Mengenal Miliarder Mi Udon, Takaya Awata yang Kini Punya 2.000 Restoran di 28 Negara
Sabtu, 05 Oktober 2024 - 22:01 WIB
loading...
A
A
A
Ia menambahkan, dirinya bercita-cita untuk menjadikannya perusahaan miliknuya Toridoll Holdings bernilai 1 triliun yen atau USD7 miliar berdasarkan pendapatan dalam dekade berikutnya. Untuk mencapai target tinggi tersebut, Awata ingin mengurangi ketergantungan Toridoll pada pengunjung domestik di pasar domestik yang menyusut dan mulai fokus pada ekspansi ke luar negeri.
Industri restoran cepat saji secara global tumbuh pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan 5% antara 2019 dan 2023 menjadi lebih dari USD1 triliun, untuk membuatnya menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat di antara pasar layanan makanan secara keseluruhan. Hal ini disampaikan oleh Tommaso Nastasi, mitra yang berbasis di Milan di perusahaan konsultan Deloitte.
Namun di Jepang yang menghadapi tantangan populasi yang mulai bertambah tua, lebih sedikit pekerjaan penuh waktu dan upah yang stagnan, operator restoran juga harus bergulat dengan kenaikan biaya dan kekurangan pekerja.
Selain itu kata Awata, bisnis makanan di negara Jepang sangat kompetitif. Tumbuh di dalam negeri berarti merebut pangsa pasar dari rivalnya seperti Hanamaru, rantai restoran udon lokal berusia lebih dari seabad yakni Yoshinoya Holdings.
Ditambah ada juga Zensho Holdings yang terdaftar di Tokyo, yang terkenal lewat jaringan mangkuk daging sapi Sukiya dengan harga terjangkau, yang didirikan oleh sesama miliarder Kentaro Ogawa. Toridoll juga harus bersaing dengan raksasa makanan cepat saji Amerika seperti McDonald's dan KFC, yang di antaranya mengoperasikan lebih dari 4.000 toko di Jepang.
Persaingan untuk merebut pengunjung tidak hanya datang dari restoran lain, tetapi juga kotak makan siang bento dan bola nasi di toko serba ada serta makanan siap saji supermarket, menurut analis Daiwa Securities yang berbasis di Tokyo, Shun Igarashi. "Dengan diversifikasi dalam tren makan, perusahaan berebut untuk mendapatkan pelanggan," katanya.
Meskipun demikian, Toridoll, sebagian didukung oleh masuknya wisatawan ke Jepang, untuk membuatnya membukukan rekor pendapatan sebesar 232 miliar yen pada tahun fiskal terakhir yang berakhir Maret, dengan 38% dihasilkan dari luar negeri.
Industri restoran cepat saji secara global tumbuh pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan 5% antara 2019 dan 2023 menjadi lebih dari USD1 triliun, untuk membuatnya menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat di antara pasar layanan makanan secara keseluruhan. Hal ini disampaikan oleh Tommaso Nastasi, mitra yang berbasis di Milan di perusahaan konsultan Deloitte.
Namun di Jepang yang menghadapi tantangan populasi yang mulai bertambah tua, lebih sedikit pekerjaan penuh waktu dan upah yang stagnan, operator restoran juga harus bergulat dengan kenaikan biaya dan kekurangan pekerja.
Selain itu kata Awata, bisnis makanan di negara Jepang sangat kompetitif. Tumbuh di dalam negeri berarti merebut pangsa pasar dari rivalnya seperti Hanamaru, rantai restoran udon lokal berusia lebih dari seabad yakni Yoshinoya Holdings.
Ditambah ada juga Zensho Holdings yang terdaftar di Tokyo, yang terkenal lewat jaringan mangkuk daging sapi Sukiya dengan harga terjangkau, yang didirikan oleh sesama miliarder Kentaro Ogawa. Toridoll juga harus bersaing dengan raksasa makanan cepat saji Amerika seperti McDonald's dan KFC, yang di antaranya mengoperasikan lebih dari 4.000 toko di Jepang.
Persaingan untuk merebut pengunjung tidak hanya datang dari restoran lain, tetapi juga kotak makan siang bento dan bola nasi di toko serba ada serta makanan siap saji supermarket, menurut analis Daiwa Securities yang berbasis di Tokyo, Shun Igarashi. "Dengan diversifikasi dalam tren makan, perusahaan berebut untuk mendapatkan pelanggan," katanya.
Meskipun demikian, Toridoll, sebagian didukung oleh masuknya wisatawan ke Jepang, untuk membuatnya membukukan rekor pendapatan sebesar 232 miliar yen pada tahun fiskal terakhir yang berakhir Maret, dengan 38% dihasilkan dari luar negeri.
Lihat Juga :