Malaysia Gabung BRICS, RI harus Ikut? Ini Kata Ekonom
Rabu, 31 Juli 2024 - 15:42 WIB
loading...
A
A
A
"BRICS ini kan kumpulan negara yang tengah mencoba untuk established di perekonomian global. Posisinya pun cenderung oposisi dengan negara-negara maju semisal Rusia, Tiongkok," tutur Piter.
Senada dengan Piter, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan Indonesia belum urgen bergabung ke BRICS karena beberapa alasan. Pertama, hubungan dagang dan investasi Indonesia dengan China sudah sangat erat.
Menurutnya, saat ini yang dibutuhkan Indonesia justru mempererat hubungan dagang dan investasi dengan negara maju.
"Tanpa bergabung ke BRICS, Indonesia tetap akan dilirik sebagai mitra strategis ekonomi politik China. Jadi OECD lebih cocok dibanding BRICS," kata Bhima
Kedua, sudah banyak perjanjian kerjasama dagang dan keuangan antara Indonesia dan China. Contohnya saja, Asean-China Free Trade Agreement, kemudian di bidang keuangan ada Local Currency Settlement antara yuan dan rupiah.
Ketiga, Indonesia sudah menjadi negara tertinggi penerima pinjaman Belt and Road Initiative terutama di era Jokowi, misalnya untuk proyek kereta cepat jakarta-bandung dan berbagai proyek hilirisasi nikel.
"terakhir, secara geopolitik bergabungnya Indonesia ke BRICS mempersulit posisi dalam keseimbangan pengaruh dengan negara barat. Padahal politik Indonesia bebas aktif," terangnya
Senada dengan Piter, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan Indonesia belum urgen bergabung ke BRICS karena beberapa alasan. Pertama, hubungan dagang dan investasi Indonesia dengan China sudah sangat erat.
Menurutnya, saat ini yang dibutuhkan Indonesia justru mempererat hubungan dagang dan investasi dengan negara maju.
"Tanpa bergabung ke BRICS, Indonesia tetap akan dilirik sebagai mitra strategis ekonomi politik China. Jadi OECD lebih cocok dibanding BRICS," kata Bhima
Kedua, sudah banyak perjanjian kerjasama dagang dan keuangan antara Indonesia dan China. Contohnya saja, Asean-China Free Trade Agreement, kemudian di bidang keuangan ada Local Currency Settlement antara yuan dan rupiah.
Ketiga, Indonesia sudah menjadi negara tertinggi penerima pinjaman Belt and Road Initiative terutama di era Jokowi, misalnya untuk proyek kereta cepat jakarta-bandung dan berbagai proyek hilirisasi nikel.
"terakhir, secara geopolitik bergabungnya Indonesia ke BRICS mempersulit posisi dalam keseimbangan pengaruh dengan negara barat. Padahal politik Indonesia bebas aktif," terangnya
(fch)
Lihat Juga :