Antam Perluas Bisnis kembangankan Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik
Kamis, 19 September 2024 - 18:24 WIB
loading...
A
A
A
Untuk mewujudkan proyek-proyek besar ini, Antam membutuhkan investasi signifikan. Proyek RKEF diperkirakan membutuhkan dana sekitar US$ 400 juta hingga US$ 500 juta, dengan belanja modal sebesar US$ 8.000 hingga US$ 9.000 per ton nikel. Proyek HPAL, di sisi lain, memerlukan investasi sebesar US$ 250 juta hingga US$ 300 juta, dengan belanja modal per ton mencapai US$ 24.000 hingga US$ 30.000.
Sebagai bagian dari strategi hilirisasi nikel, Antam juga memperluas kapasitas pengolahannya dengan mengakuisisi smelter dari Tsingshan Group. Pada Mei 2024, anak perusahaan Antam, PT Gag Nikel, menandatangani Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) dengan Newton International Investment Pte. Ltd., anak usaha Tsingshan. Akuisisi ini diharapkan memperkuat posisi Antam dalam rantai nilai industri nikel global.
Selain fokus pada nikel, Antam juga terlibat dalam proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Proyek ini telah mencapai 89% penyelesaian dan dijadwalkan memulai commissioning pada akhir 2024, dengan target operasi komersial pada semester pertama 2025. SGAR memiliki kapasitas produksi sebesar 1 juta ton per tahun, dengan nilai investasi sebesar US$ 800 juta hingga US$ 900 juta.
Baca Juga : Bahlil Merasa Dipermainkan: Indonesia akan Tentukan Sendiri Harga Timah, Nikel dan Batubara
"Dengan langkah-langkah strategis ini, Antam semakin memperkuat posisinya dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik, serta berperan aktif dalam transisi energi global dan pengembangan industri mineral di Indonesia," pungkas Syarief.
Sebagai bagian dari strategi hilirisasi nikel, Antam juga memperluas kapasitas pengolahannya dengan mengakuisisi smelter dari Tsingshan Group. Pada Mei 2024, anak perusahaan Antam, PT Gag Nikel, menandatangani Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) dengan Newton International Investment Pte. Ltd., anak usaha Tsingshan. Akuisisi ini diharapkan memperkuat posisi Antam dalam rantai nilai industri nikel global.
Selain fokus pada nikel, Antam juga terlibat dalam proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Proyek ini telah mencapai 89% penyelesaian dan dijadwalkan memulai commissioning pada akhir 2024, dengan target operasi komersial pada semester pertama 2025. SGAR memiliki kapasitas produksi sebesar 1 juta ton per tahun, dengan nilai investasi sebesar US$ 800 juta hingga US$ 900 juta.
Baca Juga : Bahlil Merasa Dipermainkan: Indonesia akan Tentukan Sendiri Harga Timah, Nikel dan Batubara
"Dengan langkah-langkah strategis ini, Antam semakin memperkuat posisinya dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik, serta berperan aktif dalam transisi energi global dan pengembangan industri mineral di Indonesia," pungkas Syarief.
(fch)
Lihat Juga :