China Jago Lobi Trump, Apa Peran Harta Karun Tanah Jarang di Baliknya?
Selasa, 13 Mei 2025 - 14:30 WIB
loading...
A
A
A
“Setelah mereka menghukum AS dengan kendali ekspor rare earth, mereka (China) tidak akan begitu saja melepaskan senjata ekonomi ini,” ujar Peneliti Senior Nonresiden di Atlantic Council, Dexter Roberts seperti melansir Fortune, Selasa (13/5).
Laporan Bloomberg terbaru, melalui kesepakatan dagang baru ini membuat AS akan lebih mudah mendapatkan izin ekspor tanah jarang dari Beijing. Namun pencabutan pembatasan secara menyeluruh dinilai tidak mungkin terjadi, menurut dua sumber industri di China.
China sebelumnya telah memasukan tujuh jenis mineral tanah jarang dan barang terkait ke dalam daftar kontrol pada bulan April sebagai bagian dari tindakan balasannya terhadap tarif AS. Keputusan tersebut berarti eksportir AS perlu mengajukan izin sebelum menjual di luar China, melansir Bloomberg, Selasa (13/5).
“China tidak ingin memutus total pasokan ke AS, tapi mereka ingin menggunakan itu sebagai ancaman,” kata Jeorg Wuttke, mitra di DGA-Albright Stonebridge Group. Ia menambahkan, Beijing tetap ingin tampil sebagai pemasok yang andal, sekaligus memperingatkan dampak dari kebijakan AS.
Data menunjukkan bahwa sepanjang 2024, ekspor rare earth China naik 6% menjadi 55.431 metrik ton. Namun karena harga yang fluktuatif, nilainya justru turun 36% ke angka USD488 juta.
Saat perang dagang memuncak, produksi mineral ini di China sempat nyaris berhenti karena ketatnya regulasi dan anjloknya permintaan asing.
Laporan Bloomberg terbaru, melalui kesepakatan dagang baru ini membuat AS akan lebih mudah mendapatkan izin ekspor tanah jarang dari Beijing. Namun pencabutan pembatasan secara menyeluruh dinilai tidak mungkin terjadi, menurut dua sumber industri di China.
China sebelumnya telah memasukan tujuh jenis mineral tanah jarang dan barang terkait ke dalam daftar kontrol pada bulan April sebagai bagian dari tindakan balasannya terhadap tarif AS. Keputusan tersebut berarti eksportir AS perlu mengajukan izin sebelum menjual di luar China, melansir Bloomberg, Selasa (13/5).
“China tidak ingin memutus total pasokan ke AS, tapi mereka ingin menggunakan itu sebagai ancaman,” kata Jeorg Wuttke, mitra di DGA-Albright Stonebridge Group. Ia menambahkan, Beijing tetap ingin tampil sebagai pemasok yang andal, sekaligus memperingatkan dampak dari kebijakan AS.
Data menunjukkan bahwa sepanjang 2024, ekspor rare earth China naik 6% menjadi 55.431 metrik ton. Namun karena harga yang fluktuatif, nilainya justru turun 36% ke angka USD488 juta.
Saat perang dagang memuncak, produksi mineral ini di China sempat nyaris berhenti karena ketatnya regulasi dan anjloknya permintaan asing.
Lihat Juga :