Memperkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi Rakyat Melalui Perikanan Tangkap dan Budidaya
Jum'at, 30 Agustus 2024 - 23:08 WIB
loading...
A
A
A
“Sekarang panen sudah tiga kuintal per siklus per kolam. Jadi per kolam bisa menghasilkan sembilan kuintal per tahun, bahkan ada yang mencapai 1,2 ton,” paparnya. Dengan jumlah kolam budidaya mencapai 100 kolam, volume ikan Nila yang dihasilkan mencapai 90 ton per tahun.
Dengan harga jual di kawasan itu yang mencapai Rp33.000 per kilogram, omzet budidaya ikan Nila di desa Kawali mencapai Rp2,97 miliar per tahun. “Memang sejak ada SFV, kesejahteraan masyarakat meningkat tajam,” lanjutnya. Saat ini, permintaan pasar dunia terhadap ikan nila diperkirakan menembus USD14,4 miliar atau sekitar Rp230 triliun.
Perkuat Kolaborasi dan Sinergi
Untuk memaksimalkan potensi sektor perikanan yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, pemerintah melalui KKP didorong untuk menerbitkan regulasi yang memungkinkan para nelayan tradisional untuk bisa berkolaborasi dengan perusahaan pengolahan ikan modern. “Dengan adanya regulasi itu, maka para nelayan bisa memiliki akses yang luas,” tegas pakar maritim Dr Marcellus Jayawibawa.
Menurut dia, sektor perikanan memang menjadi salah satu penyokong dalam pecapaian ketahan pangan. Terlebih di kawasan Indonesia timur, jumlah sumber daya ikan sangat melimpah. Di kawasan Sorong misalnya, dengan perairan laut yang sangat luas sebagai perairan penyangga, sumber daya perikanan dan kelautan berlimpah ruah. Namun pemanfaatannya belum optimal. Hal ini menunjukkan bahwa sumberdaya perikanan dan kelautan masih sangat memungkinkan untuk dikelola secara rasional dan profesional dengan memperhatikan kelestariannya.
Setali tiga uang, Direktur The NationalMaritime Institute(Namarin), Siswanto Rusdi menilai, regulasi yang mendukung keleluasaan para nelayan tradisional dibutuhkan untuk mengakselerasi pencapaian ketahan pangan melalui sektor perikanan dan kelautan.
baca juga: Upaya Mendorong UMKM Produk Perikanan Naik Kelas
“Sejauh ini, regulasi yang diterbitkan KKP termasuk memerangiillegal fishing berdampak positif bagi ekosistem perikanan dan kelautan. Ke depan, regulasi baru perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Siswanto pun mengapresiasi kinerja KKP dalam upaya mencapai ketahanan pangan melalui sektor perikanan dan kelautan. “Kinerjanya terus positif untuk mencapai ketahanan pangan,” paparnya.
Sektor perikanan sendiri menunjukkan kinerja positif di sepanjang semester I tahun 2024. Mengutip catatan KKP, kinerja baik tersebut di antaranya disokong meningkatnya produksi perikanan budidaya, kinerja ekspor, realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP), hingga penyerapan kredit usaha rakyat (KUR).
Pada semester I 2024 ekspor hasil perikanan mencapai USD2,71 miliar. Sedangkan nilai impor perikanan mencapai USD0,22 miliar. Dengan demikian neraca perdagangan mengalami surplus sebesar USD2,49 miliar. Rasio ekspor ikan dan hasil perikanan yang diterima oleh negara tujuan ekspor 99,9%.
Produksi perikanan dari Januari sampai Juni tahun ini tercatat sebesar 11,8 juta ton yang sebagian besar ditopang oleh hasil budidaya. Peningkatan ini salah satunya karena produktivitas modeling budidaya berbasis kawasan yang telah dikembangkan KKPdi Karawang, Kebumen, dan Wakatobi untuk komoditas nila salin, udang, dan rumput laut.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Hasanuddin Makassar (29/8/2024), menegaskan pentingnya implementasi program ekonomi biru untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perikanan dan ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, mahasiswa, akademisi, dan perguruan tinggi mempunyai peranan penting dalam mengimplementasikan kebijakan Ekonomi Biru di sektor kelautan dan perikanan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dengan harga jual di kawasan itu yang mencapai Rp33.000 per kilogram, omzet budidaya ikan Nila di desa Kawali mencapai Rp2,97 miliar per tahun. “Memang sejak ada SFV, kesejahteraan masyarakat meningkat tajam,” lanjutnya. Saat ini, permintaan pasar dunia terhadap ikan nila diperkirakan menembus USD14,4 miliar atau sekitar Rp230 triliun.
Perkuat Kolaborasi dan Sinergi
Untuk memaksimalkan potensi sektor perikanan yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, pemerintah melalui KKP didorong untuk menerbitkan regulasi yang memungkinkan para nelayan tradisional untuk bisa berkolaborasi dengan perusahaan pengolahan ikan modern. “Dengan adanya regulasi itu, maka para nelayan bisa memiliki akses yang luas,” tegas pakar maritim Dr Marcellus Jayawibawa.
Menurut dia, sektor perikanan memang menjadi salah satu penyokong dalam pecapaian ketahan pangan. Terlebih di kawasan Indonesia timur, jumlah sumber daya ikan sangat melimpah. Di kawasan Sorong misalnya, dengan perairan laut yang sangat luas sebagai perairan penyangga, sumber daya perikanan dan kelautan berlimpah ruah. Namun pemanfaatannya belum optimal. Hal ini menunjukkan bahwa sumberdaya perikanan dan kelautan masih sangat memungkinkan untuk dikelola secara rasional dan profesional dengan memperhatikan kelestariannya.
Setali tiga uang, Direktur The NationalMaritime Institute(Namarin), Siswanto Rusdi menilai, regulasi yang mendukung keleluasaan para nelayan tradisional dibutuhkan untuk mengakselerasi pencapaian ketahan pangan melalui sektor perikanan dan kelautan.
baca juga: Upaya Mendorong UMKM Produk Perikanan Naik Kelas
“Sejauh ini, regulasi yang diterbitkan KKP termasuk memerangiillegal fishing berdampak positif bagi ekosistem perikanan dan kelautan. Ke depan, regulasi baru perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Siswanto pun mengapresiasi kinerja KKP dalam upaya mencapai ketahanan pangan melalui sektor perikanan dan kelautan. “Kinerjanya terus positif untuk mencapai ketahanan pangan,” paparnya.
Sektor perikanan sendiri menunjukkan kinerja positif di sepanjang semester I tahun 2024. Mengutip catatan KKP, kinerja baik tersebut di antaranya disokong meningkatnya produksi perikanan budidaya, kinerja ekspor, realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP), hingga penyerapan kredit usaha rakyat (KUR).
Pada semester I 2024 ekspor hasil perikanan mencapai USD2,71 miliar. Sedangkan nilai impor perikanan mencapai USD0,22 miliar. Dengan demikian neraca perdagangan mengalami surplus sebesar USD2,49 miliar. Rasio ekspor ikan dan hasil perikanan yang diterima oleh negara tujuan ekspor 99,9%.
Produksi perikanan dari Januari sampai Juni tahun ini tercatat sebesar 11,8 juta ton yang sebagian besar ditopang oleh hasil budidaya. Peningkatan ini salah satunya karena produktivitas modeling budidaya berbasis kawasan yang telah dikembangkan KKPdi Karawang, Kebumen, dan Wakatobi untuk komoditas nila salin, udang, dan rumput laut.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Hasanuddin Makassar (29/8/2024), menegaskan pentingnya implementasi program ekonomi biru untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perikanan dan ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, mahasiswa, akademisi, dan perguruan tinggi mempunyai peranan penting dalam mengimplementasikan kebijakan Ekonomi Biru di sektor kelautan dan perikanan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Lihat Juga :