Perbaiki Kinerja Ekonomi, Daya Beli Terus Digenjot
Jum'at, 28 Agustus 2020 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
Sektor konsumsi memang menjadi perhatian pemerintah saat ini. Maklum, pandemi Covid-19 mengakibatkan terganggunya daya beli masyarakat sehingga konsumsi rumah tangga yang selama ini berkontribusi sekitar 57% dari produk domestik bruto (PDB) nasional turut melemah. Imbasnya, pertumbuhan ekonomi di kaurat II/2020 minus 5,32%. Adapun khusus sektor konsumsi, mengalami penurunan hingga 5,52%.
Kondisi ini mau tidak mau memaksa pemerintah untuk bergerak cepat agar perekonomian bergairah lagi. Pasalnya, jika di kuartal III PDB nasional mengalami kembali terkontraksi, maka Indonesia dipastikan masuk ke jurang resesi.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziah mengatakan, pihaknya terus melakukan validasi sasaran penerima subsidi gaji yang mencapai 15,7 juta pekerja tersebut. Menurutnya, data terakhir BPJS Ketenagakerjaan telah berhasil mengumpulkan 13,8 juta rekening pekerja atau 88% dari target.
“Sedangkan data yang sudah divalidasi dan diverifikasi oleh BPJS Ketenagakerjaan sesuai dengan kriteria Permenaker sejumlah 10,8 juta orang atau 69% dari target,” katanya.
Ida mendorong agar BPJS Ketenagakerjaan dapat segera menuntaskan verifikasi dan validasi data penerima paling lambat akhir September 2020. Ida menyebut, data yang disetor BPJS Ketenagakerjaan akan dicek ulang oleh Kementerian Ketenagakerjaan.
“Pada senin 24 Agustus 2020 lalu kami telah menerima 2,5 juta data calon penerima yang telah divalidasi dan diverifikasi oleh BPJS Ketenagakerjaan sebagai batch pertama penerima bantuan subsidi upah atau gaji. Data tersebut kemudian kami cek kelengkapannya sesuai dengan syarat dan kriteria yang diatur dalam permenaker untuk meminimalkan risiko administrasi dan agar tepat sasaran,” paparnya.
Sementara itu, pengamat ekonomi Rifki Fadilah mengatakan, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi sebaiknya bukan hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga, tetapi juga belanja pemerintah. Kendati demikian, pemberian BLT baik untuk mendorong sisi permintaan. (Baca juga: Kapal Perang AS Sengaja Dibakar, Seorang pelaut Jadi Tersangka)
Kondisi ini mau tidak mau memaksa pemerintah untuk bergerak cepat agar perekonomian bergairah lagi. Pasalnya, jika di kuartal III PDB nasional mengalami kembali terkontraksi, maka Indonesia dipastikan masuk ke jurang resesi.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziah mengatakan, pihaknya terus melakukan validasi sasaran penerima subsidi gaji yang mencapai 15,7 juta pekerja tersebut. Menurutnya, data terakhir BPJS Ketenagakerjaan telah berhasil mengumpulkan 13,8 juta rekening pekerja atau 88% dari target.
“Sedangkan data yang sudah divalidasi dan diverifikasi oleh BPJS Ketenagakerjaan sesuai dengan kriteria Permenaker sejumlah 10,8 juta orang atau 69% dari target,” katanya.
Ida mendorong agar BPJS Ketenagakerjaan dapat segera menuntaskan verifikasi dan validasi data penerima paling lambat akhir September 2020. Ida menyebut, data yang disetor BPJS Ketenagakerjaan akan dicek ulang oleh Kementerian Ketenagakerjaan.
“Pada senin 24 Agustus 2020 lalu kami telah menerima 2,5 juta data calon penerima yang telah divalidasi dan diverifikasi oleh BPJS Ketenagakerjaan sebagai batch pertama penerima bantuan subsidi upah atau gaji. Data tersebut kemudian kami cek kelengkapannya sesuai dengan syarat dan kriteria yang diatur dalam permenaker untuk meminimalkan risiko administrasi dan agar tepat sasaran,” paparnya.
Sementara itu, pengamat ekonomi Rifki Fadilah mengatakan, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi sebaiknya bukan hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga, tetapi juga belanja pemerintah. Kendati demikian, pemberian BLT baik untuk mendorong sisi permintaan. (Baca juga: Kapal Perang AS Sengaja Dibakar, Seorang pelaut Jadi Tersangka)
Lihat Juga :