alexametrics

2.500 Toko dan 82 Mal Terdampak Black Out, Ritel Modern Rugi Rp200 Miliar

loading...
2.500 Toko dan 82 Mal Terdampak Black Out, Ritel Modern Rugi Rp200 Miliar
Potensi kerugian material anggota Aprindo akibat black out ditaksir total lebih dari Rp200 miliar pada 82 pusat perbelanjaan dan 2.500 lebih toko ritel modern swa kelola (stand alone) di Jakarta. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyayangkan pemadaman listrik (black out) yang terjadi di Jabodetabek kemarin, Minggu (4/8). Potensi kerugian material anggota Aprindo akibat black out ditaksir total lebih dari Rp200 miliar pada 82 pusat perbelanjaan dan 2.500 lebih toko ritel modern swa kelola (stand alone) di Jakarta.

PLN dinilai sudah seyogyanya memberi pengumuman terlebih dahulu kepada pelaku usaha agar bisa mempersiapkan cara tetap memberi pelayanan maksimal kepada konsumen dan masyarakat pun tetap bisa mendapat haknya sebagai konsumen. Kenyamanan masyarakat juga terganggu karena fasilitas yang seharusnya mereka dapatkan tidak bisa berfungsi normal, seperti jaringan pembayaran elektronik, kualitas produk yang bisa menurun, dan sebagainya.

Terutama di hari Minggu dimana banyak masyarakat justru menghabiskan waktu luangnya di gerai ritel modern atau pusat perbelanjaan. “Potensi kehilangan penjualan terlihat betul, karena masyarakat akhirnya enggan atau membatalkan keinginan berbelanja nya,” ujar Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey di Jakarta, Senin (5/8/2019).



Biaya operasional juga ikut membengkak, karena beberapa gerai menggunakan genset diesel agar bisa tetap buka melayani masyarakat. “Demi kenyamanan konsumen, kami menggunakan genset diesel berbahan bakar solar yang tentu berimbas pada naiknya biaya operasional, dan itu seharusnya tidak perlu kami keluarkan” lanjutnya.

Roy mengatakan bahwa PLN sebagai satu-satunya perusahaan yang mensuplai listrik seharusnya bisa bertindak lebih cepat dan tanggap apabila ada gangguan gardu listrik, seperti yang diberitakan. Karena pemadaman listrik yang berlangsung lama dan mencakup area yang cukup luas berdampak pada pelaku usaha dan masyarakat sebagai pelanggan PLN.

“Kami setuju bahwa seharusnya PLN mempunyai sistem mumpuni untuk mengantisipasi masalah semacam ini, back up plan yang reaktif terhadap gangguan dan contigency plan yang terencana” terangnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak