Senator AS Minta Trump Diselidiki Atas Dugaan Insider Trading

Sabtu, 12 April 2025 - 18:16 WIB
loading...
Senator AS Minta Trump...
Senator AS meminta Presiden Donald Trump diselidiki atas dugaan manipulasi pasar. FOTO/Ilustrasi/Dok.
A A A
JAKARTA - Senator Demokrat AS Adam Schiff telah meminta Kongres untuk menyelidiki Presiden Donald Trump atas kemungkinan melakukan insider trading atau perdagangan orang dalam serta manipulasi pasar. Hal itu menyusul perubahan kebijakan perdagangannya yang tiba-tiba, yakni menunda pengenaan tarif, yang menyebabkan saham global melonjak.

Pada hari Rabu (9/4), Trump mengumumkan penghentian sementara tarif timbal balik selama 90 hari terhadap mitra dagang AS, menurunkan bea masuk menjadi tarif tetap 10%. Satu-satunya pengecualian adalah China, yang justru dihantamnya dengan kenaikan tarif menjadi 125% menyusul pembalasan tarif Beijing atas barang-barang AS menjadi 84%.

Baca Juga: Gara-gara Perang Tarif, AS Disebut Jadi Kacau Mirip Negara Berkembang

Segera setelah pengumuman tersebut, pasar saham AS membukukan kenaikan yang mendekati rekor setelah kemerosotan selama seminggu. Beberapa jam sebelum pengumuman, Trump memposting di platform Truth Social miliknya: "Tenanglah! Semuanya akan berjalan dengan baik," diikuti oleh, "INI WAKTU YANG TEPAT UNTUK MEMBELI!!! DJT," merujuk pada ticker saham perusahaan medianya.

Waktu unggahannya, jeda, dan kenaikan pasar yang diakibatkannya memicu spekulasi tentang manipulasi pasar daring, yang menjadi lebih panas setelah ajudan Gedung Putih Margo Martin mengunggah video Trump yang memuji pemodal Charles Schwab karena menghasilkan miliaran dolar selama kenaikan tersebut.

"Trump menghapus banyak tarif yang telah diberlakukannya dalam kebijakan yang kadang-kadang tidak berlaku ini. Ini baru saja mendatangkan malapetaka di pasar," kata Schiff dalam pidato videonya yang diunggah di X, seperti dilansir Russia Today. "Namun, ada bahaya besar lainnya, yaitu perdagangan orang dalam (insider trading) di Gedung Putih."

"Pertanyaannya adalah, siapa yang tahu apa yang akan dilakukan presiden? Dan apakah orang-orang di sekitar presiden memperdagangkan saham sambil mengetahui perputaran luar biasa yang akan dialami pasar?" tambahnya. Schiff kemudian menuduh Trump melakukan korupsi, dengan mengutip perdagangan kripto keluarganya dan "perundingan pribadi yang bertentangan" dari sekutunya, miliarder Elon Musk.

Baca Juga: NATO Latihan Tempur Besar-besaran Kerahkan 91 Pesawat, Belajar dari Perang Rusia-Ukraina

"Kami di Kongres perlu melakukan lebih dari sekadar menuntut jawaban. Kami perlu melakukan pengawasan yang diperlukan untuk mendapatkan jawaban tersebut. Kami akan menyelidiki ini sampai tuntas," janjinya.

Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt sebelumnya mengklaim bahwa pembalikan tarif adalah bagian dari strategi negosiasi Trump yang lebih luas, yang disebutnya sebagai "seni bertransaksi". Gedung Putih sejauh ini belum memberikan komentar atas seruan Schiff untuk penyelidikan kongres.

Anggota Demokrat lainnya juga menyuarakan kekhawatiran. "Presiden Amerika Serikat benar-benar terlibat dalam skema manipulasi pasar terbesar di dunia," tulis Komite Layanan Keuangan Demokrat DPR di X, sebagai tanggapan atas unggahan Trump yang berjudul "Saatnya membeli".

Perwakilan Steven Horsford dari Nevada secara terbuka mempertanyakan apakah jeda tersebut merupakan manipulasi pasar selama sidang DPR dengan perwakilan perdagangan Trump, Jamieson Greer pada hari Rabu.

Anggota DPR Alexandria Ocasio-Cortez meminta semua anggota DPR untuk mengungkapkan pembelian saham baru-baru ini. "Saya mendengar beberapa obrolan menarik di lantai DPR," tulisnya di X. "Batas waktu pengungkapan adalah 15 Mei. Kita akan segera mengetahui beberapa hal. Sudah waktunya untuk melarang perdagangan orang dalam di Kongres."
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Harga Emas Bangkit usai...
Harga Emas Bangkit usai Trump Sebut Selat Hormuz Dibuka Pekan Ini
AS-Iran Sepakat Damai,...
AS-Iran Sepakat Damai, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
Gaya Hidup Miliarder,...
Gaya Hidup Miliarder, Begini Cara Keluarga Trump Membelanjakan Hartanya
China Komitmen Borong...
China Komitmen Borong Produk Pertanian AS Senilai Rp301 Triliun hingga 2028
Trump Ungkap Dana Iran...
Trump Ungkap Dana Iran yang Dilepaskan akan Digunakan untuk Beli Barang-barang AS
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Rekomendasi
Roy Suryo Ajukan Praperadilan...
Roy Suryo Ajukan Praperadilan terkait Penggeledahan
BNPP Perkuat Pengawasan...
BNPP Perkuat Pengawasan Perbatasan RI-Timor Leste via Survei Pengendalian Jalur Tak Resmi di Belu
Rieke Diah Pitaloka...
Rieke Diah Pitaloka Beri Dukungan untuk Nikita Mirzani Jelang Sidang PK Perdana
Berita Terkini
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
MNC Sekuritas Gelar...
MNC Sekuritas Gelar SPM Level 2 Bersama IBI Kesatuan Bogor: Mengenal Analisis Teknikal
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Menguat 0,44 Persen ke Level 6.128
MSCI Tahan Status Emerging...
MSCI Tahan Status Emerging Market Indonesia, OJK Pastikan Reformasi Pasar Modal Jalan Terus
Hasil RUPST MNC Energy...
Hasil RUPST MNC Energy Investments untuk Tahun Buku 2025
Pasar Modal RI Terancam...
Pasar Modal RI Terancam Turun Kasta ke Frontier Market, MSCI Ultimatum hingga November 2026
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved