alexametrics

Prabowo-Sandi Janji Sederhanakan Rantai Distribusi Pangan

loading...
Prabowo-Sandi Janji Sederhanakan Rantai Distribusi Pangan
Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Rumitnya rantai distribusi komoditas pangan dinilai menjadi salah satu penyebab mahalnya harga di pasaran. Maka itu, pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berkomitmen untuk menyederhanakan rantai distribusi bahan pangan.

Selain menjaga stabilitas harga, komitmen Prabowo-Sandi itu juga untuk memastikan harga tetap terjangkau oleh masyarakat.

"Kami banyak mendengar cerita masyarakat yang mengeluh harga sembako mahal. Apa yang kami temui di 1.161 titik kunjungan. Itu nyata tetapi pemerintah selalu berlindung dengan angka-angka, mereka menyebut bahwa inflasi terjaga," ujar Tim Ekonomi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Arie Muftie dalam diskusi di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (13/2/2019).



Di samping itu, Prabowo-Sandi diyakini berkomitmen untuk tidak melakukan impor pangan, khususnya saat panen. Sebab, kata dia, maraknya impor pangan di era Jokowi menjadi salah satu penyebab nilai tukar petai menurun di banding era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Banyak petani yang justru tidak gembira saat jelang panen, mereka was-was, takut kalau harga komoditas yang mereka tanam tiba-tiba anjlok saat panen akibat impor," paparnya.

Dia melanjutkan, kebijakan menghentikan impor pangan itu juga untuk memberantas mafia pangan yang dianggap tumbuh subur sejak paska reformasi.

"Kami menilai masalah yang sedemikian kompleks di ekonomi ini bukan masalah sektoral, tapi masalah fundamental, masalah kepemimpinnan nasional. Jadi aneh, bahwa seorang presiden membiarkan meterinya melakukan impor gila-gilaan di saat petani sedang panen," pungkasnya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak