3 Alasan Negara BRICS Mulai Enggan Tinggalkan Dolar AS, Ternyata Ini Sebabnya
Rabu, 20 November 2024 - 13:41 WIB
loading...
A
A
A
Beberapa hal tersebut membuat sejumlah negara sangat terikat dengan dolar AS. Bahkan tak terkecuali negara-negara BRICS yang menggaungkan dedolarisasi.
Subrahmanyam Jaishankar menyebutkan jika kebijakan AS sering kali mempersulit perdagangan dengan negara-negara tertentu, dan India mencari "solusi" tanpa bermaksud untuk menjauh dari penggunaan dolar.
Pernyataan menteri tersebut disampaikan pada saat beberapa mitra dagang dekat India, seperti Bangladesh, Sri Lanka, dan Nepal, menghadapi kekurangan dolar yang parah. Efeknya membatasi kemampuan mereka untuk mengimpor komoditas penting.
Baik Bangladesh maupun Sri Lanka mengalami kerusuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir karena nilai dolar AS melonjak tajam. Dolar AS pada bulan Juli 2024, juga sempat memberikan tekanan besar pada pasar mata uang negara-negara BRICS. Hal itu terjadi di tengah aliansi BRICS memulai kampanye dedolarisasi untuk mencampakkan dolar AS dari mata uang cadangan dunia.
Bahkan Trump sempat mengungkapkan akan mengenakan tarif 100% pada impor dari negara-negara yang menghindari dolar. Hal itu terjadi setelah Rusia dan China secara aktif mengurangi penggunaan dolar dalam perdagangan bilateral setelah AS mengeluarkan Rusia dari sistem pembayaran internasional 'SWIFT' menyusul invasi Ukraina.
3 Alasan BRICS Mulai Enggan Tinggalkan Dolar AS
1. Tekanan dari AS
Menteri Urusan Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar mengatakan, bahwa meskipun India sedang mengejar kepentingan perdagangannya, menghindari penggunaan dolar AS bukanlah bagian dari kebijakan ekonomi India.Subrahmanyam Jaishankar menyebutkan jika kebijakan AS sering kali mempersulit perdagangan dengan negara-negara tertentu, dan India mencari "solusi" tanpa bermaksud untuk menjauh dari penggunaan dolar.
Pernyataan menteri tersebut disampaikan pada saat beberapa mitra dagang dekat India, seperti Bangladesh, Sri Lanka, dan Nepal, menghadapi kekurangan dolar yang parah. Efeknya membatasi kemampuan mereka untuk mengimpor komoditas penting.
Baik Bangladesh maupun Sri Lanka mengalami kerusuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir karena nilai dolar AS melonjak tajam. Dolar AS pada bulan Juli 2024, juga sempat memberikan tekanan besar pada pasar mata uang negara-negara BRICS. Hal itu terjadi di tengah aliansi BRICS memulai kampanye dedolarisasi untuk mencampakkan dolar AS dari mata uang cadangan dunia.
2. Donald Trump akan Berkuasa
Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS yang baru ini membuat banyak negara khawatir untuk membuat kebijakan yang merugikan AS. Sebab Presiden AS satu ini tidak akan membiarkan dedolarisasi terjadi di masa kepemimpinannya.Bahkan Trump sempat mengungkapkan akan mengenakan tarif 100% pada impor dari negara-negara yang menghindari dolar. Hal itu terjadi setelah Rusia dan China secara aktif mengurangi penggunaan dolar dalam perdagangan bilateral setelah AS mengeluarkan Rusia dari sistem pembayaran internasional 'SWIFT' menyusul invasi Ukraina.
3. Memukul Ekspor BRICS
Apabila BIRCS benar-benar berlaku pada kebijakan mereka, kemungkinan besar negara-negara anggota akan berhadapan dengan kondisi sulit karena AS kemungkinan besar akan ciptakan kebijakan peningkatan ekspor.Lihat Juga :