Ekonom Ingatkan Kebijakan Tarif Picu Bencana Ekonomi Global Seabad yang Lalu

Senin, 07 April 2025 - 07:18 WIB
loading...
A A A
"Hoover menaikkan pajak karena ia berpikir penting untuk menyeimbangkan anggaran. Namun, kebijakan ini justru memperburuk aktivitas ekonomi," kata Marcus Witcher, asisten profesor sejarah ekonomi di West Virginia University dikutip dari NPR, Senin (7/4/2025).

Baca Juga: Perang Dagang Mencekam, China Balas Tarif Impor 34% untuk Semua Barang dari AS

Kombinasi faktor-faktor ini menghasilkan "badai ekonomi sempurna" yang memperburuk krisis ekonomi. Tarif yang diterapkan melalui Undang-Undang Smoot-Hawley memperburuk Depresi Besar dan merenggangkan hubungan internasional.

"Kurangnya perdagangan menyebabkan berkurangnya kerja sama dan kepercayaan, yang pada gilirannya menyebabkan kekerasan lebih lanjut," kata Christopher Clarke, profesor ekonomi di Washington State University.

Ia juga menambahkan bahwa ketegangan hubungan internasional ini turut berkontribusi terhadap Perang Dunia II. Lantas, apakah perang dagang saat ini bisa menyebabkan depresi ekonomi baru?

Para ekonom berpendapat bahwa ekonomi saat ini lebih kuat dibandingkan pada masa Depresi Besar. Meskipun kecil kemungkinan tarif baru ini akan memicu depresi, dampaknya bisa menyebabkan perlambatan ekonomi, kenaikan harga, dan pengurangan daya beli konsumen.

"Depresi Besar adalah peristiwa yang unik dalam sejarah. Meskipun tarif 25% Trump tidak akan menyebabkan bencana ekonomi sebesar itu, tarif ini akan membuat kita lebih miskin dan kemungkinan akan mengurangi jumlah pekerjaan," kata Witcher.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Cukup Baca 4 Buku Setahun,...
Cukup Baca 4 Buku Setahun, Risiko Stres dan Depresi Bisa Turun Signifikan
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Rekomendasi
Konflik Pascacerai Memanas,...
Konflik Pascacerai Memanas, Sarwendah Sambangi Komnas Perempuan
Ketua Posko Wilayah...
Ketua Posko Wilayah PRR Aceh Apresiasi BPBD dan DLHK Atasi Masalah Sanitasi di Huntara
Diam-diam Jadi Pengusaha,...
Diam-diam Jadi Pengusaha, Anneth Delliecia Ternyata Punya Brand Kuku Sendiri?
Berita Terkini
Sah! Potongan Komisi...
Sah! Potongan Komisi Ojol Jadi 8% per Juli 2026, Aplikator Sudah Sepakat
Prudential Syariah Raih...
Prudential Syariah Raih Penghargaan Brand of the Year 2026
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
IHSG Hari Ini Ditutup...
IHSG Hari Ini Ditutup Merosot 0,25% ke 6.101, Diwarnai Pelemahan 398 Saham
Wakil Kepala BPS RI:...
Wakil Kepala BPS RI: Sensus Ekonomi Akan Mampu Ukur Kontribusi Sektor Pendidikan terhadap Ekonomi DIY
Kekayaan RI Keluar Sebabkan...
Kekayaan RI Keluar Sebabkan Rupiah Melemah, Prabowo Analogikan seperti Tubuh Kehabisan Darah
Infografis
4 Perempuan yang Mengguncang...
4 Perempuan yang Mengguncang Politik Global Sepanjang 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved