Melongok Rekomendasi Saham saat IHSG Bergerak Terbatas Jelang Neraca Dagang dan Dividen Bank
Senin, 14 April 2025 - 07:57 WIB
loading...
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak dalam rentang terbatas pada pekan pendek ini, yang hanya berlangsung selama empat hari perdagangan (14-17 April 2025). Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) diperkirakan akan bergerak dalam rentang terbatas pada pekan pendek ini, yang hanya berlangsung selama empat hari perdagangan (14-17 April 2025) karena adanya libur Jumat Agung pada 18 April 2025.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menyarankan para pelaku pasar untuk mencermati dua sentimen utama yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG , yaitu data neraca perdagangan Indonesia dan potensi dividend yield dari sektor perbankan.
Baca Juga: Fenomena IHSG Pasca-Lebaran: Penurunan Jadi Peluang untuk Rebound
Terkait neraca perdagangan, David menjelaskan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Maret 2025. Data ini akan memberikan gambaran selisih antara nilai ekspor dan impor, yang sering menjadi indikator awal kondisi ekonomi dan kinerja sektor riil.
"Surplus neraca perdagangan yang lebih besar dari ekspektasi bisa jadi sentimen positif untuk pasar saham, terutama sektor komoditas, seperti CPO, batu bara, dan logam. Sementara itu, defisit atau surplus yang lebih kecil bisa menekan nilai tukar Rupiah dan memicu kekhawatiran investor yang berpotensi menimbulkan aksi jual terutama dari investor asing," jelas David dalam risetnya, Senin (14/4/2025).
Di sisi lain, David menyoroti daya tarik dividend yield yang tinggi dari sektor perbankan di tengah kondisi pasar yang fluktuatif. Namun, ia juga mengingatkan potensi aksi jual setelah cum date (tanggal terakhir investor tercatat berhak atas dividen) serta tekanan global dapat memicu pergerakan harga yang kurang stabil.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menyarankan para pelaku pasar untuk mencermati dua sentimen utama yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG , yaitu data neraca perdagangan Indonesia dan potensi dividend yield dari sektor perbankan.
Baca Juga: Fenomena IHSG Pasca-Lebaran: Penurunan Jadi Peluang untuk Rebound
Terkait neraca perdagangan, David menjelaskan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Maret 2025. Data ini akan memberikan gambaran selisih antara nilai ekspor dan impor, yang sering menjadi indikator awal kondisi ekonomi dan kinerja sektor riil.
"Surplus neraca perdagangan yang lebih besar dari ekspektasi bisa jadi sentimen positif untuk pasar saham, terutama sektor komoditas, seperti CPO, batu bara, dan logam. Sementara itu, defisit atau surplus yang lebih kecil bisa menekan nilai tukar Rupiah dan memicu kekhawatiran investor yang berpotensi menimbulkan aksi jual terutama dari investor asing," jelas David dalam risetnya, Senin (14/4/2025).
Di sisi lain, David menyoroti daya tarik dividend yield yang tinggi dari sektor perbankan di tengah kondisi pasar yang fluktuatif. Namun, ia juga mengingatkan potensi aksi jual setelah cum date (tanggal terakhir investor tercatat berhak atas dividen) serta tekanan global dapat memicu pergerakan harga yang kurang stabil.
Lihat Juga :