliki teknologi yang bisa memprediksi terjadinya bencana. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menyatakan bahwa pengelola KEK harus memiliki teknologi yang bisa memprediksi terjadinya bencana. Hal ini untuk mengantisipasi kerugian yang diakibatkan dari bencana tersebut.

Hal ini berkaca pada pengalaman KEK Tanjung Lesung yang rusak akibat diterjang tsunami di Selat Sunda beberapa waktu lalu. Selain itu, KEK Palu pun juga terdampak tsunami yang terjadi di wilayah tersebut belum lama ini.

"Indonesia ini kan ring of fire, jadi kalau misalnya tidak boleh ada investasi, itu berarti satu Indonesia tidak ada investasi, jadi yang harus disiapkan adalah mitigasinya," ujar Sekretaris Dewan Nasional KEK Eno Suharto Pranoto di Gedung Kemenko bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (27/12/2018).



Sejatinya, pemerintah sudah melengkapi kawasan tersebut dengan Standard Operational Procedur (SOP), sumber daya yang terlatih dan sadar bencana, jalur evakuasi, hingga tempat evakuasi di kawasan tersebut. Namun, untuk KEK Tanjung Lesung yang terlewat adalah sistem peringatan dini (early warning system) sebelum terjadi bencana.

"Tanjung Lesung sebenarnya sudah ada semua, cuma kan kemarin yang miss itu early warning system saja. Karena mungkin, saya tidak tahu sih, mungkin masih harus dikoordinasikan lagi dengan semua pihak. Ini kan bukan gempa, tapi karena aktivitas Gunung Anak Krakatau," imbuh dia.

Oleh sebab itu, kedepannya pengelola KEK diminta untuk memiliki teknologi yang bisa memprediksi bencana. "Iya, karena kami ke depannya akan meminta supaya mereka punya teknologi baru yang bisa prediksi bencana dan sebagainya," tandasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak