China Kuasai Harta Karun Super Langka Dunia, AS dan Sekutu Tak Terima

Minggu, 22 September 2024 - 08:22 WIB
loading...
A A A
"Terlepas dari upaya dan investasi yang dilakukan oleh banyak pemerintah, kontrol Tiongkok atas sebagian besar rantai pasokan tetap ada," kata Litinsky.

Mereka mengklaim, logam-logam yang menjadi fokus AS dan sekutunya sebenarnya tidak langka tetapi jarang ada dalam konsentrasi yang cukup tinggi untuk membenarkan penambangan yang sering kali berbahaya bagi lingkungan. Logam-logam tersebut mencakup 17 elemen kimia yang memiliki sifat-sifat yang berguna untuk membuat produk elektronik mulai dari ponsel hingga jet tempur menjadi lebih efisien.

Menggarisbawahi peran dominannya di pasar, Beijing pada akhir tahun lalu mengumumkan pembatasan yang lebih ketat terhadap teknologi yang terkait dengan tanah jarang, yang bertujuan untuk mempersulit pengembangan industri ini di luar China.

Asisten menteri pertahanan untuk kebijakan basis industri AS, Laura Taylor-Kale, berjanji pada awal tahun ini negara tersebut akan memiliki rantai pasokan tambang berkelanjutan yang mampu mendukung semua kebutuhan pertahanan AS pada tahun 2027. Dia mengatakan bahwa setelah proyek Lynas di Texas beroperasi, perusahaan tersebut akan memproduksi sekitar 25% dari pasokan oksida elemen tanah jarang dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir, kemerosotan harga global telah didorong oleh peningkatan pasokan dari Tiongkok dan tempat lain, serta melemahnya ekonomi Tiongkok, yang berarti bahwa industri dalam negeri tidak dapat menyerap hasil produksi yang lebih tinggi.

Kementerian Sumber Daya Alam dan kementerian perindustrian China tidak menanggapi permintaan untuk menjelaskan alasan mereka menaikkan kuota pertambangan untuk tanah jarang pada tahun 2023 dan 2024, yang menurut para analis membantu menurunkan harga.

Pelajaran dari Jepang
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Terapkan Blokade...
AS Terapkan Blokade Baru di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak 9%
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 3%
Teluk Kembali Memanas,...
Teluk Kembali Memanas, China Siaga Jaga Produksi BBM Tetap Tinggi
Permintaan Minyak Global...
Permintaan Minyak Global Diramal Turun Tajam di 2026, Terburuk sejak Pandemi Covid-19
Industri Plastik Tertekan...
Industri Plastik Tertekan Impor Murah China, Pabrik Mulai Pangkas Jam Kerja
Apa Sih Sebenarnya Logam...
Apa Sih Sebenarnya Logam Tanah Jarang? Sering Disebut Minyak Baru
Iran Dituding Retas...
Iran Dituding Retas Jaringan Seluler Timur Tengah untuk Lacak Personel AS
Iran Ejek AS Ngotot...
Iran Ejek AS Ngotot Terapkan Tarif di Selat Hormuz: Biaya 20% Trump Terlalu Mahal
AS Lancarkan Lebih Banyak...
AS Lancarkan Lebih Banyak Serangan ke Iran, Trump Kembali Blokade Selat Hormuz
Rekomendasi
Atlet Berkuda Narantraya...
Atlet Berkuda Narantraya Jeihan Widjaya Naik Podium, Sabet Posisi Tiga Djiugo Next Adventure 2026
Pelimpahan Perkara Febrie...
Pelimpahan Perkara Febrie Adriansyah Dinilai Jadi Ujian Integritas Kejaksaan
Partai Perindo Tuntaskan...
Partai Perindo Tuntaskan SK Definitif 15 DPD Sulut, Mantapkan Persiapan Verifikasi Parpol
Berita Terkini
Mengintegrasikan AI...
Mengintegrasikan AI Demi Mewujudkan Ekosistem Investasi Mass Market
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
Harga MinyaKita Tembus...
Harga MinyaKita Tembus Rp16.000 per Liter di Atas HET, Apa Sebabnya?
Kimia Farma Siapkan...
Kimia Farma Siapkan Rantai Layanan Hulu-Hilir Percepat Penanggulangan TB
Esgin dan Agraus Resources...
Esgin dan Agraus Resources Sinergi Garap Potensi Investasi Hijau dan Ekonomi Karbon
Kasus Hukum Febrie Momentum...
Kasus Hukum Febrie Momentum Audit Menyeluruh Tata Kelola Sawit Sitaan Negara
Infografis
5 Negara Penguasa Harta...
5 Negara Penguasa Harta Karun Logam Tanah Jarang di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved