Rupiah Ambruk ke Rp15.905/USD Dihantam Ancaman Tarif 100% Trump ke BRICS

Senin, 02 Desember 2024 - 16:54 WIB
loading...
Rupiah Ambruk ke Rp15.905/USD...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) pada perdagangan hari ini ditutup melemah 58 poin atau 0,37% ke level Rp15.905. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini ditutup melemah 58 poin atau 0,37% ke level Rp15.905 setelah sebelumnya sempat terapresiasi ke Rp15.847 per dolar AS pada pekan lalu.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan kurs rupiah juga disebabkan oleh sentimen eksternal yaitu Donald Trump mengancam akan mengenakan "tarif 100 persen" pada blok BRICS, memperingatkan mereka agar tidak mencari alternatif selain dolar.

Baca Juga: Trump Tunjuk Bessent Jadi Menkeu AS, Rupiah Melemah ke Rp15.881

"Ancamannya merusak mata uang blok tersebut dan mendorong dolar naik, karena para pedagang mengkhawatirkan kebijakan proteksionis yang lebih ketat dari AS di bawah Trump," tulis Ibrahim dalam risetnya, Senin (2/12/2024).

Presiden terpilih tersebut pada minggu lalu mengancam tarif tambahan pada Tiongkok, Kanada, dan Meksiko sebuah langkah yang dapat memicu kembali perang dagang global. Selain itu, ketidakpastian atas inflasi jangka panjang yang lebih tinggi di bawah Trump yang dapat membuat suku bunga tetap tinggi.

Kunci prospek suku bunga adalah laporan penggajian November yang akan dirilis pada hari Jumat, di mana perkiraan median mendukung kenaikan sebesar 195.000 setelah laporan cuaca dan pemogokan bulan Oktober, yang juga dapat direvisi mengingat rendahnya tingkat respons untuk survei tersebut. Tingkat pengangguran diperkirakan naik menjadi 4,2% dari 4,1%.

Di Asia, aktivitas manufakturnya meningkat lebih dari yang diharapkan pada bulan November, menurut data indeks manajer pembelian pemerintah dan swasta. Pembacaan tersebut terjadi saat Beijing meluncurkan serangkaian langkah stimulus agresif sejak akhir September, yang bertujuan untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Meskipun langkah-langkah tersebut tampaknya membuahkan hasil, pasar mengkhawatirkan lebih banyak hambatan ekonomi dari perang dagang dengan AS. Pedagang juga menunggu lebih banyak langkah stimulus dari dua pertemuan politik utama yang akan berlangsung pada akhir Desember.

Dari sentimen domestik, Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di angka 49,2 pada Oktober 2024. Indeks ini menunjukkan bahwa masih di bawah tanda krusial tidak ada perubahan 50 selama empat bulan berturut-turut.

Kondisi PMI yang masih stagnan ini tidak terlepas dari daya beli masyarakat yang melemah. Jika dilihat tidak hanya Indonesia yang mengalami kontraksi manufaktur tetapi negara-negara Asean juga mengalami hal yang sama.

Upaya mendorong manufaktur dilakukan dengan memperhatikan kondisi pasar baik pasar dalam maupun luar negeri. Kondisi industri berkaitan langsung dengan daya beli. Oleh karena itu, upaya meningkatkan sektor manufaktur harus dilakukan selaras dengan meningkatkan daya beli masyarakat.

Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan inflasi pada November 2024 mencapai 0,30% atau lebih tinggi dibandingkan Oktober 2024, yang sebesar 0,08%, tetapi masih lebih rendah jika dibandingkan dengan November 2023.

Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar pada November 2024 adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 0,78% dan memberikan andil inflasi 0,22%.

Baca Juga: Trump Tabuh Genderang Perang ke BRICS, Ancamannya Ngeri!

Komoditas yang mendorong inflasi pada kelompok ini adalah bawang merah dan tomat yang masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,10%.Berdasarkan data di atas, mata uang rupiah untuk perdagangan berikutnya diprediksi bergerak fluktuatif, namun kembali ditutup melemah di rentang Rp15.890 - Rp15.970 per dolar AS.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Tampil Perkasa...
Rupiah Tampil Perkasa di Awal Pekan, Hari Ini Sentuh Rp17.708 per Dolar AS
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Tembus Rp7.795 Triliun
AS-Iran Sepakat Damai,...
AS-Iran Sepakat Damai, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Rupiah Menguat dalam...
Rupiah Menguat dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Bank Dunia Beri Peringatan...
Bank Dunia Beri Peringatan Keras usai Rupiah Terpuruk ke Rp18.000
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Trump: AS Tidak akan...
Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu
Wapres AS Sebut Iran...
Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Rp5.312 Triliun, tapi Trump Ragu
Rekomendasi
Dulu Dibully Karena...
Dulu Dibully Karena Pendiam, Kini Syawal Adha Raih Centang Biru TikTok dan Instagram
Dukung Tambahan Anggaran...
Dukung Tambahan Anggaran Komnas HAM dan Komnas Perempuan, Marinus Gea: Penting untuk Pemenuhan Hak Asasi Manusia
Denny JA Soroti Kerusuhan...
Denny JA Soroti Kerusuhan Agustus 2025 dalam Perspektif Kelas Rentan Digital
Berita Terkini
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
MANU dan Universitas...
MANU dan Universitas Jember Kolaborasi Perkuat Pengembangan SDM Pertanian
Ini Jenis Produk Sawit...
Ini Jenis Produk Sawit dan Batu Bara yang Ekspornya Diatur Lewat PT DSI
Buka Akses Pasar Lebih...
Buka Akses Pasar Lebih Luas, Pertamina Fasilitasi UMKM Binaan di Jakarta Fair
Krisis LNG Timur Tengah,...
Krisis LNG Timur Tengah, Permintaan Batu Bara di Asia Melonjak
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Infografis
Presiden AS Donald Trump...
Presiden AS Donald Trump Kecam Serangan India ke Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved