Lelucon Soal Beras Bikin Mentan Jepang Mengundurkan Diri

Senin, 26 Mei 2025 - 08:40 WIB
loading...
Lelucon Soal Beras Bikin...
Mentan Jepang Taku Eto memutuskan untuk mengundurkan diri, usai membuat lelucon soal beras. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Jepang menyatakan, bahwa dirinya tidak pernah harus membeli beras karena para pendukungnya memberinya 'banyak' beras sebagai hadiah. Berharap lelucon tersebut bisa mengundang tawa, justru kemarahan yang didapatkan oleh Taku Eto.

Bahkan tidak sedikit yang meminta Mentan Jepang Taku Eto untuk mengundurkan diri. Jepang seperti diketahui sedang menghadapi krisis biaya hidup pertamanya dalam beberapa dekade, yang mempengaruhi kenaikan bahan pokok seperti beras.

Harganya beras di Jepang terus melonjak lebih dari dua kali lipat, dalam setahun terakhir dan varietas yang diimpor sangat langka. Eto meminta maaf dengan, mengatakan bahwa dia telah "terlalu jauh" dengan komentarnya saat acara penggalangan dana lokal.

Baca Juga: Harga Beras di Jepang Naik 90%, Bagaimana di Indonesia?

Ia akhirnya memilih mengundurkan diri setelah partai-partai oposisi mengancam untuk mengajukan mosi tidak percaya terhadapnya. Pencopotan dirinya menjadi pukulan baru bagi pemerintah Perdana Menteri Shigeru Ishiba, yang sedang berjuang dengan dukungan publik yang terus menurun.

Beras bisa menjadi pemicu yang kuat di Jepang, di mana kekurangan beras telah menyebabkan gejolak politik sebelumnya. Kerusuhan akibat melonjaknya harga beras bahkan menjatuhkan sebuah pemerintahan pada tahun 1918. Jadi, tidak mengherankan bahwa harga beras memiliki peran terkait dukungan publik terhadap Ishiba.

"Politisi tidak pergi ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, jadi mereka tidak mengerti," kata Memori Higuchi yang berusia 31 tahun kepada BBC dari rumahnya di Yokohama.

Higuchi adalah seorang ibu baru dari seorang bayi berusia tujuh bulan. Makanan yang baik untuk pemulihan pascamelahirkan sangat penting, dan putrinya akan segera mulai makan makanan padat.

"Saya ingin dia makan dengan baik, jadi jika harga terus naik, kami mungkin harus mengurangi jumlah nasi yang saya dan suami saya makan," ungkapnya seperti dilansir BBC.

Kesalahan yang mahal?

Ini adalah masalah sederhana antara penawaran dan permintaan, kata ekonom pertanian Kunio Nishikawa dari Universitas Ibaraki. Tapi dia percaya, hal itu disebabkan oleh kesalahan perhitungan pemerintah.

Hingga tahun 1995, pemerintah mengendalikan jumlah beras yang diproduksi petani lewat kerja sama erat dengan koperasi pertanian. Undang-undang tersebut dihapus pada tahun itu, tetapi kementerian pertanian terus menerbitkan perkiraan permintaan agar petani dapat menghindari produksi beras berlebih.

Tapi, Prof Nishikawa mengatakan, mereka salah pada tahun 2023 dan 2024. Mereka memperkirakan permintaan sebesar 6,8 juta ton, sementara permintaan sebenarnya tembus 7,05 juta ton. Permintaan beras meningkat karena lebih banyak turis yang mengunjungi Jepang dan meningkatnya jumlah orang yang makan di luar setelah pandemi.

Baca Juga: Harga Beras di 3 Negara Tetangga Hampir Rp100 Ribu per Kg, Mentan Amran: Indonesia Stabil

Namun produksi lebih rendah dari perkiraan yakni 6,61 juta ton, kata Prof Nishikawa. "Memang benar bahwa permintaan akan beras bakal meningkat, akibat beberapa faktor - termasuk kenyataan bahwa beras relatif terjangkau dibandingkan dengan makanan lainnya dan meningkatnya jumlah pengunjung dari luar negeri," kata juru bicara kementerian pertanian.

"Kualitas beras tidak bagus karena suhu yang tidak biasa yakni sangat tinggi juga mengakibatkan penurunan produksi beras," paparnya.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tinggalkan Jas dan Dasi,...
Tinggalkan Jas dan Dasi, Pekerja Kantoran di Jepang Boleh Pakai Celana Pendek dan Kaus Oblong
Bulog Serap 3,4 Juta...
Bulog Serap 3,4 Juta Ton Beras Petani, Setara 85% dari Target Nasional
BULOG dan Komisi IV...
BULOG dan Komisi IV DPR Perkuat Sinergi Dukung Kesejahteraan Petani di Klaten
Amran Klaim Teknologi...
Amran Klaim Teknologi Pertanian Papua Setara dengan Jepang dan AS
Iran Tawarkan Kembali...
Iran Tawarkan Kembali Ekspor Minyak ke Jepang setelah Vakum sejak 2019
Perkuat Penyimpanan...
Perkuat Penyimpanan Pangan di Kalsel, Titiek Soeharto Resmikan Gudang Bulog Kapasitas 3.500 Ton
Penjelasan Menteri PU...
Penjelasan Menteri PU Dody Hanggodo tentang Isu Tak Mau Salaman dengan Bawahan dan Pakai Private Jet
Apa Itu Kokushobi? Cuaca...
Apa Itu Kokushobi? Cuaca Ekstrem yang Terjadi Pertama Kalinya di Jepang
Sangkal Isu Reshuffle,...
Sangkal Isu Reshuffle, Mensesneg: Evaluasi Tak Selalu Berujung Pergantian Menteri
Rekomendasi
Keluarga Peter Crouch...
Keluarga Peter Crouch Cerita Susahnya Masuk AS saat Piala Dunia 2026
Polygon Beri Beasiswa...
Polygon Beri Beasiswa Juara BMX Usia Dini
AS Restui Arab Saudi...
AS Restui Arab Saudi Miliki Program Nuklir, Kemenangan Besar bagi Riyadh
Berita Terkini
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital per Juni 2026 Capai Rp54,71 Triliun, Kripto Sumbang Rp2,09 T
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
Kunjungi Rest Area Cipularang,...
Kunjungi Rest Area Cipularang, COO Danantara Puji Transformasi Layanan Tol Jasa Marga
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
Lippoland Kembangkan...
Lippoland Kembangkan OAZE sebagai Pusat Kehidupan Baru di Cikarang
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
Infografis
Perbandingan Jet Tempur...
Perbandingan Jet Tempur J-15 China dan F-15 Jepang, Mana Lebih Hebat?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved