Smelter PT Ceria Masuk Tahap Akhir, Produksi Komersial FeNi Ditarget Akhir April

Selasa, 08 April 2025 - 11:39 WIB
loading...
Smelter PT Ceria Masuk...
PT Ceria Nugraha Indotama (Ceria) menargetkan produksi komersial pertama Ferronickel (FeNi) dari Smelter Merah Putih Line 1 akan dimulai pada akhir April 2025. Foto/Dok. SindoNews
A A A
KOLAKA - PT Ceria Nugraha Indotama (Ceria) menargetkan produksi komersial pertama Ferronickel (FeNi) dari Smelter Merah Putih Line 1 akan dimulai pada akhir April 2025. PT Ceria merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel karya anak bangsa yang beroperasi di Kolaka, Sulawesi Tenggara.

General Manager RKEF Operation Readiness PT Ceria, Roimon Barus mengatakan, proses hot commissioning telah berjalan sejak 23 Februari 2025. Dimulai dengan pengumpanan bijih nikel pada sistem dryer dan dilanjutkan pemanasantanur listrik (furnace heating up).

“Seluruh unit electric furnace telah aktif menggunakan pasokan listrik sejak awal April 2025. Kami optimistis produksi komersial FeNi pertama akan terealisasi pada akhir April 2025,” katanya dalam siaran pers, Selasa (8/4/2025). Baca juga: 3 Negara dengan Smelter Terbesar di Dunia untuk Tembaga dan Nikel

Smelter Merah Putih PT Ceria mengusung teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) berkapasitas 72 MVA. Teknologi ini didesain tidak hanya untuk efisiensi produksi tetapi juga memenuhi standar Environmental, Social, and Governance (ESG) yang ketat.

Teknologi Rectangular Electric Furnace (tanur persegi panjang) yang diterapkan PT Ceria memiliki keunggulan dalam efisiensi energi karena mampu menahan panas lebih lama, mengoptimalkan pembakaran bahan bakar, dan menekan konsumsi energi listrik per ton produk. Desain ini turut meminimalisasi emisi gas buang, mendukung prinsip environmental responsibility.

Selain itu, fasilitas smelter dilengkapi sistem dust collector, waste management, dan alat pemantau emisi secara digital dan real-time, untuk memastikan standar baku mutu lingkungan selalu dipatuhi.

Seluruh pasokan listrik Smelter PT Ceria juga berasal dari PLN UID Sulselrabar yang telah mengantongi Renewable Energy Certificate (REC). Memastikan penggunaan energi hijau dan mendukung target dekarbonisasi nasional. “Dengan penggunaan listrik hijau ini, produk nikel PT Ceria memiliki jejak karbon yang minimal, mendukung industri nikel berkelanjutan di Indonesia,” ujarnya.

Pertambangan Berkelanjutan
Tidak hanya di sektor hilirisasi , implementasi ESG PT Ceria juga diterapkan secara menyeluruh di area tambang nikel di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka. PT Ceria mengedepankan prinsip good mining practice yang mencakup pengelolaan lingkungan (environmental), pemberdayaan sosial masyarakat (social responsibility), dan tata kelola perusahaan yang baik (governance).

Dalam aspek lingkungan, PT Ceria melaksanakan pengelolaan reklamasi dan revegetasi lahan pascatambang secara berkelanjutan, pengendalian erosi dan sedimentasi, serta perlindungan kawasan lindung di sekitar wilayah tambang. Perusahaan juga menerapkan sistem manajemen air terpadu untuk menjaga kualitas air lingkungan.

Dari sisi sosial, PT Ceria mengutamakan pemberdayaan tenaga kerja lokal dan pengembangan UMKM. Kemudian program pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat sekitar, serta menjaga hubungan harmonis dengan pemangku kepentingan lokal.

Sementara itu, penerapan prinsip governance diwujudkan dalam sistem operasional yang patuh terhadap peraturan perundang-undangan. Pengawasan internal yang ketat, dan keterbukaan informasi kepada publik, khususnya dalam pengelolaan aspek lingkungan dan sosial.

“Sebagai perusahaan PMDN, PSN, dan Obvitnas, PT Ceria berkomitmen membangun ekosistem industri nikel yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, mulai dari tambang hingga produk hilir,” jelasnya.

Menuju Pemain Global Industri Nikel Berbasis ESG
Dalam pengembangan jangka panjang, PT Ceria menargetkan pembangunan total 4 jalur produksi RKEF dengan kapasitas produksi 252.800 ton FeNi per tahun atau setara 55.600 ton logam nikel.

Selain itu, pengembangan fasilitas Nickel Matte Converter, Nickel Sulphate, dan HPAL (High Pressure Acid Leach) untuk memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) juga sedang dirancang untuk memperkuat posisi PT Ceria dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV Battery Supply Chain).

Raimon menegaskan, dengan penerapan teknologi RKEF modern dan sistem operasi berbasis ESG, Smelter Merah Putih PT Ceria diproyeksikan menghasilkan produk Ferronickel (FeNi) berkualitas tinggi. Termasuka green nickel product atau produk nikel hijau yang memiliki keunggulan dalam aspek lingkungan dan keberlanjutan. Baca juga: Ceria Group Buktikan Jadi Pioner Perusahaan Nikel 100% Dana Dalam Negeri

Produk FeNi dari Smelter PT Ceria akan memiliki jejak karbon yang rendah (low carbon footprint). Hal ini karena didukung pemanfaatan energi listrik dari sumber energi hijau, teknologi efisiensi energi pada tanur, serta pengelolaan emisi dan limbah yang ketat sesuai standar global. Hal ini menjadikan produk nikel PT Ceria semakin kompetitif di pasar internasional, khususnya untuk mendukung kebutuhan rantai pasok kendaraan listrik dan industri energi bersih dunia.

“Dengan seluruh standar dan teknologi ini, PT Ceria siap menghasilkan green nickel product yang ramah lingkungan, mendukung ekonomi hijau, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama industri nikel berkelanjutan berbasis ESG dan Good Mining Practice di dunia,” tandasnya.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Indonesia Punya 40%...
Indonesia Punya 40% Cadangan Nikel Dunia, Anehnya Tak Bisa Pimpin Rantai Pasok Baterai Global
Chakra Jawara Perkuat...
Chakra Jawara Perkuat Komitmen sebagai Mitra Strategis Industri Pertambangan Nasional
Antisipasi Risiko Sosial...
Antisipasi Risiko Sosial Tambang, Perusahaan Didorong Terapkan Standar Keberlanjutan Global
Perkuat Kontribusi ke...
Perkuat Kontribusi ke Pembangunan Sultra, Setoran Pajak CNI Paling Besar
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Tsingshan Dorong Kolaborasi...
Tsingshan Dorong Kolaborasi Hilirisasi Nikel Ramah Lingkungan di Indonesia
Kemenhut Bongkar Jalur...
Kemenhut Bongkar Jalur Distribusi Tambang Ilegal di NTB, 8 Orang Ditangkap
Kejagung Bongkar Modus...
Kejagung Bongkar Modus Rekayasa Uji Lab untuk Ekspor Ilegal Logam Tanah Jarang
Kejagung Tahan 3 Tersangka...
Kejagung Tahan 3 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Tata Kelola Pertambangan Nonlogam
Rekomendasi
Trump Tiba-tiba Ganti...
Trump Tiba-tiba Ganti Pesawat karena Takut Dibunuh usai KTT NATO di Turki
32 Negara Siap Meriahkan...
32 Negara Siap Meriahkan 8th Asian Taekwondo Indonesia Open Championships 2026
Cerita Mutiara, Anak...
Cerita Mutiara, Anak Penjual Tahu Keliling yang Lolos ke ITB dan Raih KIP Kuliah
Berita Terkini
Sinergi Lintas Sektor...
Sinergi Lintas Sektor Percepat Penurunan Stunting menuju Indonesia Emas 2045
Sepekan ke Depan, Rupiah...
Sepekan ke Depan, Rupiah Masih Akan Dibayangi Tekanan
BRI Life Hadirkan Solusi...
BRI Life Hadirkan Solusi Perlindungan Kesehatan dan Finansial
IHSG Naik 0,34% dalam...
IHSG Naik 0,34% dalam Sepekan, Ini Daftar Saham Cuan dan Rugi Terbesar
Perkuat Ekonomi Daerah,...
Perkuat Ekonomi Daerah, Dana Bagi Hasil Tambang Perlu Dievaluasi
Perpres Operasional...
Perpres Operasional Koperasi Desa Merah Putih Ditargetkan Terbit Pekan Depan, Atur Penyaluran Subsidi hingga Bansos
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved