Soal Harga Barang, Peritel Ingin Tampil di Depan
Jum'at, 05 Maret 2021 - 16:08 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menuturkan fakta bahwa faktor inti kesuksesan perdagangan eceran pada ritel modern adalah distribusi barang, dengan proses distribusi yang terdiri atas 'arkestra', yakni hulu, antara, dan hilir.
Dia menegaskan bahwa selama ini ritel modern senantiasa mengutama(kan kepuasan pelanggan. Upayanya adalah menjamin agar produk tidak kadaluwarsa dan sesuai standar regulasi, peduli pada kelestarian lingkungan, selalu menyediakan produk yang berkualitas san sehat, dan mendukung produksi dalam negeri. ( Baca juga:Kabar Gembira! Calon Pengantin Bakal Dapat BLT Rp3,5 Juta )
"Situasinya sekarang, harga masih fluktuatif karena ada isu produksi dan impor. Juga ada disparitas harga akibat isu logistik dan transportasi," ujar Roy dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan secara virtual di Jakarta, Jumat(5/3/2021).
Selain itu, masih ada beberapa masalah lain yang menjadi tantangan seperti predatory price, serta ketidakseimbangan stok dan data yang tidak akurat dari para stakeholders.
"Objektif yang ingin kami capai, di antaranya adalah peritel tidak melakukan fungsi produksi bahan pokok (bapok) terkecuali private label," ungkap Roy.
Dia menegaskan bahwa selama ini ritel modern senantiasa mengutama(kan kepuasan pelanggan. Upayanya adalah menjamin agar produk tidak kadaluwarsa dan sesuai standar regulasi, peduli pada kelestarian lingkungan, selalu menyediakan produk yang berkualitas san sehat, dan mendukung produksi dalam negeri. ( Baca juga:Kabar Gembira! Calon Pengantin Bakal Dapat BLT Rp3,5 Juta )
"Situasinya sekarang, harga masih fluktuatif karena ada isu produksi dan impor. Juga ada disparitas harga akibat isu logistik dan transportasi," ujar Roy dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan secara virtual di Jakarta, Jumat(5/3/2021).
Selain itu, masih ada beberapa masalah lain yang menjadi tantangan seperti predatory price, serta ketidakseimbangan stok dan data yang tidak akurat dari para stakeholders.
"Objektif yang ingin kami capai, di antaranya adalah peritel tidak melakukan fungsi produksi bahan pokok (bapok) terkecuali private label," ungkap Roy.
Lihat Juga :