Garuda Indonesia Hentikan Operasional 15 Pesawat, Ada Apa?
Selasa, 06 Mei 2025 - 10:32 WIB
loading...
Garuda Indonesia menghentikan operasional 15 unit pesawat termasuk milik anak usahanya, Citilink Indonesia. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Garuda Indonesia menghentikan operasional 15 unit pesawat termasuk milik anak usahanya, Citilink Indonesia akibat kendala pengadaan suku cadang yang dipicu gangguan rantai pasok global.
Direktur Teknik Garuda Indonesia Rahmat Hanafi, mengungkapkan gangguan tersebut berdampak pada proses pemeliharaan berkala armada atau heavy maintenance yang saat ini tengah dijadwalkan ulang.
"Sebanyak satu pesawat Garuda dan 14 pesawat Citilink saat ini belum dapat dioperasikan karena sedang menunggu ketersediaan suku cadang untuk perawatan intensif," ujar dia dalam pernyataannya, dikutip pada Selasa (6/5).
Baca Juga: Beban Usaha Naik, Garuda Indonesia Catat Rugi Rp1,15 Triliun di 2024
Menurut Rahmat, tantangan ini tidak hanya dihadapi Garuda, tetapi juga oleh hampir seluruh pelaku industri penerbangan global. Krisis pasokan suku cadang pascapandemi menyebabkan waktu tunggu perawatan menjadi lebih panjang dari biasanya.
Meski demikian, seluruh proses pemeliharaan akan tetap mengacu pada standar keselamatan dan kelaikan udara yang ditetapkan otoritas penerbangan.
"Kami memastikan seluruh armada yang saat ini menjalani perawatan akan kembali dioperasikan setelah seluruh proses pemeliharaan tuntas tahun ini," jelas Rahmat.
Direktur Teknik Garuda Indonesia Rahmat Hanafi, mengungkapkan gangguan tersebut berdampak pada proses pemeliharaan berkala armada atau heavy maintenance yang saat ini tengah dijadwalkan ulang.
"Sebanyak satu pesawat Garuda dan 14 pesawat Citilink saat ini belum dapat dioperasikan karena sedang menunggu ketersediaan suku cadang untuk perawatan intensif," ujar dia dalam pernyataannya, dikutip pada Selasa (6/5).
Baca Juga: Beban Usaha Naik, Garuda Indonesia Catat Rugi Rp1,15 Triliun di 2024
Menurut Rahmat, tantangan ini tidak hanya dihadapi Garuda, tetapi juga oleh hampir seluruh pelaku industri penerbangan global. Krisis pasokan suku cadang pascapandemi menyebabkan waktu tunggu perawatan menjadi lebih panjang dari biasanya.
Meski demikian, seluruh proses pemeliharaan akan tetap mengacu pada standar keselamatan dan kelaikan udara yang ditetapkan otoritas penerbangan.
"Kami memastikan seluruh armada yang saat ini menjalani perawatan akan kembali dioperasikan setelah seluruh proses pemeliharaan tuntas tahun ini," jelas Rahmat.
Lihat Juga :