10 Negara Baru Ucapkan Selamat Tinggal pada Dolar AS, Beralih ke Mata Uang Lokal
Senin, 05 Mei 2025 - 10:25 WIB
loading...
Dominasi dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang global mulai mendapatkan tantangan serius. FOTO/iStock Photo
A
A
A
JAKARTA - Dominasi dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang global mulai mendapatkan tantangan serius. Sepuluh negara baru anggota Persemakmuran Negara-negara Merdeka (CIS) sepakat mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan beralih ke mata uang lokal dalam transaksi internasional.
Langkah tersebut merupakan bagian dari tren dedolarisasi yang kian menguat akibat ketidakstabilan kebijakan ekonomi AS dan ketegangan geopolitik global. Dolar AS belakangan mengalami tekanan signifikan, nilainya terus melemah didorong oleh kebijakan tarif tinggi era Donald Trump dan kritik terhadap penggunaan dolar sebagai alat sanksi ekonomi.
Baca Juga: 3 Mata Uang Asia Ini Bisa Gulingkan Dominasi Dolar AS, Ada Tetangga Dekat Indonesia
Dalam laporan terbaru, Deutsche Bank memperingatkan bahwa dolar AS berpotensi kehilangan status sebagai mata uang cadangan utama dunia.
"Kami melihat risiko pergeseran besar dalam alokasi modal global. Prasyarat untuk tren penurunan dolar yang lebih dalam sudah terbentuk," ujar George Saravelos, ekonom Deutsche Bank, seperti dikutip dari Watcher Guru, Senin (5/5).
Langkah tersebut merupakan bagian dari tren dedolarisasi yang kian menguat akibat ketidakstabilan kebijakan ekonomi AS dan ketegangan geopolitik global. Dolar AS belakangan mengalami tekanan signifikan, nilainya terus melemah didorong oleh kebijakan tarif tinggi era Donald Trump dan kritik terhadap penggunaan dolar sebagai alat sanksi ekonomi.
Baca Juga: 3 Mata Uang Asia Ini Bisa Gulingkan Dominasi Dolar AS, Ada Tetangga Dekat Indonesia
Dalam laporan terbaru, Deutsche Bank memperingatkan bahwa dolar AS berpotensi kehilangan status sebagai mata uang cadangan utama dunia.
"Kami melihat risiko pergeseran besar dalam alokasi modal global. Prasyarat untuk tren penurunan dolar yang lebih dalam sudah terbentuk," ujar George Saravelos, ekonom Deutsche Bank, seperti dikutip dari Watcher Guru, Senin (5/5).
Lihat Juga :