Pertamina Tekor Rp11 T, Pengamat: Exxon Dkk Juga Rugi Kok
Selasa, 25 Agustus 2020 - 20:42 WIB
loading...
A
A
A
Hal yang sama menurut Mamit juga terjadi pada perusahaan minyak asal Inggis, BP. Berdasarkan laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan itu, sepanjang semester I/2020, BP mengalami kerugian sebesar USD6,7 miliar (sekitar Rp97 triliun). Kinerja tersebut berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu dimana BP membukukan keuntungan USD2,8 miliar.
"Sama. Penyebab ruginya BP adalah lemahnya harga minyak dan gas dunia, margin yang rendah dari produk kilang, pemangkasan produksi minyak dan gas, serta rendahnya permintaan untuk bahan bakar dan juga pelumas," ujar Mamit.
Chevron, raksasa migas lain yang juga berbasis di AS, dalam laporan keuangannya di semester I/2020 mencatatkan kerugian sebesar USD8,3 miliar atau sekitar Rp120 triliun, dengan saham yang terdilusi sebesar USD4,44 per lembarnya. Dalam laporannya, kata Mamit, CEO Chevron Michel K Wirth menuding pandemi Covid-19 berdampak pada melemahnya harga produk dan juga permintaan.
"Jadi kerugian Pertamina Rp11,33 triliun itu terbilang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan perusahaan migas dunia yang lain. Pandemi Covid-19 ini bisa dikatakan kondisi force majeure dimana tidak ada satupun pihak yang siap dengan dampaknya," cetus Mamit.
Dia menilai, Pertamina dengan kondisi saat ini mengalami tekanan yang luar biasa. Menurutnya ada beberapa poin yang menyebabkan beban keuangan Pertamina bertambah. Pertama, turunnya pendapatan dan penjualan yang mencapai 20%. Penurunan ini, mengoreksi pendapatan Pertamina dari USD25,5 miliar pada semester I/2019 hanya menjadi USD20,4 miliar di 2020.
"Sama. Penyebab ruginya BP adalah lemahnya harga minyak dan gas dunia, margin yang rendah dari produk kilang, pemangkasan produksi minyak dan gas, serta rendahnya permintaan untuk bahan bakar dan juga pelumas," ujar Mamit.
Chevron, raksasa migas lain yang juga berbasis di AS, dalam laporan keuangannya di semester I/2020 mencatatkan kerugian sebesar USD8,3 miliar atau sekitar Rp120 triliun, dengan saham yang terdilusi sebesar USD4,44 per lembarnya. Dalam laporannya, kata Mamit, CEO Chevron Michel K Wirth menuding pandemi Covid-19 berdampak pada melemahnya harga produk dan juga permintaan.
"Jadi kerugian Pertamina Rp11,33 triliun itu terbilang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan perusahaan migas dunia yang lain. Pandemi Covid-19 ini bisa dikatakan kondisi force majeure dimana tidak ada satupun pihak yang siap dengan dampaknya," cetus Mamit.
Dia menilai, Pertamina dengan kondisi saat ini mengalami tekanan yang luar biasa. Menurutnya ada beberapa poin yang menyebabkan beban keuangan Pertamina bertambah. Pertama, turunnya pendapatan dan penjualan yang mencapai 20%. Penurunan ini, mengoreksi pendapatan Pertamina dari USD25,5 miliar pada semester I/2019 hanya menjadi USD20,4 miliar di 2020.
Lihat Juga :