Ekonom Ingatkan Kebijakan Tarif Picu Bencana Ekonomi Global Seabad yang Lalu

Senin, 07 April 2025 - 07:18 WIB
loading...
Ekonom Ingatkan Kebijakan...
Presiden AS Donald Trump memegang sebuah grafik saat berbicara dalam acara pengumuman perdagangan Make America Wealthy Again di Rose Garden di Gedung Putih pada hari Selasa di Washington, D.C. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Kebijakan tarif baru yang diterapkan oleh Presiden AS, Donald Trump, telah menimbulkan keresahan di pasar domestik dan internasional. Kenaikan tarif impor terhadap sejumlah negara mitra dagang ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konsumen akan menanggung beban yang berat, yang berpotensi menyebabkan kenaikan harga barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Tarif tersebut dikhawatirkan dapat memicu kemerosotan ekonomi global, mengingatkan pada Depresi Besar yang terjadi hampir seabad yang lalu. Depresi Besar adalah bencana ekonomi yang dimulai pada Oktober 1929 dan berlangsung selama hampir satu dekade, menjadi salah satu periode terburuk dalam sejarah dengan tingkat pengangguran yang sangat tinggi. Pada 1933, sekitar 12.830.000 orang kehilangan pekerjaan, dan negara-negara seperti Jerman dan Inggris juga mengalami penurunan ekonomi.

Baca Juga: Tarif Impor Baru AS Bakal Mendorong Ekonomi Global Jatuh ke Jurang Resesi

Pada awal abad ke-20, Pemerintah AS beralih ke sistem perdagangan bebas dan mengadopsi pajak penghasilan federal pada 1913, yang mengurangi ketergantungan pada tarif. Namun, pada 1930, Undang-Undang Tarif Smoot-Hawley yang menerapkan tarif tinggi hingga hampir 60% disahkan, beberapa bulan setelah Depresi Besar dimulai.

Beberapa faktor berkontribusi pada Depresi Besar. Pada 1920-an, yang dikenal sebagai "Roaring Twenties," ekonomi tumbuh pesat dan pasar saham berkembang. Namun, Federal Reserve yang dibentuk pada 1913 menaikkan suku bunga yang dibebankan pada bank-bank anggota yang meminjam uang, yang menyebabkan jumlah uang yang beredar menyusut.

Akibatnya, orang Amerika kesulitan memperoleh kredit, baik untuk konsumsi maupun untuk memulai atau mengembangkan bisnis. Hal ini memperburuk penurunan ekonomi yang sudah terjadi, yang puncaknya adalah jatuhnya pasar saham pada Oktober 1929 dan lebih dari 9.000 kegagalan bank antara 1929 hingga 1933.

Presiden Herbert Hoover tidak hanya menandatangani Undang-Undang Tarif Smoot-Hawley meskipun banyak ekonom menentangnya, tetapi ia juga memberlakukan Undang-Undang Pendapatan 1932 yang meningkatkan tarif pajak penghasilan dari 25% menjadi 63%.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 3%
Permintaan Minyak Global...
Permintaan Minyak Global Diramal Turun Tajam di 2026, Terburuk sejak Pandemi Covid-19
Dunia Tak Lagi Takut...
Dunia Tak Lagi Takut Ancaman Gejolak Selat Hormuz imbas Perang AS-Iran, Apa Rahasianya?
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
Indonesia Negara Kaya...
Indonesia Negara Kaya Batu Bara, Mengapa Justru Impor dari AS?
Perang Bikin Jalur Suku...
Perang Bikin Jalur Suku Bunga Bank Sentral Terkunci di Level Tertinggi, Era Pinjaman Murah Berakhir
Pakar Militer Ungkap...
Pakar Militer Ungkap Pertarungan Sangat Sengit AS dan Iran untuk Berebut Selat Hormuz
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, AS Gunakan Drone Laut untuk Menyerang Iran
AS Kembalikan 2 Arca...
AS Kembalikan 2 Arca Buddha Abad ke-8 ke Indonesia, Hasil Curian Douglas Latchford
Rekomendasi
Yusril Ingatkan Kejagung...
Yusril Ingatkan Kejagung Profesional dan Transparan Tangani Kasus Febrie Adriansyah
Terjual 800 Unit, Rahasia...
Terjual 800 Unit, Rahasia Jetour T1 Bikin Pembeli Pilih Hybrid Ketimbang Bensin
Tak Oper ke Haaland,...
Tak Oper ke Haaland, Sorloth dan Kekasihnya Diteror
Berita Terkini
Danamon Prasmul EduWealth...
Danamon Prasmul EduWealth Menjawab Tren Kenaikan Biaya Pendidikan: Ekosistem Pendanaan dan Proteksi
Sensus Ekonomi Tak Hanya...
Sensus Ekonomi Tak Hanya Dilakukan Indonesia: Gerakan Global yang Diikuti Malaysia hingga Zimbabwe
Membuka Pintu Investasi...
Membuka Pintu Investasi dan Kerja Sama Selangor-Jawa Barat lewat SIBS 2026
Eksodus Miliarder: Mengapa...
Eksodus Miliarder: Mengapa Mark Zuckerberg hingga Orang Kaya Inggris Kompak Kabur?
Keamanan Jadi Faktor...
Keamanan Jadi Faktor Utama Nasabah Memilih Bank Digital
Ada Nilai Ekonomi Ratusan...
Ada Nilai Ekonomi Ratusan Triliun, Industri Tembakau Dipandang Diperlakukan Paling Tidak Adil
Infografis
Daftar Lengkap 14 Negara...
Daftar Lengkap 14 Negara yang Diancam Tarif Baru Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved