alexametrics

Hadirkan 3 Local Hero, CIMB Niaga Tebar Inspirasi ke Pelajar Bali

loading...
Hadirkan 3 Local Hero, CIMB Niaga Tebar Inspirasi ke Pelajar Bali
Pande Putu Setiawan membagikan kisah inspiratif CIMB Niaga #KejarMimpi di Udayana International Convention Center, Jimbaran, Bali, Sabtu (26/10/2019). Foto/SINDOnews/Miftachul Chusna
A+ A-
DENPASAR - Ratusan pelajar dan mahasiswa berkumpul di Udayana International Convention Center (UICC) di komplek Universitas Udayana, Jimbaran, Badung, Bali, Sabtu (26/10/2019). Mereka diberikan motivasi oleh tokoh-tokoh inspiratif asal Bali atau disebut local hero.

Ada tiga local hero yang tampil dalam acara yang digelar PT Bank CIMB Niaga Tbk itu, yaitu Pande Putu Setiawan (Pendiri Komunitas Anak Alam), Melati dan Isabel Wijsen (Pendiri Bye Bye Plastic Bags) serta Audria Evelinn (Pendiri Little Spoon Farm).

Semangat pelajar dan mahasiswa tergugah ketika mendengarkan kisah inspiratif Pande Putu Setiawan. "Kita keren, itu biasa. Tapi bisa bikin orang banyak jadi keren, itu luar biasa," ujar Pande mengawali kisah inspiratifnya.



Pande bukanlah orang keren, penampilannya sangat sederhana. Tapi siapa menyangka anak seorang petani yang tidak tamat SD ini menjadi keren karena merupakan jebolan University of Victoria, British Columbia, Kanada.

Pande juga lulusan S2 Universitas Gajah Mada (2006) dan S1 di Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Telkom tahun 2001. Padahal, waktu di bangku SMA, prestasinya bisa dibilang buruk sekali. "Kalian mungkin tidak percaya, saya ranking 23 dari 23 siswa di SMA Negeri 1 Gianyar," tutur pria kelahiran 9 Maret 1977 ini.

Meski status pendidikan hingga yang tertinggi sudah dicapai, Pande menolak kerja kantoran yang identik dengan seragam ataupun jas dan dasi. Dia berhenti bekerja di PT Telkom, meski saat itu sudah menjabat supervisor.

Dia justru memilih pulang ke kampungnya di Desa Batur, Kintamani, Bangli dan mendirikan Komunitas Anak Alam. Anggotanya adalah anak-anak yang putus sekolah karena harus bekerja di ladang, mencari rumput, mengambil air dengan ember maupun jerigen yang berjarak sekian kilometer dari rumahnya.

Pande mencatat masih ada 1.315 anak di Bali yang putus sekolah karena harus membantu orangtuanya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka tersebar di Kintamani, Karangasem, Lovina, Tabanan dan Klungkung. Bagi Pande, ini sangat memalukan di tengah gemerincing dolar pariwisata Bali.

Berbagai gerakan pun dilakukan Pande. Dia pernah menggelar konser dengan harga tiket masuk berupa koin seribu rupiah. "Hasilnya, terkumpul sebanyak Rp12 juta dan saya bisa menyekolahkan empat anak," ungkap pria yang pernah bekerja sebagai staf Program Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN-WFP) dalam pemulihan dampak gempa di Yogyakarta, Februari 2008 silam.

Pande juga pernah membikin gerakan satu hari tanpa alas kaki yang menghasilkan ribuan sepatu. Ada juga konser dengan harga tiket masuk bukan dengan uang, melainkan sepatu.

Local hero Melati dan Isabel Wijsen tak kalah inspiratifnya. Di usia 12 dan 10 tahun, gadis Bali yang merupakan kakak beradik ini sudah aktif memerangi sampah plastik melalui gerakan Bye Bye Plastic Bags.

Aksi Melati dan Isabel dimulai tepatnya sejak April 2013 dan membawa mereka berbicara di depan Perserikatan Bangsa-Bangsa saat World Ocean Day 2017. Gerakan itu juga mendorong Gubernur Bali menerbitkan aturan tentang larangan penggunaan tas kresek di warung, toko, pasar hingga mall, swalayan dan supermarket.

Audria Evelinn, satu lagi local hero, membagikan kisah inspiratif tentang upaya untuk memperbaiki sistem pangan dengan merekonsiliasi hubungan antara petani dan konsumen. Karyanya melibatkan pemberdayaan program pertanian berbasis masyarakat dan memberlakukan program pendidikan langsung untuk individu dan masyarakat.

Evelinn menciptakan Little Spoon Farm untuk mendukung petani lokal dalam mengadopsi praktik penanaman regeneratif. Dia juga merancang platform online untuk pesanan panen langsung. Dari kebunnya yang berlokasi di Tabanan, dia berbagi metode penanaman tanaman berkelanjutan, dan memfasilitasi hubungan antara petani lokal dan konsumen.

Direktur Human Resources CIMB Niaga Hedy Lapian mengatakan, kegiatan itu bertujuan mendukung generasi milenial mewujudkan mimpi dan cita-citanya melalui gerakan sosial bertajuk #KejarMimpi.

Bali merupakan kota ketujuh yang disinggahi setelah Banda Aceh, Padang, Semarang, Solo, Manado dan Makassar. Di Bali, CIMB Niaga menggandeng MNC Digital dalam kegiatan Leaders Camp yang mengusung tema Lampaui Batas Dirimu dan Berani #KejarMimpi.

Hedy berharap local hero itu dapat menjadi role model agar untuk memperjuangkan mimpi dan meraih prestasi sejak usia muda. "Para local hero ini telah membuktikan bahwa mimpi dapat diraih, karena itu saya yakin anak muda lainnya juga bisa mencapai mimpinya yang harus dimulai dengan bermimpi dan berani mewujudkannya," ujarnya.
(ind)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak