Efek Tarif AS, Sejumlah Pabrik di China Mulai Stop Produksi
Senin, 28 April 2025 - 12:00 WIB
loading...
A
A
A
Perusahaan e-commerce JD.com adalah salah satu yang pertama mengumumkan dukungan serupa, menjanjikan 200 miliar yuan (sekitar USD27,22 miliar) untuk membeli barang-barang China yang awalnya ditujukan untuk ekspor — dan menemukan cara untuk menjualnya di China. Perusahaan pengiriman makanan Meituan juga telah mengumumkan akan membantu eksportir mendistribusikan di dalam negeri, tanpa menyebutkan jumlahnya. Namun, USD27,22 miliar hanya 5% dari USD524,66 miliar barang yang diekspor China ke AS tahun lalu.
"Beberapa bisnis telah memberi tahu kami bahwa dengan tarif 125%, model bisnis mereka tidak dapat dijalankan," kata Michael Hart, presiden Kamar Dagang Amerika di China, kepada wartawan. Ia juga mencatat lebih banyak persaingan di antara perusahaan-perusahaan China dalam seminggu terakhir.
Produsen telah beralih langsung ke platform media sosial China Red Note dan Douyin, versi lokal TikTok, untuk meminta konsumen mendukung mereka, tetapi kelelahan semakin meningkat, kata Ashley Dudarenok, pendiri ChoZan, konsultan pemasaran China. Dia mengatakan, semakin sedikit perusahaan China yang mempertimbangkan untuk mengalihkan ekspor ke AS melalui negara lain, mengingat meningkatnya pengawasan AS terhadap transshipment.
Dudarenok menambahkan bahwa banyak perusahaan yang mendiversifikasi produksi ke India daripada Asia Tenggara, sementara yang lain beralih dari pelanggan AS ke pelanggan di Eropa dan Amerika Latin. Beberapa perusahaan telah membangun bisnis di rute perdagangan lain dari China.
Ketegangan perdagangan AS-China telah menyebabkan banyak perusahaan menjajaki lokasi pengadaan sumber daya dan manufaktur di luar Amerika Serikat, kata Bright Tordzroh, CEO perusahaan yang bergerak dalam perdagangan antara China dan Ghana. Berdasarkan catatan, ekspor China ke Ghana dan Brasil telah meningkat dua kali lipat antara tahun 2018 dan 2024.
"Beberapa bisnis telah memberi tahu kami bahwa dengan tarif 125%, model bisnis mereka tidak dapat dijalankan," kata Michael Hart, presiden Kamar Dagang Amerika di China, kepada wartawan. Ia juga mencatat lebih banyak persaingan di antara perusahaan-perusahaan China dalam seminggu terakhir.
Produsen telah beralih langsung ke platform media sosial China Red Note dan Douyin, versi lokal TikTok, untuk meminta konsumen mendukung mereka, tetapi kelelahan semakin meningkat, kata Ashley Dudarenok, pendiri ChoZan, konsultan pemasaran China. Dia mengatakan, semakin sedikit perusahaan China yang mempertimbangkan untuk mengalihkan ekspor ke AS melalui negara lain, mengingat meningkatnya pengawasan AS terhadap transshipment.
Dudarenok menambahkan bahwa banyak perusahaan yang mendiversifikasi produksi ke India daripada Asia Tenggara, sementara yang lain beralih dari pelanggan AS ke pelanggan di Eropa dan Amerika Latin. Beberapa perusahaan telah membangun bisnis di rute perdagangan lain dari China.
Ketegangan perdagangan AS-China telah menyebabkan banyak perusahaan menjajaki lokasi pengadaan sumber daya dan manufaktur di luar Amerika Serikat, kata Bright Tordzroh, CEO perusahaan yang bergerak dalam perdagangan antara China dan Ghana. Berdasarkan catatan, ekspor China ke Ghana dan Brasil telah meningkat dua kali lipat antara tahun 2018 dan 2024.
(fjo)
Lihat Juga :