Konferensi Internasional Kelapa Sawit dan Lingkungan 2025 Digelar, Soroti Transformasi Agro-Ekologis
Kamis, 06 Februari 2025 - 12:56 WIB
loading...
A
A
A
ICOPE rutin diselenggarakan setiap dua tahun, namun sempat dihentikan sementara akibat pandemi COVID-19. Konferensi sawit internasional ini, secara runut akan membahas komitmen berbagai pihak terhadap agroekologi. Kemudian dilanjutkan dengan integrasi kelapa sawit terhadap lingkungan seperti regulasi pengelolaan ekosistem, hingga inovasi dan pemberdayaan petani.
ICOPE merupakan konferensi internasional yang didukung oleh Sinar Mas Agribusiness and Food, the Agricultural Centre for International Development (CIRAD), dan World Wildlife Fund (WWF) Indonesia.
Direktur Sinar Mas Agribusiness and Food, Agus Purnomo menambahkan, tahun ini konferensi ICOPE berfokus membahas tantangan yang dihadapi industri kelapa sawit akibat kondisi cuaca ekstrem dan pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan. “Hal ini untuk mengembangkan solusi berkelanjutan bagi masa depan industri ini," ujar Agus Purnomo.
Ia mengambil contoh, benih sawit yang digunakan saat ini merupakan hasil pemuliaan yang telah dikembangkan sehingga memiliki produktivitas yang jauh lebih baik. Sebelumnya, rata-rata produktivitas sawit berada di 6-7 ton CPO per hektar per tahun. Setelah melalui riset, produktivitas sudah mencapai 10-12 ton CPO per hektar per tahun.
Pada kesempatan yang sama, Co-Chariman ICOPE 2025, Haskarlianus Pasang berujar, sejak 2014 ICOPE merangkumkan solusi untuk implementasi sawit yang berkelanjutan. Selain komitmen, imbuhnya, ICOPE 2025 akan memberikan solusi dari sisi pemerintah, swasta, dan NGO.
“Pemerintah akhir tahun lalu berkomitmen terhadap sawit salah satunya terkait energi. Di sawit itu terdapat limbah yang dikenal dengan istilah POME. POME ini memiliki peluang secara ekonomi dan lingkungan ketika diolah secara baik ,” bahas Haskar.
ICOPE merupakan konferensi internasional yang didukung oleh Sinar Mas Agribusiness and Food, the Agricultural Centre for International Development (CIRAD), dan World Wildlife Fund (WWF) Indonesia.
Direktur Sinar Mas Agribusiness and Food, Agus Purnomo menambahkan, tahun ini konferensi ICOPE berfokus membahas tantangan yang dihadapi industri kelapa sawit akibat kondisi cuaca ekstrem dan pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan. “Hal ini untuk mengembangkan solusi berkelanjutan bagi masa depan industri ini," ujar Agus Purnomo.
Ia mengambil contoh, benih sawit yang digunakan saat ini merupakan hasil pemuliaan yang telah dikembangkan sehingga memiliki produktivitas yang jauh lebih baik. Sebelumnya, rata-rata produktivitas sawit berada di 6-7 ton CPO per hektar per tahun. Setelah melalui riset, produktivitas sudah mencapai 10-12 ton CPO per hektar per tahun.
Pada kesempatan yang sama, Co-Chariman ICOPE 2025, Haskarlianus Pasang berujar, sejak 2014 ICOPE merangkumkan solusi untuk implementasi sawit yang berkelanjutan. Selain komitmen, imbuhnya, ICOPE 2025 akan memberikan solusi dari sisi pemerintah, swasta, dan NGO.
“Pemerintah akhir tahun lalu berkomitmen terhadap sawit salah satunya terkait energi. Di sawit itu terdapat limbah yang dikenal dengan istilah POME. POME ini memiliki peluang secara ekonomi dan lingkungan ketika diolah secara baik ,” bahas Haskar.
Lihat Juga :