Rangkul Keberagaman, Kementan Gelar Grand Final YAA 2025
Rabu, 30 April 2025 - 17:26 WIB
loading...
A
A
A
“Petani tua akan berkurang secara alamiah, dan tanpa regenerasi yang dirancang dengan baik, kita bisa kehilangan keberlanjutan,” ujarnya.
Senada, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian sekaligus Direktur Program YESS, Muhammad Amin, menegaskan pentingnya acara ini sebagai wadah generasi muda untuk berkontribusi aktif dalam sektor pertanian dan mempromosikannya secara luas.
“Tujuan utama dari acara Young Ambassador Agriculture ini adalah mendorong generasi muda agar terlibat langsung dalam pembangunan pertanian sekaligus menjadi agen promosi pertanian kepada masyarakat luas,” kata Amin.
Acara ini bukan hanya merangkul keberagaman, tetapi juga menyambut inklusivitas dengan membuka ruang bagi penyandang disabilitas. Salah satu peserta, Rahmadi, petani pepaya dari Tanah Laut, Kalimantan Selatan, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan hambatan untuk maju. “Alhamdulillah, tidak ada perbedaan antara saya dengan peserta lain,” ujarnya.
Baca Juga: Regenerasi Petani Kementan Dipuji IFAD, Siap Ditularkan ke Negara Lain
Sejak mendapatkan hibah dari Program YESS pada 2023 berupa bibit pepaya Hawai, uang tunai, dan obat-obatan, usaha Rahmadi berkembang pesat. Ia membentuk kelompok tani beranggotakan 30 orang untuk mempermudah akses pupuk bersubsidi. “Sekarang banyak yang ikut-ikut. Kalau mau ditambah, bisa sampai ratusan yang ingin bergabung,” tuturnya.
Senada, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian sekaligus Direktur Program YESS, Muhammad Amin, menegaskan pentingnya acara ini sebagai wadah generasi muda untuk berkontribusi aktif dalam sektor pertanian dan mempromosikannya secara luas.
“Tujuan utama dari acara Young Ambassador Agriculture ini adalah mendorong generasi muda agar terlibat langsung dalam pembangunan pertanian sekaligus menjadi agen promosi pertanian kepada masyarakat luas,” kata Amin.
Acara ini bukan hanya merangkul keberagaman, tetapi juga menyambut inklusivitas dengan membuka ruang bagi penyandang disabilitas. Salah satu peserta, Rahmadi, petani pepaya dari Tanah Laut, Kalimantan Selatan, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan hambatan untuk maju. “Alhamdulillah, tidak ada perbedaan antara saya dengan peserta lain,” ujarnya.
Baca Juga: Regenerasi Petani Kementan Dipuji IFAD, Siap Ditularkan ke Negara Lain
Sejak mendapatkan hibah dari Program YESS pada 2023 berupa bibit pepaya Hawai, uang tunai, dan obat-obatan, usaha Rahmadi berkembang pesat. Ia membentuk kelompok tani beranggotakan 30 orang untuk mempermudah akses pupuk bersubsidi. “Sekarang banyak yang ikut-ikut. Kalau mau ditambah, bisa sampai ratusan yang ingin bergabung,” tuturnya.
Lihat Juga :