Ramalan IMF Bikin Rupiah Goyang, Hari Ini Berakhir ke Rp15.626 per Dolar AS
Rabu, 23 Oktober 2024 - 15:37 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini ditutup melemah 59 poin atau 0,38% ke level Rp15.626 per dolar AS. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini ditutup melemah 59 poin atau 0,38% ke level Rp15.626 setelah sebelumnya di level Rp15.567 per dolar AS pekan lalu. Mengutip data Bloomberg, rupiah hari ini juga dibuka melemah ke Rp15.610 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah hari ini karena imbal hasil AS yang lebih tinggi; arus masuk aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik; dan ekonomi AS yang relatif tangguh. Namun, faktor-faktor ini diperkirakan akan segera berakhir, sehingga menghambat pergerakan dolar AS.
Baca Juga: Pakai Uang Baru, Nilai 1 Juta Dolar Zimbabwe Kini Berapa Rupiah?
"Tanda-tanda ketahanan terkini dalam ekonomi AS memicu peningkatan taruhan bahwa Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan November, lebih kecil dari pemangkasan 50 bps yang terlihat pada bulan September. Pedagang juga terlihat memperkirakan suku bunga terminal yang lebih tinggi," tulis Ibrahim dalam risetnya, Rabu (23/10/2024).
Tren pelemahan juga terlihat pada data JISDOR BI (Bank Indonesia), dimana pada hari ketiga pekan ini terpantau rupiah masih tak berdaya di posisi Rp15.620 per USD. Raihan tersebut masih merosot dibandingkan sesi hari sebelumnya pada level Rp15.560/USD.
Selain itu sentimen lainnya, para pelaku pasar bersiap untuk pemilihan presiden yang ketat. Calon presiden dari Partai Republik Donald Trump terlihat mengungguli calon dari Partai Demokrat Kamala Harris, menurut beberapa jajak pendapat terbaru dan pasar prediksi daring. Namun para analis masih melihat persaingan terlalu ketat untuk diprediksi, dengan sekitar dua minggu tersisa hingga pemungutan suara.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah hari ini karena imbal hasil AS yang lebih tinggi; arus masuk aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik; dan ekonomi AS yang relatif tangguh. Namun, faktor-faktor ini diperkirakan akan segera berakhir, sehingga menghambat pergerakan dolar AS.
Baca Juga: Pakai Uang Baru, Nilai 1 Juta Dolar Zimbabwe Kini Berapa Rupiah?
"Tanda-tanda ketahanan terkini dalam ekonomi AS memicu peningkatan taruhan bahwa Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan November, lebih kecil dari pemangkasan 50 bps yang terlihat pada bulan September. Pedagang juga terlihat memperkirakan suku bunga terminal yang lebih tinggi," tulis Ibrahim dalam risetnya, Rabu (23/10/2024).
Tren pelemahan juga terlihat pada data JISDOR BI (Bank Indonesia), dimana pada hari ketiga pekan ini terpantau rupiah masih tak berdaya di posisi Rp15.620 per USD. Raihan tersebut masih merosot dibandingkan sesi hari sebelumnya pada level Rp15.560/USD.
Selain itu sentimen lainnya, para pelaku pasar bersiap untuk pemilihan presiden yang ketat. Calon presiden dari Partai Republik Donald Trump terlihat mengungguli calon dari Partai Demokrat Kamala Harris, menurut beberapa jajak pendapat terbaru dan pasar prediksi daring. Namun para analis masih melihat persaingan terlalu ketat untuk diprediksi, dengan sekitar dua minggu tersisa hingga pemungutan suara.
Lihat Juga :