Pertamina Hulu Energi Perkuat Produksi Agar Lifting Tak Lagi Kering
Senin, 24 Agustus 2020 - 10:14 WIB
loading...
A
A
A
Merespons penurunan produksi minyak yang selalu terjadi setiap tahun, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) sebenarnya sudah berupaya melakukan sejumlah langkah.
Mulai dari membuka data dan promosi open area, menjaga keekonomian wilayah kerja, efisiensi biaya, dan memaksimalkan one door service policy untuk mempercepat perizinan. SKK Migas juga meluncurkan program menuju produksi minyak satu juta barel yang ditargetkan pada 2030. (Baca juga: Tembus Rp200 Triliun, Penerimaan Cukai Rokok RI Terbesar se-Asia Tenggara)
Yang terkini, SKK Migas kembali memperbolehkan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk memilih opsi cost recovery, setelah sebelumnya sempat mewajibkan skema gross split alias bagi hasil.
Kembali ke persoalan tren penurunan lifting pada APBN, hal itu bisa jadi merupakan respons atas produksi minyak nasional yang juga terus berkurang dalam beberapa dekade terakhir. Penyebabnya, antara lain sumur-sumur produksi yang sudah berumur tua sehinga tak lagi produktif serta minimnya temuan cadangan baru dalam jumlah besar.
Kondisi ini mau tidak mau membuat KKKS berjuang untuk paling tidak mengurangi laju penurunan produksi dengan mengoptimalkan sumur-sumur yang ada. Beberapa strategi yang dipilih antara lain melakukan work over atau well services untuk menjaga produksi.
Kegiatan-kegiatan tersebut tetap dilakukan kendati dalam kedaaan pandemi Covid-19, dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. “Memang ada kendala di lapangan tapi tidak menghalangi untuk terus berproduksi. Kita juga bekerja sama dengan semua pihak agar di lapangan berjalan baik,” ujar CEO Pertamina Hulu Energi Budiman Parhusip saat koferensi pers virtual di Jakarta, Sabtu (15/08/2020).
Mulai dari membuka data dan promosi open area, menjaga keekonomian wilayah kerja, efisiensi biaya, dan memaksimalkan one door service policy untuk mempercepat perizinan. SKK Migas juga meluncurkan program menuju produksi minyak satu juta barel yang ditargetkan pada 2030. (Baca juga: Tembus Rp200 Triliun, Penerimaan Cukai Rokok RI Terbesar se-Asia Tenggara)
Yang terkini, SKK Migas kembali memperbolehkan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk memilih opsi cost recovery, setelah sebelumnya sempat mewajibkan skema gross split alias bagi hasil.
Kembali ke persoalan tren penurunan lifting pada APBN, hal itu bisa jadi merupakan respons atas produksi minyak nasional yang juga terus berkurang dalam beberapa dekade terakhir. Penyebabnya, antara lain sumur-sumur produksi yang sudah berumur tua sehinga tak lagi produktif serta minimnya temuan cadangan baru dalam jumlah besar.
Kondisi ini mau tidak mau membuat KKKS berjuang untuk paling tidak mengurangi laju penurunan produksi dengan mengoptimalkan sumur-sumur yang ada. Beberapa strategi yang dipilih antara lain melakukan work over atau well services untuk menjaga produksi.
Kegiatan-kegiatan tersebut tetap dilakukan kendati dalam kedaaan pandemi Covid-19, dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. “Memang ada kendala di lapangan tapi tidak menghalangi untuk terus berproduksi. Kita juga bekerja sama dengan semua pihak agar di lapangan berjalan baik,” ujar CEO Pertamina Hulu Energi Budiman Parhusip saat koferensi pers virtual di Jakarta, Sabtu (15/08/2020).
Lihat Juga :