Dulu Kabur, Kini Perusahaan Asing Antri untuk Kembali ke Rusia

Sabtu, 29 Maret 2025 - 10:00 WIB
loading...
Dulu Kabur, Kini Perusahaan...
Perusahaan-perusahaan multinasional diklaim berusaha untuk kembali ke pasar Rusia. FOTO/Ilustrasi/Dok.
A A A
JAKARTA - Perusahaan-perusahaan asing dulu yang keluar dari Rusia akibat sanksi Barat yang terkait dengan konflik Ukraina kini berbondong-bondong berusaha untuk kembali. Hal itu diungkapkan perwakilan ekonomi khusus Presiden Vladimir Putin, Kirill Dmitriev.

Dmitriev, yang juga merupakan CEO Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), menanggapi laporan Korea Times pada hari Jumat (28/3) bahwa perusahaan Korea Selatan ingin melanjutkan operasi di Rusia, mengingat pembicaraan gencatan senjata yang dipimpin AS antara Moskow dan Kiev.

"Perusahaan global antri untuk kembali ke Rusia, menandakan kepercayaan baru dan peluang segar di salah satu pasar terbesar di dunia," tulis Dmitriev di X, seperti dikutip Russia Today, Sabtu (29/3/2025).

Baca Juga: AS dan Rusia 12 Jam Rundingkan Gencatan Senjata Ukraina, Apa Hasilnya?

Lebih dari 1.000 perusahaan Barat – dari perusahaan ritel terkenal hingga raksasa otomotif – telah keluar dari pasar Rusia dalam tiga tahun terakhir. Namun, saat pembicaraan gencatan senjata konflik Ukraina semakin gencar, perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan dilaporkan tengah meningkatkan studi kelayakan untuk melanjutkan operasi di Rusia.

Dorongan tersebut mencerminkan pentingnya Rusia secara strategis bagi negara tersebut sebagai pasar, khususnya mengingat meningkatnya tekanan tarif dari AS, kata outlet tersebut.

LG Electronics dilaporkan menjadi salah satu yang pertama, dan baru-baru ini melanjutkan sebagian operasi di pabrik peralatan rumah tangganya di Moskow, yang memproduksi mesin cuci dan lemari es, kata outlet tersebut mengutip sumber-sumber industri.

"Langkah tersebut ditujukan untuk mencegah kerusakan fasilitas produksi yang telah menganggur," kata seorang pejabat LG kepada Korea Times.

Baca Juga: Sinyal Kuat AS Cabut Sanksi Rusia demi Hidupkan Ekspor Biji-bijian Laut Hitam

Hyundai Motor Group, yang bersama dengan KIA menduduki dua posisi teratas di antara merek mobil di Rusia pada tahun 2021, juga menilai dengan cermat prospek untuk kembali memasuki pasar Rusia. Grup tersebut menjual pabriknya di St. Petersburg hanya seharga 10.000 rubel (USD120) dengan opsi pembelian kembali selama dua tahun pada tahun 2023. Artinya, grup tersebut harus membuat keputusan untuk memulai kembali produksi di fasilitas tersebut sebelum akhir tahun 2025.

Awal minggu ini, produsen peralatan rumah tangga asal Italia, Ariston, mengumumkan kembalinya mereka ke Rusia setelah keluar dari pasar pada tahun 2022. Perkembangan tersebut tampaknya mencerminkan tren yang muncul dari potensi kembalinya dan pembelian kembali oleh merek-merek asing utama di tengah perubahan hubungan AS dengan Rusia.

Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin menyatakan pada hari Rabu bahwa kasus masing-masing perusahaan akan dievaluasi secara individual. Perusahaan asing yang keluar dari Rusia "di bawah tekanan pemerintah" tetapi mempertahankan "pekerjaan, kontak, dan teknologi," bersama dengan opsi pembelian kembali, kata dia, dapat diizinkan untuk kembali.

Mishustin menambahkan bahwa perusahaan yang memiliki keahlian unik juga akan disambut baik—selama mereka mematuhi ketentuan lokalisasi dan investasi.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
10 Negara dengan Ketergantungan...
10 Negara dengan Ketergantungan Sumber Daya Alam Tertinggi di Dunia, Ada Indonesia?
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Rekomendasi
5 Kemenangan Terbesar...
5 Kemenangan Terbesar Spanyol di Piala Dunia: Arab Saudi Ikut Jadi Korban
Hasil Piala Dunia 2026:...
Hasil Piala Dunia 2026: Belgia Dipaksa Bermain Imbang Lawan Iran
MNC University Perkuat...
MNC University Perkuat Kolaborasi dengan Sekolah Mitra melalui Pra-Rapat Kerja Tahun Ajaran 2026/2027
Berita Terkini
Pertamina NRE dan Koperasi...
Pertamina NRE dan Koperasi Kemenkop Bangun PLTS KDKMP Pulau Sembur, Progres Capai 80%
Imbas BI Rate Naik,...
Imbas BI Rate Naik, Pasar Rumah Kelas Menengah Mulai Ngerem
Vasanta Kembangkan Hunian...
Vasanta Kembangkan Hunian Suburban Berkonsep Alam
PWN 2026 Resmi Digelar...
PWN 2026 Resmi Digelar di JICC, Diikuti 15 Ribu Peserta dari Seluruh Indonesia
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Dorong Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pengelolaan Eceng Gondok
Infografis
AS Setujui Penjualan...
AS Setujui Penjualan Peralatan Senilai Rp5 T untuk F-16 ke Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved