Reaksi Negara-negara BRICS Atas Ancaman Tarif Terbaru Trump

Jum'at, 31 Januari 2025 - 13:36 WIB
loading...
Reaksi Negara-negara...
Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman tarif terhadap BRICS jika melanjutkan agenda dedolarisasinya. FOTO/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman tarif 100% terhadap negara-negara BRICS yang disebutnya besikap "bermusuhan" dengan agenda dedolarisasinya. Presiden Trump menegaskan Amerika tidak akan diam saja menonton BRICS menantang dominasi dolar.

"Gagasan bahwa negara-negara BRICS mencoba menjauh dari dolar sementara kita berdiri dan menonton sudah berakhir," tulis Trump di platform Truth Social-nya seperti dilansir Russia Today, Jumat (31/1/2025).

"Mereka bisa pergi mencari negara 'bodoh' lainnya. Kita akan meminta komitmen dari negara-negara yang tampaknya bermusuhan ini bahwa mereka tidak akan menciptakan mata uang BRICS baru atau mendukung mata uang lain untuk menggantikan dolar AS yang perkasa," cetusnya.

Baca Juga: Trump Kobarkan Perang Dagang ke Kanada dan Meksiko, Tarif Impor 25% Berlaku 1 Februari

Trump menegaskan, tidak ada peluang bahwa BRICS akan menggantikan dolar AS dalam perdagangan internasional atau di tempat lain. Dia menambahkan, negara mana pun yang mencoba hal itu harus mengucapkan selamat datang pada tarif 100% dan selamat tinggal pada ekonomi Amerika.

Di era presiden sebelumnya, anggota blok ekonomi BRICS telah mempercepat upaya untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang pihak ketiga dalam perdagangan bilateral. Terutama setelah sanksi Barat menyebabkan pembekuan cadangan Rusia yang disimpan dalam dolar dan euro, menyusul eskalasi konflik Ukraina pada tahun 2022.

Sementara itu, reaksi negara-negara anggota BRICS bervariasi. Menyusul ancaman serupa pada bulan November, Kremlin menekankan bahwa tekanan Amerika hanya akan mempercepat tren global yang berkembang menuju penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan, yang mengurangi peran dolar AS sebagai mata uang cadangan.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan selama pertemuan puncak BRICS di Kazan pada bulan Oktober bahwa meskipun masih terlalu dini untuk membahas mata uang BRICS bersama dan "menolak" dolar, Moskow harus menemukan sistem keuangan alternatif untuk melewati infrastruktur keuangan Barat.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia dan sherpa BRICS Sergey Ryabkov mengatakan, asosiasi tersebut siap menjelaskan kepada Trump bahwa langkah blok tersebut bukan soal meninggalkan dolar, namun tentang menarik kesimpulan dari kebijakan Washington yang salah.

Baca Juga: Kekayaan Raffi Ahmad Tembus Rp1 Triliun

Sementara itu, Beijing menanggapi ancaman Trump dengan berjanji untuk terus memperluas kerja sama di antara sesama anggota blok ekonomi tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Lin Jian menyebut BRICS sebagai platform penting untuk kerja sama di antara pasar-pasar berkembang, dengan menekankan tujuannya untuk mencapai pembangunan dan kemakmuran yang menyeluruh, bukan untuk terlibat dalam "konfrontasi blok" atau "menargetkan pihak ketiga mana pun."

Sedangkan India dengan segera berkelit dengan menyatakan bahwa meskipun kelompok tersebut secara teratur membahas transaksi keuangan bilateral, mereka "tidak berminat" untuk melemahkan dolar. "India tidak pernah mendukung de-dolarisasi," kata Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar, Desember lalu.

Hal serupa dilakukan Afrika Selatan yang juga membantah bahwa blok tersebut berencana untuk membuat mata uang baru. Namun, pada tahun 2023, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyatakan dukungan untuk menciptakan "mata uang perdagangan" di dalam blok tersebut, "seperti halnya orang Eropa menciptakan euro."

BRICS terdiri dari negara-negara pendiri, yaitu Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, beserta Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab. Indonesia adalah anggota penuh terbaru yang diterima awal bulan ini.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Harga Emas Bangkit usai...
Harga Emas Bangkit usai Trump Sebut Selat Hormuz Dibuka Pekan Ini
AS-Iran Sepakat Damai,...
AS-Iran Sepakat Damai, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
Ini 3 Kemewahan Jet...
Ini 3 Kemewahan Jet Mewah Qatar untuk Armada Air Force One Donald Trump
Tanpa Bantuan AS, Trump:...
Tanpa Bantuan AS, Trump: Israel Akan Hancur
PM Meloni Kecam Trump...
PM Meloni Kecam Trump soal Minta Foto: Italia Tidak Pernah Mengemis
Rekomendasi
Rano Karno Sebut Jakarta...
Rano Karno Sebut Jakarta Masuk 53 Kota Terbaik Dunia Kalahkan Washington DC
Rusak Ruko hingga Pamer...
Rusak Ruko hingga Pamer Airsoft Gun di Jakut, Selebgram Adam Deni Ditangkap Polisi
Ungkap Kondisi Terkini...
Ungkap Kondisi Terkini Dokter Tifa, Kuasa Hukum: Masih Terpasang Infus
Berita Terkini
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Dibuka, Kilang-kilang Asia Ogah Ikut Demam Minyak Teluk
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Infografis
Smartphone dan Komputer...
Smartphone dan Komputer akan Bebas dari Tarif Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved