Upaya Dedolarisasi BRICS Diramal Bisa Berakhir Mulai Tahun Depan

Minggu, 24 November 2024 - 10:00 WIB
loading...
Upaya Dedolarisasi BRICS...
Upaya dedolarisasi oleh BRIC diperkirakan bisa berhenti mulai tahun depan seiring perubahan kepemimpinan AS. FOTO/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Kendati telah menjadi fokus BRICS selama dua tahun terakhir, upaya dedolarisasi aliansi tersebut diperkirakan bisa berakhir pada tahun 2025. Hal itu berkaitan dengan terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).

Mengutip Watcher Guru, dengan terpilihnya Presiden Donald Trump, hubungannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dapat mengatur perubahan besar dalam perspektif kelompok tersebut. Sejak Trump memenangkan pemilihan 2024, Putin telah memastikan bahwa ia tidak lagi tertarik untuk meninggalkan dolar AS.

Baca Juga: Balik Arah, Negara-negara BRICS Tolak Dedolarisasi

Isu dedolarisasi kian gencar setelah tahun 2022 dengan dimulainya invasi Rusia ke Ukraina. Hal itu membuat Barat bertindak, dengan dipimpin Amerika Serikat untuk memberikan sanksi kepada negara tersebut sebagai tanggapan atas aksi militernya. Invasi tersebut memicu peningkatan kerja sama dengan aliansi BRICS Selatan global. Secara khusus, Rusia berusaha untuk membuat rencana untuk mengurangi ketergantungan internasional pada dolar AS.

Namun, banyak hal telah berubah setelah dua tahun berlalu. Secara khusus, setelah Trump kembali menjabat, sentimen dari presiden Rusia telah berubah drastis. Dengan perkembangan ini, sikap blok BRICS dinilai dapat berubah, dan tahun 2025 bisa menjadi akhir dari upaya de-dolarisasi yang sedang berlangsung.

Sebuah laporan Reuters mencatat bahwa Putin telah menyatakan kesediaannya untuk duduk bersama Donald Trump dan membahas untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung di Ukraina. Meskipun ia memiliki persyaratan yang luas, keterbukaannya untuk gencatan senjata tetap merupakan kemajuan. Selain itu, hal itu terjadi karena ia telah mencela keinginan untuk benar-benar meninggalkan dolar AS setelah Trump terpilih sebagai Presiden AS yang sedang menjabat.

Baca Juga: Baba Vanga dan Nostradamus Buat Ramalan Menakutkan untuk 2025: Eropa Hancur dan Kiamat

Trump telah berterus terang tentang pendiriannya mengenai dedolarisasi. Presiden ke-45 tersebut juga vokal untuk mengakhiri perang Ukraina. Kedua hal itu dapat mengubah pandangan negara-negara yang sebelumnya menaruh kepercayaan mereka pada dedolarisasi BRICS. Tak hanya itu, bukan hal yang mustahil pila untuk melihat peningkatan kerja sama Rusia dan AS.

Di bagian lain, analis dari bank investasi terkemuka Morgan Stanley memperkirakan bahwa dolar AS akan tetap menjadi mata uang dominan untuk jangka waktu yang lebih lama meskipun ada tantangan dari BRICS. Analis bank tersebut menyoroti bahwa dalam hal ketidakstabilan keuangan, investor akan berbondong-bondong kembali ke dolar AS dan bukan yuan China.

Secara historis, dolar AS telah mempertahankan stabilitas selama krisis pasar sementara mata uang lokal lainnya anjlok. Dolar AS dapat menahan cambukan pasar mata uang karena didukung oleh perdagangan global, kata Morgan Stanley tentang inisiatif de-dolarisasi BRICS.

"Mata uang mana yang ingin Anda miliki ketika pasar saham global mulai jatuh? Dan ekonomi global cenderung menuju resesi?" kata James Lord, Kepala Strategi Valuta Asing Morgan Stanley. "Anda ingin memposisikan diri dalam dolar AS karena secara historis itulah reaksi nilai tukar terhadap peristiwa semacam itu." Sebagai kesimpulan, Morgan Stanley memprediksi bahwa dolar AS akan bertahan melawan serangan aliansi BRICS.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Sentuh Rp17.963,...
Rupiah Sentuh Rp17.963, Hari Ini Berakhir Sedikit Menguat Lawan Dolar AS
Rupiah Kritis, Hari...
Rupiah Kritis, Hari Ini Berakhir Ambruk ke Rp17.995 per Dolar AS
Rupiah Ambruk Dekati...
Rupiah Ambruk Dekati Rp18.000, Dolar AS Masih Terlalu Perkasa
Rekor Terburuk Sejak...
Rekor Terburuk Sejak 1986! Yen Jepang Hancur Lebur ke Titik Terendah
Rupiah Hari Ini Terkapar...
Rupiah Hari Ini Terkapar ke Rp17.907 per Dolar AS, Analis Ungkap Sebabnya
China Desak BRICS Berani...
China Desak BRICS Berani Melawan Barat: Akses Mineral Strategis Bakal Dikunci
The Changcuters Bakal...
The Changcuters Bakal Naikkan Tarif Manggung Imbas Ekonomi Lesu?
Maia Estianty Soroti...
Maia Estianty Soroti Dolar Tembus Rp18.000, Curhat soal Pajak
Mahasiswa UNS Diajak...
Mahasiswa UNS Diajak Pahami Penyebab Rupiah Melemah dan Dolar Naik di ICC 2026
Rekomendasi
Siapa Verena Siow, Sosok...
Siapa Verena Siow, Sosok Baru di Balik Strategi SAP untuk Asia Pasifik?
Raja Juli Ngaku Diberi...
Raja Juli Ngaku Diberi Amplop oleh Bupati Kuansing, KPK: Jadi Pengayaan Informasi Penyidik
Status Gunung Anak Krakatau...
Status Gunung Anak Krakatau Naik Level Siaga, Masyarakat Dilarang Mendekat Radius 3 Km
Berita Terkini
Kejar Pendapatan per...
Kejar Pendapatan per Kapita RI Lampaui USD15 Ribu, Purbaya Ungkap Kuncinya
Perluas Produk Unggulan...
Perluas Produk Unggulan Maluku, 11,6 Ton Frozen Tuna Loin Diekspor ke Thailand
Rupiah Sentuh Rp17.963,...
Rupiah Sentuh Rp17.963, Hari Ini Berakhir Sedikit Menguat Lawan Dolar AS
Purbaya Minta DJPb Monitor...
Purbaya Minta DJPb Monitor 3 Program Prioritas Termasuk MBG
IHSG Ditutup Meroket...
IHSG Ditutup Meroket 2,28% Sentuh Level 5.875, Ada 520 Saham Menghijau
Kantongi Restu OJK,...
Kantongi Restu OJK, Dua Pemegang Saham Utama CASH Siap Kawal Rights Issue Rp237,2 Miliar
Infografis
Siap-siap, Iuran BPJS...
Siap-siap, Iuran BPJS Kesehatan Bakal Naik Tahun Depan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved