Ekonom Ingatkan Kebijakan Tarif Picu Bencana Ekonomi Global Seabad yang Lalu

Senin, 07 April 2025 - 07:18 WIB
loading...
A A A
Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Trump Tidak Kenakan Tarif pada Rusia

Dalam pidatonya di depan Kongres, Trump mengumumkan bahwa tarif baru, termasuk tarif resiprokal, akan diberlakukan mulai 2 April.

"Berapapun tarif yang mereka kenakan kepada kami, negara-negara lain, kami akan mengenakan tarif kepada mereka," katanya. "Jika mereka menerapkan hambatan non-moneter untuk menjauhkan kita dari pasar mereka, maka kita akan melakukan hal yang sama."

Tarif yang diterapkan Trump saat ini tergolong tinggi, mirip dengan yang diterapkan pada era Depresi Besar dan bisa jadi tarif ini akan lebih tinggi lagi. Namun, menurut Richardson, situasinya berbeda karena tarif pada 1930-an diterapkan oleh Kongres AS, sementara tarif ini diputuskan langsung oleh Trump.

Para ekonom mengingatkan bahwa tarif ini berpotensi memperburuk perekonomian global, karena negara-negara saling membalas kebijakan tarif satu sama lain, menciptakan siklus yang semakin meningkat. "Tarif ini seperti permainan ayam, di mana masing-masing pihak menunggu siapa yang akan mundur terlebih dahulu," kata Richardson.

Witcher, Richardson, dan Clarke sepakat bahwa kebijakan tarif baru ini berpotensi merugikan perekonomian. "Tarif 25% adalah kebijakan ekonomi yang buruk. Hanya ada sedikit pemenang dan banyak pihak yang dirugikan. Dikombinasikan dengan faktor-faktor lain, seperti menurunnya kepercayaan konsumen dan kenaikan suku bunga, kebijakan ini bisa menyebabkan resesi," kata Witcher.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 3%
Permintaan Minyak Global...
Permintaan Minyak Global Diramal Turun Tajam di 2026, Terburuk sejak Pandemi Covid-19
Dunia Tak Lagi Takut...
Dunia Tak Lagi Takut Ancaman Gejolak Selat Hormuz imbas Perang AS-Iran, Apa Rahasianya?
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
Indonesia Negara Kaya...
Indonesia Negara Kaya Batu Bara, Mengapa Justru Impor dari AS?
Perang Bikin Jalur Suku...
Perang Bikin Jalur Suku Bunga Bank Sentral Terkunci di Level Tertinggi, Era Pinjaman Murah Berakhir
Pakar Militer Ungkap...
Pakar Militer Ungkap Pertarungan Sangat Sengit AS dan Iran untuk Berebut Selat Hormuz
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, AS Gunakan Drone Laut untuk Menyerang Iran
AS Kembalikan 2 Arca...
AS Kembalikan 2 Arca Buddha Abad ke-8 ke Indonesia, Hasil Curian Douglas Latchford
Rekomendasi
MNC Life Dukung Jakarta...
MNC Life Dukung Jakarta Sky Fun Run 2026, Beri Perlindungan bagi Ribuan Peserta
BPOM Bongkar Peredaran...
BPOM Bongkar Peredaran 2,1 Juta Kosmetik Ilegal Senilai Rp35,8 Miliar
Generasi Muda NTB Didorong...
Generasi Muda NTB Didorong Jadi Agen Perubahan melalui Inovasi
Berita Terkini
Prabowo Kumpulin Menteri...
Prabowo Kumpulin Menteri di Hambalang Bahas Harga Khusus BBM untuk Nelayan
Raih 3 Pengakuan Internasional,...
Raih 3 Pengakuan Internasional, IIF Terus Memperkuat Kapasitas Pendanaan Infrastruktur
S&P Pertahankan Rating...
S&P Pertahankan Rating dan Outlook Kredit Indonesia, Purbaya: Arah Kebijakan Ekonomi Terjaga
Danamon Prasmul EduWealth...
Danamon Prasmul EduWealth Menjawab Tren Kenaikan Biaya Pendidikan: Ekosistem Pendanaan dan Proteksi
Sensus Ekonomi Tak Hanya...
Sensus Ekonomi Tak Hanya Dilakukan Indonesia: Gerakan Global yang Diikuti Malaysia hingga Zimbabwe
Membuka Pintu Investasi...
Membuka Pintu Investasi dan Kerja Sama Selangor-Jawa Barat lewat SIBS 2026
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved