alexametrics

Indonesia Adopsi Standar Global dalam Program Pariwisata Berkelanjutan

loading...
Indonesia Adopsi Standar Global dalam Program Pariwisata Berkelanjutan
Peselancar menikmati ombak di Pantai Sorake, Pulau Nias. Pariwisata dalam beberapa tahun terakhir menjadi sektor andalan penyumbang devisa negara. Foto/SINDOphoto/Isra Triansyah
A+ A-
JAKARTA - Pariwisata dalam beberapa tahun terakhir menjadi sektor andalan penyumbang devisa negara. Tahun ini pemerintah Indonesia menargetkan 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dengan nilai devisa diproyeksikan mencapai USD17,6 miliar.

Di dunia, pariwisata menjadi salah satu industri dengan pertumbuhan tercepat dan merupakan sumber pendapatan utama bagi banyak negara. Data Barometer Pariwisata Dunia UNWTO terbaru mencatat kedatangan wisatawan internasional tumbuh 6% pada 2018, dengan jumlah 1,4 miliar. Perkembangan positif ini mendorong banyak negara untuk mentransformasi perekonomiannya menjadi berorientasi pada sektor pariwisata.

Sebagai sektor yang terus bertumbuh dengan pesat, pariwisata memiliki dampak berganda (multiplier effect) dan manfaatnya bisa dirasakan hingga ke lapisan bawah masyarakat. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, pariwisata juga dapat menimbulkan masalah, seperti dislokasi sosial, hilangnya warisan budaya, ketergantungan ekonomi, hingga degradasi ekologis.



Berkaca pada dampak pariwisata, kini banyak orang yang mulai menyadari pentingnya liburan atau wisata yang lebih bertanggung jawab. Maka, istilah pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism pun menjadi sangat populer. Mengutip dari situs UNESCO, pariwisata berkelanjutan didefinisikan sebagai “pariwisata yang menghormati masyarakat lokal dan para wisatawan, warisan budaya dan lingkungan”.

Pariwisata Indonesia pun kini tengah berbenah dengan menggencarkan pariwisata berkelanjutan. Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menerapkan program Sustainable Tourism for Development (STDev) yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Nomor 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan yang mengadopsi standar internasional dari Global Sustainable Tourism Council (GSTC).

Semua destinasi wisata di Indonesia pun didorong untuk tersertifikasi pariwisata berkelanjutan sebagai syarat untuk menjadi destinasi wisata kelas dunia. “Target Indonesia menjadi destinasi wisata berkelanjutan kelas dunia,” kata Arief Yahya.

Pariwisata berkelanjutan mempertimbangkan tiga aspek utama yaitu aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi baik untuk saat ini maupun pada masa depan. Singkatnya 3P + 1M, yaitu People, Planet, Prosperity, dan Management. Pendekatan "people" sebagai upaya pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung, sedangkan planet untuk pelestarian lingkungan.

Sementara itu "prosperity" sebagai pemanfaatan ekonomi untuk masyarakat lokal dan pendekatan manajemen sebagai tata kelola destinasi pariwisata berkelanjutan yang mengedepankan semboyan “Semakin Dilestarikan, Semakin Menyejahterakan”.

Sementara itu, kriteria GSTC berfungsi sebagai standar dasar global untuk keberlanjutan dalam pariwisata. Kriteria digunakan untuk pendidikan dan peningkatan kesadaran, pembuatan kebijakan untuk bisnis dan lembaga pemerintah dan jenis organisasi lainnya, pengukuran dan evaluasi, dan sebagai dasar untuk sertifikasi. Ini adalah hasil dari upaya di seluruh dunia untuk mengembangkan bahasa umum tentang keberlanjutan dalam pariwisata.

Untuk mengetahui proses dan progress dari program pariwisata berkelanjutan, Kemenpar bekerja sama dengan KORAN SINDO dan SINDOnews akan menyelenggarakan Round Table Discussion dengan tema “Sustainable Tourism”. Acara ini diselenggarakan di Auditorium Gedung SINDO, Jumat 22 Maret 2019, yang menghadirkan narasumber kunci Menpar Arief Yahya dan travel influencer Gemala Hanafiah. Diskusi ini juga bertujuan untuk menyosialisasikan capain dari kinerja Kemenpar.
(poe)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak