Dolar AS Keok, Rubel Rusia Melesat ke Level Tertinggi dalam 2 Tahun
Selasa, 27 Mei 2025 - 02:45 WIB
loading...
Rubel Rusia mendaki ke level tertinggi dalam dua tahun terhadap dolar AS (USD) dimana sejak awal Maret 2025, terpantau menanjak naik sekitar 11%. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Rubel Rusia mendaki ke level tertinggi dalam dua tahun terhadap dolar AS (USD) , yang didukung oleh meredanya ketegangan geopolitik dan harapan baru untuk menyelesaikan konflik Ukraina. Mata uang Rusia mencapai level 78,9 terhadap dolar, level terkuat sejak pertengahan Mei 2023.
Rubel sejak awal Maret 2025, terpantau menanjak naik sekitar 11%. Rubel yang menguat selama beberapa bulan, telah mencatatkan kinerja terkuat di antara mata uang pasar berkembang sejak awal 2025, kata analis ekuitas di Alfa-Capital Alina Poptsova kepada RBK.
"Pasar sedang didorong oleh emosi yang terkait dengan tanda-tanda potensi normalisasi hubungan dengan AS dan dialog dengan Ukraina tentang penyelesaian politik," kata Natalia Pyrieva, analis utama di Tsifra Broker.
Baca Juga: Rubel Keok Lawan Dolar AS, Orang Terkaya Rusia Sebut Masih Masuk Akal
Analis mengutarakan, bahwa lonjakan ini juga didukung oleh peningkatan penjualan pendapatan dalam mata uang asing oleh eksportir menjelang pembayaran pajak dan dividen, serta menurunnya permintaan dari importir. Pelaku pasar dilaporkan bertaruh pada kembalinya perusahaan asing ke pasar Rusia, serta kemungkinan pelonggaran sanksi.
"Investor kemungkinan memperkirakan bukan hanya kemajuan dalam diplomasi, tetapi juga potensi pencabutan sanksi terkait infrastruktur, kembalinya modal asing, dan perbaikan likuiditas FX – faktor-faktor yang meningkatkan daya tarik rubel," kata Yuri Kravchenko, kepala penelitian perbankan dan pasar uang di Veles Capital.
Dia juga mengutip "ekspektasi geopolitik yang menguntungkan" sebagai dukungan utama rubel dalam beberapa minggu terakhir. Para analis menyakini kenaikan mata uang Rusia ini dipicu oleh optimisme geopolitik atas kemungkinan perjanjian damai dalam konflik Ukraina.
Beberapa ahli melihat peluang untuk mendapatkan keuntungan lebih lanjut, dimana memperkirakan rubel dapat mencapai posisi 75 terhadap dolar bulan ini, jika momentum geopolitik terus berlanjut. Namun mereka memperingatkan bahwa lonjakan ini mungkin tidak akan berlangsung lama kecuali ada perkembangan konkret.
Putaran sanksi terbaru, yang diumumkan oleh UE (Uni Eropa) dan Inggris minggu ini, kemungkinan tidak akan memberikan dampak yang kuat pada mata uang Rusia, menurut para analis.
Seperti diketahui Moskow dan Washington telah terlibat dalam diplomasi tingkat tinggi sejak kembalinya Presiden AS Donald Trump ke posisinya. Trump berulang kali menyerukan resolusi cepat untuk konflik tersebut dan pengaturan ulang dalam hubungan bilateral Rusia-AS.
Pada hari Senin, Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan percakapan via telepon selama dua setengah jam, yang keduanya deskripsikan hal itu sebagai tindakan produktif. Minggu lalu, delegasi dari Rusia dan Ukraina bertemu di Istanbul untuk pembicaraan langsung pertama mereka sejak Kiev secara sepihak menarik diri dari proses perdamaian pada tahun 2022.
Baca Juga: Rubel Ambruk, Bank Sentral Rusia Setop Beli Dolar AS
Negosiator utama Rusia, Vladimir Medinsky kemudian mengatakan, bahwa kedua belah pihak setuju untuk melakukan pertukaran tahanan yang melibatkan 1.000 tahanan perang di masing-masing pihak dan melanjutkan kontak setelah kedua belah pihak mempersiapkan proposal gencatan senjata yang lebih detail.
Rubel sejak awal Maret 2025, terpantau menanjak naik sekitar 11%. Rubel yang menguat selama beberapa bulan, telah mencatatkan kinerja terkuat di antara mata uang pasar berkembang sejak awal 2025, kata analis ekuitas di Alfa-Capital Alina Poptsova kepada RBK.
"Pasar sedang didorong oleh emosi yang terkait dengan tanda-tanda potensi normalisasi hubungan dengan AS dan dialog dengan Ukraina tentang penyelesaian politik," kata Natalia Pyrieva, analis utama di Tsifra Broker.
Baca Juga: Rubel Keok Lawan Dolar AS, Orang Terkaya Rusia Sebut Masih Masuk Akal
Analis mengutarakan, bahwa lonjakan ini juga didukung oleh peningkatan penjualan pendapatan dalam mata uang asing oleh eksportir menjelang pembayaran pajak dan dividen, serta menurunnya permintaan dari importir. Pelaku pasar dilaporkan bertaruh pada kembalinya perusahaan asing ke pasar Rusia, serta kemungkinan pelonggaran sanksi.
"Investor kemungkinan memperkirakan bukan hanya kemajuan dalam diplomasi, tetapi juga potensi pencabutan sanksi terkait infrastruktur, kembalinya modal asing, dan perbaikan likuiditas FX – faktor-faktor yang meningkatkan daya tarik rubel," kata Yuri Kravchenko, kepala penelitian perbankan dan pasar uang di Veles Capital.
Dia juga mengutip "ekspektasi geopolitik yang menguntungkan" sebagai dukungan utama rubel dalam beberapa minggu terakhir. Para analis menyakini kenaikan mata uang Rusia ini dipicu oleh optimisme geopolitik atas kemungkinan perjanjian damai dalam konflik Ukraina.
Beberapa ahli melihat peluang untuk mendapatkan keuntungan lebih lanjut, dimana memperkirakan rubel dapat mencapai posisi 75 terhadap dolar bulan ini, jika momentum geopolitik terus berlanjut. Namun mereka memperingatkan bahwa lonjakan ini mungkin tidak akan berlangsung lama kecuali ada perkembangan konkret.
Putaran sanksi terbaru, yang diumumkan oleh UE (Uni Eropa) dan Inggris minggu ini, kemungkinan tidak akan memberikan dampak yang kuat pada mata uang Rusia, menurut para analis.
Seperti diketahui Moskow dan Washington telah terlibat dalam diplomasi tingkat tinggi sejak kembalinya Presiden AS Donald Trump ke posisinya. Trump berulang kali menyerukan resolusi cepat untuk konflik tersebut dan pengaturan ulang dalam hubungan bilateral Rusia-AS.
Pada hari Senin, Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan percakapan via telepon selama dua setengah jam, yang keduanya deskripsikan hal itu sebagai tindakan produktif. Minggu lalu, delegasi dari Rusia dan Ukraina bertemu di Istanbul untuk pembicaraan langsung pertama mereka sejak Kiev secara sepihak menarik diri dari proses perdamaian pada tahun 2022.
Baca Juga: Rubel Ambruk, Bank Sentral Rusia Setop Beli Dolar AS
Negosiator utama Rusia, Vladimir Medinsky kemudian mengatakan, bahwa kedua belah pihak setuju untuk melakukan pertukaran tahanan yang melibatkan 1.000 tahanan perang di masing-masing pihak dan melanjutkan kontak setelah kedua belah pihak mempersiapkan proposal gencatan senjata yang lebih detail.
(akr)
Lihat Juga :