China Balas Tarif Impor 34% Semua Barang dari AS, Trump: Mereka Panik!

Sabtu, 05 April 2025 - 20:38 WIB
loading...
China Balas Tarif Impor...
Presiden AS Donald Trump memegang sebuah grafik saat berbicara dalam acara pengumuman perdagangan Make America Wealthy Again di Rose Garden di Gedung Putih pada hari Selasa di Washington, D.C. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Presiden Donald Trump mencaci maki China setelah saingan utama ekonomi AS itu membalas tarif, dan menepis kejatuhan pasar saham karena perang dagang global semakin meningkat dan menggembar-gemborkan hal itu sebagai peluang menjadikan AS kaya raya.

"China memainkannya dengan salah, mereka panik, satu hal yang tidak dapat mereka lakukan!" ujar Trump memposting di Truth Social, dilansir dari NDTV, Sabtu (5/4/2025).

Baca Juga: Tarif Trump Ancam Ekonomi Indonesia, Bisa Jadi Malapetaka Nasional

Perang dagang yang semakin memanas tersebut mengakibatkan pasar jatuh selama dua hari berturut-turut, menghapus sejumlah besar investasi dan portofolio. Wall Street terjun bebas, mengikuti kejatuhan serupa di Asia dan Eropa. Dow Jones turun 5,5% dan S&P 5,97%. Kerugian di pasar keuangan AS diperkirakan mencapai lebih dari USD6 triliun sejak Trump mengumumkan tarif.

Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell memperingatkan bahwa kebijakan tarif tersebut akan memacu inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih rendah. Namun, Trump tidak pernah menyesali kebijakan tersebut.

"Kebijakan saya tidak akan pernah berubah. Ini adalah waktu yang tepat untuk menjadi kaya," jelasnya.

Anggota Partai Republik berusia 78 tahun ini, yang menghabiskan akhir pekan yang panjang dengan bermain golf di lapangan golfnya di Palm Beach, Florida, percaya bahwa kekuatan ekonomi terbesar di dunia ini akan memaksa perusahaan-perusahaan asing untuk berproduksi di AS, daripada terus mengimpor barang.

"Hanya yang lemah yang akan gagal!" ujar Trump menggembar-gemborkan hal ini dalam satu postingan di Truth Social pada hari Jumat.

Dan di postingan lainnya, Trump menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan tidak terpengaruh. "Bisnis besar tidak khawatir dengan tarif, karena mereka tahu bahwa mereka akan tetap bertahan," tulisnya.

Namun, China merespons dengan mengumumkan tarif baru sebesar 34% untuk impor AS yang dimulai pada tanggal 10 April. Beijing mengatakan akan menuntut AS di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan juga membatasi ekspor elemen tanah jarang yang digunakan dalam teknologi medis dan elektronik kelas atas.

Mitra dagang besar AS lainnya menahan diri karena mereka mencerna kebuntuan internasional yang sedang berlangsung dan ketakutan akan resesi. Kepala perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic mengatakan bahwa Uni Eropa, yang dihantam Trump dengan tarif 20%, akan bertindak dengan cara yang tenang, bertahap dan terpadu sampai memberikan waktu untuk melakukan pembicaraan. Namun, ia juga memperingatkan bahwa blok tersebut tidak akan tinggal diam.

Baca Juga: Perang Dagang Mencekam, China Balas Tarif Impor 34% untuk Semua Barang dari AS

Prancis dan Jerman mengatakan bahwa Uni Eropa yang beranggotakan 27 negara dapat merespons dengan mengenakan pajak pada perusahaan-perusahaan teknologi AS. Di Tokyo, Perdana Menteri Shigeru Ishiba menyerukan pendekatan berkepala dingin setelah Trump menerapkan tarif 24% untuk barang-barang buatan Jepang.

Trump mengatakan bahwa ia telah melakukan panggilan telepon yang sangat produktif dengan pemimpin tertinggi Vietnam setelah pusat manufaktur Asia Tenggara tersebut terkena bea masuk AS sebesar 46%. Tarif terpisah AS sebesar 25% untuk semua mobil buatan luar negeri mulai berlaku minggu ini dan Kanada dengan cepat merespons dengan pungutan serupa untuk impor AS.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
AS-Iran Sepakat Damai,...
AS-Iran Sepakat Damai, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Trump: AS Tidak akan...
Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu
Rekomendasi
Hasil Piala Dunia 2026:...
Hasil Piala Dunia 2026: Norwegia Tekuk Irak 4-1, Erling Haaland Cetak Brace
Guntur Romli Tepis Tuduhan...
Guntur Romli Tepis Tuduhan BEM Bersatu: Kegilaan Logika Cocokologi yang Dipaksakan
Piala Dunia 2026: Haaland...
Piala Dunia 2026: Haaland Ngamuk, Norwegia Ungguli Irak di Babak Pertama
Berita Terkini
Momentum Indonesia Perkuat...
Momentum Indonesia Perkuat Fondasi Ketahanan Energi di 2026, Ini Kuncinya
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
PLN EPI Dorong UMKM...
PLN EPI Dorong UMKM Naik Kelas lewat Budidaya Madu Kelulut
Menteri PU Tinjau IPTC,...
Menteri PU Tinjau IPTC, Nindya Karya Dukung Penambahan Fasilitas Atlet Difabel
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
MANU dan Universitas...
MANU dan Universitas Jember Kolaborasi Perkuat Pengembangan SDM Pertanian
Infografis
Balas Dendam ke AS,...
Balas Dendam ke AS, China Naikkan Tarif Impor Jadi 125%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved