alexametrics

Yuan China Terkapar Karena Perang Tarif, Level Terlemah Sejak Desember

loading...
Yuan China Terkapar Karena Perang Tarif, Level Terlemah Sejak Desember
Yuan China melemah melawan dolar AS akibat perang tarif. Foto/South China Morning Post
A+ A-
TORONTO - Meningkatnya perang tarif antara Amerika Serikat dan China tidak hanya menjungkalkan pasar saham AS (Wall Street) juga nilai tukar mata uang China, yuan terhadap dolar AS.

Melansir dari Reuters, Selasa (14/5/2019), kurs yuan terhadap USD jatuh ke level 6,92, merupakan yang terendah sejak 24 Desember 2018. China diperkirakan bakal melakukan intervensi untuk menghentikan penurunan tidak sampai level psikologis 7 yuan per USD.

Yuan jatuh setelah Kementerian Keuangan China mengumumkan rencana kenaikan tarif terhadap barang-barang AS senilai USD60 miliar, dari semula 10% menjadi 25% pada 1 Juni mendatang. Hal ini untuk membalas kenaikan tarif barang-barang China senilai USD200 miliar oleh Abang Sam.



Presiden AS, Donald Trump, mengatakan kenaikan tarif karena Beijing "melanggar kesepakatan", mengingkari komitmen yang telah dibuat selama negosiasi berbulan-bulan. Sementara, China berdalih bahwa pihaknya tidak akan menerima begitu saja syarat dari AS yang bisa merusak kepentingannya.

"Perang tarif ini membuat investor memilih mata uang safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss," ujar Bipan Rai, kepala strategi valuta asing di CIBC Capital Markets di Toronto, Kanada.

Akibat perang tarif ini, yuan China pun mengalami kerugian terhadap euro. Euro juga mendapat keuntungan terhadap USD karena memperoleh surplus neraca pembayaran saat perang dagang.

Selain memanasnya perang tarif AS-China, investor juga khawatir dengan langkah Trump yang akan mengenakan kenaikan tarif pada impor mobil dan suku cadang dari Uni Eropa dan Jepang.

Sebelumnya, Trump menerima laporan investigasi "Section 232" pada Februari lalu, dimana disimpulkan impor suku cadang mobil dan mobil dari Uni Eropa dan Jepang berisiko bagi keamanan nasional. Masa pembahasan 90 hari tersebut akan berakhir pada 18 Mei mendatang.

Investor berharap pemerintahan Trump memperpanjang tenggat waktu tersebut. "Jika terjadi, maka pasar akan kembali mendapatkan pukulan," kata Rai.

Adapun poundsterling Inggris tergelincir ke level terendah dalam dua minggu ditengah kekhawatiran parlemen Inggris akan gagal mencapai kesepakatan soal Brexit. Sebanyak 150 anggota parlemen Inggris menolak perjanjian kesepakatan Brexit.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak