Pengusaha Buka Jalan Indonesia Investasi ke Pembangkit Nuklir
Senin, 03 Maret 2025 - 22:30 WIB
loading...
A
A
A
Pertama, The Stated Policies Scenario (STEPS) yang konservatif, investasi nuklir dunia akan naik dari saat ini USD65 miliar per tahun menjadi USD70 miliar per tahun pada 2030. Dalam skenario ini, kapasitas reaktor nuklir akan meningkat lebih dari 50% mendekati 650 gigawatt (GW) di 2050.
Kedua, the Announced Pledges Scenario (APS) dimana terdapat dukungan pemerintah yang kuat serta kebijakan energi dan iklim berjalan tepat waktu, investasi nuklir bisa mencapai USD120 miliar/tahun pada 2030 dengan kapasitas naik di atas dua kali lipat pada 2050.
Ketiga, dalam Net Zero Emissions Scenario, investasi USD150 miliar per tahun pada 2030 dan kapasitas terinstal nuklir mencapai 1000 GW pada 2050.
Pada 2023, lebih dari 410 reaktor telah beroperasi di 30 negara serta memasok 9% pasokan listrik global. Jumlah ini diperkirakan naik menjadi 420 reaktor pada 2025. Negara-negara di dunia (khususnya negara berkembang) saat ini terus berlomba membangun pembangkit nuklir sebagai energi alternatif. Sebagian besar pembangkit yang dikembangkan memakai teknologi China dan Rusia.
Sebagai informasi, nuklir merupakan sumber energi rendah emisi kedua setelah hydropower, mampu memproduksi listrik 20% lebih tinggi dari angin dan 70% di atas solar panel. PLTN juga mampu memberikan panas untuk industri, bahkan desalinasi (pemurnian) air laut menjadi air bersih.
Sejak tahun 1971, energi nuklir telah mengurangi 72 gigaton emisi karbondioksida dari pembangkit batubara, gas alam alam dan minyak, serta memperkuat ketahanan energi di beberapa negara.
Kedua, the Announced Pledges Scenario (APS) dimana terdapat dukungan pemerintah yang kuat serta kebijakan energi dan iklim berjalan tepat waktu, investasi nuklir bisa mencapai USD120 miliar/tahun pada 2030 dengan kapasitas naik di atas dua kali lipat pada 2050.
Ketiga, dalam Net Zero Emissions Scenario, investasi USD150 miliar per tahun pada 2030 dan kapasitas terinstal nuklir mencapai 1000 GW pada 2050.
Pada 2023, lebih dari 410 reaktor telah beroperasi di 30 negara serta memasok 9% pasokan listrik global. Jumlah ini diperkirakan naik menjadi 420 reaktor pada 2025. Negara-negara di dunia (khususnya negara berkembang) saat ini terus berlomba membangun pembangkit nuklir sebagai energi alternatif. Sebagian besar pembangkit yang dikembangkan memakai teknologi China dan Rusia.
Sebagai informasi, nuklir merupakan sumber energi rendah emisi kedua setelah hydropower, mampu memproduksi listrik 20% lebih tinggi dari angin dan 70% di atas solar panel. PLTN juga mampu memberikan panas untuk industri, bahkan desalinasi (pemurnian) air laut menjadi air bersih.
Sejak tahun 1971, energi nuklir telah mengurangi 72 gigaton emisi karbondioksida dari pembangkit batubara, gas alam alam dan minyak, serta memperkuat ketahanan energi di beberapa negara.
Lihat Juga :