CPOPC Bahas Masa Depan Permintaan dan Kebutuhan Minyak Nabati Dunia
Kamis, 12 September 2024 - 19:52 WIB
loading...
Sekretaris Jenderal CPOPC, Dr Rizal Affandi Lukman dalam The 3rd Sustainable Vegetable Oils Conference. FOTO/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - The 3rd Sustainable Vegetable Oils Conference (SVOC), yang berlangsung di Rotterdam, Belanda mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari seluruh dunia. Diselenggarakan bersama oleh Dewan Negara-Negara Penghasil Minyak Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries, CPOPC) dan The Netherlands Oils and Fats Industry (MVO) serta bekerja sama dengan mitra industri utama termasuk Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), acara tersebut membahas tantangan kompleks yang dihadapi sektor minyak nabati di tengah perubahan iklim, tekanan regulasi, dan meningkatnya permintaan global.
Konferensi tersebut menyoroti kebutuhan mendesak akan inovasi dan praktik berkelanjutan untuk memenuhi permintaan global yang terus meningkat sambil mematuhi standar lingkungan yang ketat, seperti Peraturan Deforestasi Uni Eropa (European Union Deforestation Regulation, EUDR).
Staf Ahli Bidang Konektivitas, Sektor Jasa, dan Sumber Daya Alam Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud, mengemukakan bahwa EUDR menghadirkan lanskap yang kompleks bagi sektor pertanian Indonesia.
"Dengan mengadopsi pendekatan proaktif dan strategis yang menekankan keterlibatan pemangku kepentingan, pengembangan kapasitas, sertifikasi, dan praktik penggunaan lahan berkelanjutan, Indonesia berhasil menavigasi kerumitan EUDR," ujar dia, dalam pernyataannya, dikutip Kamis (12/9/2024).
Baca Juga: Joko Supriyono Rilis Buku Tantangan dan Strategi Industri Sawit Berkelanjutan
Konferensi tersebut menyoroti kebutuhan mendesak akan inovasi dan praktik berkelanjutan untuk memenuhi permintaan global yang terus meningkat sambil mematuhi standar lingkungan yang ketat, seperti Peraturan Deforestasi Uni Eropa (European Union Deforestation Regulation, EUDR).
Staf Ahli Bidang Konektivitas, Sektor Jasa, dan Sumber Daya Alam Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud, mengemukakan bahwa EUDR menghadirkan lanskap yang kompleks bagi sektor pertanian Indonesia.
"Dengan mengadopsi pendekatan proaktif dan strategis yang menekankan keterlibatan pemangku kepentingan, pengembangan kapasitas, sertifikasi, dan praktik penggunaan lahan berkelanjutan, Indonesia berhasil menavigasi kerumitan EUDR," ujar dia, dalam pernyataannya, dikutip Kamis (12/9/2024).
Baca Juga: Joko Supriyono Rilis Buku Tantangan dan Strategi Industri Sawit Berkelanjutan
Lihat Juga :