Alarm Bahaya Ekonomi China Berbunyi, Goldman Sachs: Intervensi Beijing Tak Membantu
Selasa, 24 September 2024 - 21:38 WIB
loading...
Pelemahan ekonomi China diproyeksikan tidak akan mereda dalam waktu dekat, dimana Goldman Sachs menilai, intervensi kebijakan Beijing tidak banyak membantu. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Pelemahan ekonomi China diproyeksikan tidak akan mereda dalam waktu dekat, dimana Goldman Sachs menilai, intervensi kebijakan Beijing tidak banyak membantu. Kondisi tersebut membuat Analis di Goldman Sachs memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China .
Goldman Sachs menurunkan perkiraan mereka untuk pertumbuhan PDB China dari 4,9% menjadi 4,7%. Angka tersebut terutama lebih rendah dari target yang dipasang pemerintah China yakni "sekitar 5%" untuk tahun 2024.
Baca Juga: China Menyetujui Rencana Menaikkan Usia Pensiun Per Januari 2025
Penurunan proyeksi ini diterangkan oleh para analis merujuk pada pelemahan data ekonomi dari bulan lalu, dengan penjualan ritel yang berkontraksi dan potensi tekanan pasar tenaga kerja. Poin-poin data ini menunjukkan kebijakan ekonomi China tidak tepat, kata para ahli strategi.
"Meskipun kebijakan makro sudah mulai mereda, mereka terlalu lambat. Akibatnya, ekonomi China menghadapi lebih banyak tantangan hari ini daripada beberapa bulan yang lalu karena kepercayaan terus terkikis," kata para analis dalam catatannya.
Goldman Sachs menurunkan perkiraan mereka untuk pertumbuhan PDB China dari 4,9% menjadi 4,7%. Angka tersebut terutama lebih rendah dari target yang dipasang pemerintah China yakni "sekitar 5%" untuk tahun 2024.
Baca Juga: China Menyetujui Rencana Menaikkan Usia Pensiun Per Januari 2025
Penurunan proyeksi ini diterangkan oleh para analis merujuk pada pelemahan data ekonomi dari bulan lalu, dengan penjualan ritel yang berkontraksi dan potensi tekanan pasar tenaga kerja. Poin-poin data ini menunjukkan kebijakan ekonomi China tidak tepat, kata para ahli strategi.
"Meskipun kebijakan makro sudah mulai mereda, mereka terlalu lambat. Akibatnya, ekonomi China menghadapi lebih banyak tantangan hari ini daripada beberapa bulan yang lalu karena kepercayaan terus terkikis," kata para analis dalam catatannya.
Lihat Juga :