alexametrics

Kementan Pacu Pengembangan Sentra Sayuran Organik di Karanganyar

loading...
Kementan Pacu Pengembangan Sentra Sayuran Organik di Karanganyar
Kementan mendorong pengembangan budidaya sayuran organik di Karanganyar, Jawa Tnegah. Foto/Ist
A+ A-
JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) terus memacu peningkatan produksi komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi. Salah satunya tanaman sayuran yang memiliki potensi pasar supermarket bahkan ekspor.

Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi mengatakan, Indonesia sangat kaya akan komoditas tanaman sayuran dan budidayanya tersebar di berbagai daerah. Salah satunya yang tengah dikembangkan adalah di Desa Nglebak, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

"Daerah ini menjadi sentra tanaman sayuran organik dengan berbagai jenis tanaman pakcoy, seledri, kacang capri, cabai, wortel, bawang daun dan lainnya, di samping sayuran biasa," kata Suwandi dalam keterangan tertulis, Minggu (21/4/2019).



Suwandi menyebutkan Kementan hingga saat ini terus mendorong sentra-sentra tanaman sayuran sejenis di daerah lain agar produksi dan volume ekspor semakin meningkat. Tanaman sayuran tumbuh subur di dataran tinggi, seperti di Brastagi, Solok, Kerinci, Puncak, Lembang, Pangalengan, Ciwidey, Magelang, Sleman, Wonosobo, Tawangmangu, Batu Malang, Enrekang, Modoinding dan lainnya.

"Kita targetkan dan dorong sayuran berkualitas, sayuran organik, ramah lingkungan dan menyehatkan, hingga masuk supermarket dan bahkan ekspor agar pendapatan petani dan negara meningkat," ujarnya.

Menurut Hartono, petani sayuran organik Desa Nglebak, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, sayuran organik dihargai lebih mahal. Misalnya, papar dia, seledri dalam ikat seberat 2 ons, harga 5 ikat setara Rp27.500 per kg, pakcoy seharga Rp15.000 per kg dan kacang kapri Rp50.000 per kg. Di sisi lain, biaya produksi organik lebih efisien karena tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimiawi.

"Sayur organik ini sudah sarana pasca panen dan packing-nya, rutin masuk swalayan atau supermarket, sedangkan sayuran nonorganik masuk pasar biasa tradisional," tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar Supramnaryo menuturkan, kawasan pertanian di Tawangmangu ini tidak hanya menjadi sentra budidaya sayur-sayuran, tetapi juga sentra tanaman hias seperti krisan, anggrek, antorium, bonsai dan 130 jenis tanaman hias lainnya yang melibatkan 850 pedagang memasok ke seluruh Indonesia.

"Desa Nglebak sentra sayuran organik sedangkan Desa Nglurah dinobatkan sebagai desa wisata tanaman hias di Tawangmangu," jelasnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak