alexametrics

Produk Olahan IKM Garam Ibu Bijak Setara Garam Impor

loading...
Produk Olahan IKM Garam Ibu Bijak Setara Garam Impor
Aktivitas pekerja di Industri Kecil Menengah garam cap Ibu Bijak PT Garsindo Anugerah Sejahtera, di Gresik, Jumat (5/4/2019). Foto/SINDONews/Ali Masduki
A+ A-
GRESIK - Patut diacungi jempol. Ditengah mencuatnya isu garam impor akibat kurang bagusnya kualitas garam dalam negeri, ternyata kualitas produk olahan Industri Kecil Menengah (IKM) garam cap Ibu Bijak PT Garsindo Anugerah Sejahtera di Gresik, Jawa Timur, mampu menyamai garam impor.

Bahkan produk yang memanfaatkan bahan dari petani lokal ini mampu menembus industri besar seperti pabrik biskuit, pabrik mie, pabrik kecap dan pabrik pengalengan jamu. Tercatat, dari total hasil produksi sebanyak 100 ton per hari, 30% memenuhi kebutuhan garam industri besar.

Direktur Utama PT PT Garsindo Anugrah Sejahtera, Yohannes Sugiarto, menuturkan perusahaannya selalu menjaga kualitas produksi. Terbukti Garam Ibu Bijak sudah tersertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), Badan Pengawas Obat dan Makanan, serta ISO keamanan pangan.



"Bahan garam saya beli dari petani di Sumenep, saya tidak pernah impor," kata Yohannes kepada SINDOnews di PT Garsindo Anugerah Sejahtera, di Gresik, Jumat (5/4/2019). "Garam kami jika di tes tidak pernah ketemu kadarnya dibawah yodium, semua selalu bagus," sambungnya.

Kedepan, produk IKM ini rencananya akan diekspor ke Korea Selatan dan Eropa. Menurut Yohannes, orang Korea dan Eropa suka dengan garam lokal Indonesia. "Tahun ini sekitar tiga bulan lagi terealisasi. Saat ini, kami sedang branding merek serta mengurus izin-izinnya yang penting," ucapnya.

Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Hamka Latief, menilai Garam Ibu Bijak milik PT Garsindo Anugerah Sejahtera layak dijadikan sebagai percontohan nasional. Garam ini dinilai memiliki kualitas tinggi hingga 'mirip' garam impor.

"Kualitasnya sudah sangat bagus, sudah mirip garam impor. Ini bagus lembut dan putih," katanya saat melakukan kunjungan bersama peserta rakor garam nasional Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman di pabrik yang berada di Gresik, Jawa Timur.

Dalam tinjauan lapangan, tim Kementerian sangat puas dengan kinerja yang ditunjukkan PT Garsindo. Mereka seolah tidak percaya dengan hasil produksi garam ini, padahal garam ini merupakan garam lokal yang hanya diolah dengan teknologi mesin secara modern.

Hamka mengatakan, pihaknya sengaja mengajak peserta rakor garam nasional mendatangi PT Garsindo. Sebab, informasi yang diterima tidak ada IKM di Jawa Timur mampu memproduksi garam dengan kualitas baik. Namun, PT Garsindo mampu membuat terobosan menjadikan garam lokal sebagai produksi garam beryodium.

Apalagi, kata dia, Garsindo sudah memiliki ISO 22000 serta standar SNI dalam pengecekan yodium. Untuk itu, semua produksi garam ini layak untuk dijadikan contoh bagi peserta rakor garam supaya mereka bisa memproduksi minimal sama dengan Garsindo atau lebih baik. "Banyak rekomendasi ke Garsindo, sekelas IKM yang bagus kan tidak ada selain ini (Garsindo)," ungkap Hamka.

Hamka menegaskan, di Jawa Timur, IKM-IKM produsen garam yang bisa berkembang tidak banyak, hanya IKM PT Garsindo yang memproduksi Garam Ibu Bijak. Hal ini berbeda dengan IKM yang berada di Pati Jawa Tengah, jumlahnya bisa mencapai 140 IKM.

"Menurut pandangan kita secara fisik proses yang ada di Garam Ibu Bijak (PT Garsindo) bagus, apalagi kadarnya 0,5%," papar dia.

Meski demikian, Hamka menegaskan kalau garam yang ada di Indonesia masih kalah kualitasnya dibandingkan garam impor. Untuk itu, prosentasi impor masih cukup besar di Indonesia mencapai 2 juta ton untuk tahun 2019. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan impor tahun 2018 yang mencapai 2,5 juta ton.

"Saya berharap impor akan terus berkurang. Kita inikan termasuk negara dengan garis pantai terpanjang, masak impor garam terus," pungkasnya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak