Dulu Terdampak PHK, Kini Sudarti Lebih Sejahtera Berkat Pertanian Tembakau

Senin, 30 Desember 2024 - 15:13 WIB
loading...
Dulu Terdampak PHK,...
Sudarti mendapatkan pelatihan intensif dan pendampingan hingga bisa berhasil sebagai petani tembakau. FOTO/dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Cuaca di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah kala itu sedang panas. Namun, ini bukan masalah bagi Sudarti, seorang petani tembakau perempuan dari Desa Sudo. Justru, cuaca panas ini adalah berkah untuknya dan tembakau yang sudah ia panen. Dengan cekatan, Sudarti menata dan memastikan tembakaunya tersebar merata agar cepat kering.

Tidak mengherankan, sebab Sudarti sudah cukup lama menjadi petani tembakau. Sudah sepuluh tahun ia bergelut dengan tembakau, sekaligus bergabung dengan program kemitraan dari PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) yang dijalankan melalui perusahaan pemasok.

Sebelum menjadi petani tembakau, Sudarti merupakan buruh pabrik. Namun, pada tahun 2014 dia mengalami pemutusan hubungan kerja atau PHK dari perusahaan tempatnya bekerja dulu.

"Setelah PHK itu saya pulang ke Rembang. Sempat bingung mau bekerja apa. Namun saya memutuskan menanam tembakau setelah disarankan oleh tetangga," ungkapnya mengenang masa lalu.

Sebagai orang yang baru mencoba menjadi petani untuk pertama kalinya, Sudarti sangat awam. Beruntung, dari program kemitraan yang diikutinya ia mendapat berbagai pelatihan dan pendampingan.

"Saya dibina dan diarahkan dari awal. Dari mulai menanam sampai proses pasca-panen, saya terus mendapatkan pembinaan," katanya.

Pendampingan itu Sudarti dapatkan setiap hari. Hal itu membuat tembakau yang dia tanam dapat tumbuh dengan baik. Tentu, ketekunan Sudarti punya andil besar untuk ini.

Di kalangan petani tembakau di Desa Sudo, Sudarti cukup dikenal. Bukan karena ia petani perempuan, tetapi berkat sifat tekun dan dedikasinya. Tak jarang, Sudarti ada di lahan hingga malam hari untuk memastikan lahan dan tembakaunya dalam kondisi baik.

Menggerakkan Ekonomi Kerakyatan

Setelah menjadi petani tembakau perekonomian Sudarti meningkat. Sebagai seseorang yang mengalami pahitnya PHK, pencapaian Sudarti saat ini merupakan sesuatu yang tak pernah terpikir di benaknya. Dari hasil penjualan tembakaunya, Sudarti bisa membeli sepeda motor dan menabung untuk masa depan.

"Hasil pertanian tembakau selalu bagus. Sehingga saya bisa punya dua sepeda motor sekarang. Satu untuk keperluan sehari-hari, dan satu lagi untuk dipakai di lahan," ceritanya.

Baca Juga: Rawan Miskin, Segini Penghasilan Rata-rata Kelas Menengah Indonesia

Lahan yang ia miliki pun semakin luas hingga mencapai sekitar 1,5 hektar. Kesejahteraan juga bukan hanya dirasakan Sudarti, namun juga lingkungan sekitarnya. Untuk membantunya menanam dan memanen tembakau, Sudarti mempekerjakan lima warga sekitar.

"Mereka adalah tetangga yang selalu saya ajak setiap musim tembakau. Sebelumnya, mereka tidak punya pekerjaan tetap saat musim kemarau," imbuh Sudarti.

Seiring semakin banyaknya petani tembakau di desanya, ia mengaku kadang para petani saling berebut mencari tenaga kerja. Hal ini semakin dirasakan terlebih saat kemarau, di mana tanaman lain sulit tumbuh dengan baik. Tembakau berbeda, justru hasilnya baik saat kemarau dan panas.

"Kalau kemarau ini tidak ada yang menganggur. Pekerjanya sampai kurang-kurang," ucap Sudarti.

Pekerjaan Pasti

Kisah Sudarti merupakan bukti bahwa pertanian tembakau pun bisa dilakukan dan memberi manfaat bagi siapa pun, termasuk perempuan. Di Rembang sendiri, Sudarti bukan satu-satunya perempuan yang terlibat dalam pertanian tembakau. Karmati adalah contoh lain. Ia bekerja sebagai buruh tani di lahan milik Kepala Desa Gunem. Sama halnya dengan Sudarti, Karmati juga merasakan manfaat dari adanya pertanian tembakau dan program kemitraan Sampoerna.

Dia mengaku sudah 14 tahun bekerja sebagai buruh tani tembakau. Karmati mengaku bersyukur, saat ini mempunyai pekerja yang pasti. "Manfaat pertanian tembakau bagi saya adalah pekerjaan ini yang membuat saya punya penghasilan setiap hari," ucapnya.

Sebelumnya, Karmati juga pernah menjadi buruh tani untuk tanaman lainnya. Namun menurutnya, bertanam tembakau dapat meningkatkan kesejahteraan Karmati dan keluarganya.

"Kalau tembakau setiap hari. Karena itu, saya juga mendapat penghasilan setiap hari," ujarnya.

Tak hanya soal penghasilan, sebagai buruh tani yang bekerja untuk petani mitra Sampoerna, dia juga mendapatkan beragam pelatihan dan pendampingan dari program kemitraan.

"Saya menerima pelatihan untuk hal-hal yang saya kerjakan di lahan. Pelatihannya dilakukan secara bertahap dan dipantau juga setiap hari," ungkap Karmati.

Dia mengaku bersyukur, hasil dari menjadi buruh tani tembakau tersebut dapat mengantarkan anaknya menyelesaikan pendidikan hingga dapat pekerjaan. "Alhamdulillah sudah kerja semua," katanya.

Baca Juga: Daftar Pungutan dan Kenaikan Tarif Mulai 2025: PPN, Air PAM hingga Harga Rokok

Program kemitraan Sampoerna dijalankan melalui perusahaan pemasok tembakau dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas tembakau dan kesejahteraan petani. Melalui program kemitraan, para petani binaan mendapatkan pendampingan, bimbingan teknis, akses yang mudah terhadap permodalan serta prasarana produksi pertanian, hingga jaminan pembelian bagi petani sesuai dengan kesepakatan.

Tidak hanya bagi petani mitra, program kemitraan ini juga memberikan beragam pelatihan bagi keluarga dan buruh tani petani mitra. Rangkaian kegiatan ini bertujuan agar dampak positif program kemitraan dapat juga dirasakan bagi komunitas di sekitar petani dan menggerakkan ekonomi kerakyatan.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Teknologi Fungisida...
Teknologi Fungisida Baru Syngenta Dukung Target Swasembada Beras
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Biang Kerok PHK, Rupiah...
Biang Kerok PHK, Rupiah Loyo Bikin Ongkos Produksi Membengkak
Gelombang PHK Hantam...
Gelombang PHK Hantam Pulau Jawa, Said Iqbal Ungkap 3 Faktor Penyebabnya
Ancaman PHK 9.000 Karyawan...
Ancaman PHK 9.000 Karyawan Mengintai RI Tiga Bulan Lagi, Ratusan Sudah Diputus Kerja
Edukasi Holistik Nikotin...
Edukasi Holistik Nikotin Ungkap Fakta Ini
Dasco Sebut Satgas Mulai...
Dasco Sebut Satgas Mulai Gelar Rapat Antisipasi Gelombang PHK Pekan Depan
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
Rekomendasi
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Korea Selatan vs Republik...
Korea Selatan vs Republik Ceko: Konsistensi Kontra Jago Bola Mati
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Berita Terkini
Aliran Modal Asing Mulai...
Aliran Modal Asing Mulai Masuk, Rupiah Membaik Tinggalkan Rp18.000 per Dolar AS
Beban Berat Kelas Menengah...
Beban Berat Kelas Menengah di Tengah Kenaikan Pertamax jadi Rp16.250/Liter
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
Infografis
Perbandingan Jet Tempur...
Perbandingan Jet Tempur J-15 China dan F-15 Jepang, Mana Lebih Hebat?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved