Masa Depan Berkelanjutan, IBC Mengajak Kolaborasi Pengembangan Industri Baterai Regional ASEAN
Minggu, 25 Agustus 2024 - 20:38 WIB
loading...
Direktur Hubungan Kelembagaan Indonesia Battery Corporation (IBC), Reynaldi Istanto menyatakan, bahwa potensi bahan baku komponen pembentuk baterai adalah potensi regional yang dapat dikembangkan bersama melalui kolaborasi yang secara signifikan. Foto/Do
A
A
A
SINGAPURA - Penggunaan kendaraan listrik (EV) terus mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini tentunya selaras dengan peningkatan produksi baterai EV yang diproyeksikan mencapai 8,8 ribu GWh pada tahun 2040 atau meningkat sebesar +19% dari 2040-2030 dan +7% dari 2030 – 2040.
Tren ini menyebabkan adanya hal–hal yang harus diperhatikan seperti diantaranya adalah pengamanan pasokan bahan baku sebagai komponen pembentuk baterai.Sehubungan dengan ketersediaan bahan baku sebagai komponen pembentuk baterai, negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, memiliki posisi yang kuat dalam hal potensi bahan baku sebagai komponen pembentuk baterai seperti nikel, bauksit dan timah.
Baca Juga: Australia Akhirnya Bergabung dalam Ekosistem EV Battery Indonesia
Direktur Hubungan Kelembagaan Indonesia Battery Corporation (IBC) , Reynaldi Istanto menyatakan, bahwa potensi ini adalah potensi regional yang dapat dikembangkan bersama melalui kolaborasi yang secara signifikan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan inovasi teknologi, serta berkontribusi pada transisi global menuju solusi energi yang berkelanjutan.
Sehingga, terdapat fokus keberlanjutan yang perlu diperhatikan untuk mendukung implementasi kerjasama regional dimaksud yaitu: 1. Bidang Industri yang berfokus pada pengembangan berdasarkan potensi terkuat ASEAN yaitu bahan baterai berbasis nikel, 2. Bidang rantai pasokan yang berfokus pada pengembangan hilirisasi bahan baku dan produksi bersama bahan baterai lainnya, 3. Bidang bisnis yang berfokus pada pengembangan industri baterai terintegrasi mulai dari penambangan, peleburan/pemurnian, PCAM, baterai, hingga fasilitas manufaktur EV.
Baca Juga: BKI dan IBC Kolaborasi Kembangkan Ekosistem Kendaraan Listrik
Sejalan dengan hal tersebut, Indonesia memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan proses produksi industri baterai yang terintegrasi, dari hulu ke hilir, untuk nikel dan pengolahan material baterai penting lainnya.
Tren ini menyebabkan adanya hal–hal yang harus diperhatikan seperti diantaranya adalah pengamanan pasokan bahan baku sebagai komponen pembentuk baterai.Sehubungan dengan ketersediaan bahan baku sebagai komponen pembentuk baterai, negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, memiliki posisi yang kuat dalam hal potensi bahan baku sebagai komponen pembentuk baterai seperti nikel, bauksit dan timah.
Baca Juga: Australia Akhirnya Bergabung dalam Ekosistem EV Battery Indonesia
Direktur Hubungan Kelembagaan Indonesia Battery Corporation (IBC) , Reynaldi Istanto menyatakan, bahwa potensi ini adalah potensi regional yang dapat dikembangkan bersama melalui kolaborasi yang secara signifikan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan inovasi teknologi, serta berkontribusi pada transisi global menuju solusi energi yang berkelanjutan.
Sehingga, terdapat fokus keberlanjutan yang perlu diperhatikan untuk mendukung implementasi kerjasama regional dimaksud yaitu: 1. Bidang Industri yang berfokus pada pengembangan berdasarkan potensi terkuat ASEAN yaitu bahan baterai berbasis nikel, 2. Bidang rantai pasokan yang berfokus pada pengembangan hilirisasi bahan baku dan produksi bersama bahan baterai lainnya, 3. Bidang bisnis yang berfokus pada pengembangan industri baterai terintegrasi mulai dari penambangan, peleburan/pemurnian, PCAM, baterai, hingga fasilitas manufaktur EV.
Baca Juga: BKI dan IBC Kolaborasi Kembangkan Ekosistem Kendaraan Listrik
Sejalan dengan hal tersebut, Indonesia memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan proses produksi industri baterai yang terintegrasi, dari hulu ke hilir, untuk nikel dan pengolahan material baterai penting lainnya.
Lihat Juga :