alexametrics

Aksi Bakar Duit Perusahaan Startup Sulit Dihindari

loading...
Aksi Bakar Duit Perusahaan Startup Sulit Dihindari
Aksi bakar uang (burning money) yang dilakukan perusahaan rintisan (start up) untuk mengkerek valuasi menjadi tinggi, dinilai merupakan hal yang susah dihindari. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Aksi bakar uang (burning money) yang dilakukan perusahaan rintisan (start up) untuk mengkerek valuasi menjadi tinggi, lewat beragam promo besar-besaran menurut Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita merupakan hal yang susah dihindari. Aksi bakar duit yang dilakukan perusahaan E-commerce biasanya berupa promo, apakah itu diskon maupun cashback.

"Itu suatu keniscayaan yang ngga bisa dihindari. Tidak mungkin negara-negara seperti Indonesia mengatakan, tunggu dulu kami belajar dulu kemudian negara lain sudah melakukan itu," ujar Mendag di Jakarta, Senin (14/10/2019).

Menurutnya, dengan adanya aksi bakar duit ini bakal menambah sisi positif yakni meningkatkan permintaan penjualan yang mana akan menyunbang pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Kalau daya beli masyarakat meningkat dan speaking consumer itu meningkat akan bantu pertumbuhan ekonomi, itu rumus sederhana," jelasnya.



Lebih lanjut terang Mendag, dengan meningkatnya jumlah pengguna, perusahaan rintisan akan memiliki data pengguna yang lebih besar untuk bisa meningkatkan layanannya. Terkait aksi bakar duit perusahaan startup, Mendag Enggar menyarankan agar bisa digunakan untuk mendorong produk-produk lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

"Kita akan dorong tetapi, tahapan yang paling kritis harus dilakukan dan lalui yaitu bagaimana menyadarkan konsumen kita bagaimana pakailah produk lokal, dalam negeri, belanja di produk-produk kita. Tanpa kesadaran itu kami enggak mungkin paksa atau melarang itu semua," tandasnya.

Sementara itu investasi asing ke Tanah Air belakangan terlihat menanjak, dan yang menarik dicermati adalah berubahnya arah sasaran investasi. Terutama investor yang berasal dari Jepang, dimana endanaan asal Negeri Matahari Terbit itu mulai menyasar perusahaan rintisan atau startup.

Tengok saja, Sofbank menyalurkan modal lewat Grab atau Mitsubishi yang menyuntikkan dana ke Go-Jek. Kedua perusahaan raksasa tersebut berani melepas sahamnya hingga triliunan rupiah. Kabarnya Sofbank dan Mitsubishi lebih tergoda membiayai startup karena daya tarik sektor automotif belakangan ini sedikit meredup.

Padahal, membiayai perusahaan rintisan bisa diibaratkan membakar uang, namun para investor asal negeri Samurai itu meyakini perusahaan rintisan di Indonesia berpotensi besar. Fakta menunjukkan negeri berpenduduk 265 juta jiwa itu telah memiliki empat startup pada level unicorn.

Harapan pemerintah terhadap investor baik PMA maupun PMDN begitu besar untuk membangun negeri ini. Pemerintah sadar sepenuhnya dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tak cukup untuk membuat roda pertumbuhan ekonomi berputar kencang.

Di sisi lain, aksi bakar duit yang dilakukan perusahaan-perusahaan rintisan atau yang lebih dikenal sebagai startup tidak selamanya berjalan lantar. Sejumlah startup besar di penjuru dunia harus mengalami perampingan bisnis di tengah geliat ekonomi digital yang masih terus melaju.

Sebut saja, Zomato yakni startup aggregator restoran asal India yang melakukan pengurangan pegawai. Selanjutnya startup lain yang telah IPO di bursa saham New York yaitu Uber, juga melakukan langkah yang sama. Lalu ada juga kejatuhan yang menimpa startup WeWork yang punya pola yang sama, yaitu punya nilai valuasi sangat tinggi tapi belum jelas kapan menghasilkan untung dan terus saja 'membakar' uang.

Sedangkan di Tanah Air, hal itu melanda Bukalapak.Penataan internal perusahaan' menjadi alasan utama di balik strategi bisnis tersebut. Hal itu disampaikan Chief Strategy Officer Bukalapak Teddy Oetomo kepada sejumlah media menjelaskan, PHK dilakukan kepada kurang dari 100 orang karyawan.

Pengurangan karyawan dilakukan agar bisnis perusahaan bisa tetap berlangsung dan mampu mencapai BEP (break even point atau titik impas). Bukalapak berambisi menjadi startup unicorn pertama yang meraih titik impas investasi setelah berulang kali mendapat suntikan dana hingga jutaan dolar AS dari investor. Lalu pertanyaannya, apakah aksi bakar duit yang kerap dilakukan startup apakah bisa berbuah hasil.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak