India Cari Cara Memblokir Investasi Pakistan Rp9,4 Triliun di Bank BRICS

Selasa, 27 Mei 2025 - 10:18 WIB
loading...
India Cari Cara Memblokir...
India sedang bersiap untuk memblokir upaya Pakistan memperoleh 1,1% saham di BRICS New Development Bank (NDB) yang berbasis di Shanghai. Foto/Dok RT, Getty
A A A
JAKARTA - India sedang bersiap untuk memblokir upaya Pakistan memperoleh 1,1% saham di BRICS New Development Bank (NDB) yang berbasis di Shanghai, seperti dilaporkan Business Standard mengutip sumber terkait. New Delhi kemungkinan akan mengangkat isu ini dalam pertemuan dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Pada bulan Februari, pemerintah Pakistan menyetujui akuisisi 5.882 saham NDB senilai USD582 juta yang setara Rp9,4 triliun (dengan kurs Rp16.194 per USD), dengan dana USD116 juta sebagai modal yang disetor. Namun New Delhi dilaporkan menentang rencana tetangganya untuk membeli saham di Bank BRICS.

Baca Juga: Geng Baru Rusia Ini Buang Dolar AS Rp1.626 Triliun, Kemenangan Besar Dedolarisasi

Menteri Keuangan Pakistan, Mohammad Aurangzeb menyatakan, bahwa langkah tersebut akan membantu Islamabad mendiversifikasi opsi pinjamannya dan mengurangi ketergantungannya pada keuangan dan kebijakan Bank Dunia dan IMF.

Menurut Business Standard, India akan mengangkat isu ini dalam pertemuan IMF untuk mereview paket bailout senilai USD7 miliar yang diberikan kepada negara Asia Selatan yang hampir bangkrut itu pada Juli 2024. Berbeda dari praktik biasanya yang abstain dari diskusi mengenai permohonan pinjaman Pakistan di IMF, India kemungkinan akan mengungkapkan keberatannya terhadap perjanjian yang diusulkan dengan NDB kali ini, demikian diungkap laporan tersebut.

India menilai Pakistan tidak konsisten, dengan menunjukkan bahwa sementara menerima pinjaman IMF untuk mengurangi risiko kebangkrutan, negara itu secara bersamaan merencanakan untuk berinvestasi di pemberi pinjaman lain, NDB. New Delhi kemungkinan akan berargumen bahwa hal itu sebagai 'omong kosong ganda' dan tidak dapat diterima, klaim laporan.

Selain itu Pakistan juga secara resmi telah meminta keanggotaan BRICS, kelompok yang awalnya dibentuk oleh lima ekonomi yang sedang berkembang, yang mencakup saingannya India di samping Brasil, Rusia, China, dan Afrika Selatan.

BRICS telah berkembang dalam dua tahun terakhir dengan memasukkan banyak negara seperti Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab (UEA), dan Indonesia. Di sisi lain Arab Saudi belum secara resmi bergabung, meski sudah menerima undangan keanggotaan. Sejumlah negara lain, termasuk Bolivia, Kuba, Kazakhstan, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, dan Uzbekistan, juga memperoleh status sebagai 'negara mitra' BRICS.

Namun, potensi bergabungnya Pakistan kemungkinan akan terhalang oleh India karena hubungan antara kedua tetangga sangat tegang. Baca Juga: Dapat Anggota Baru, BRICS New Development Bank Makin Kuat

BRICS New Development Bank atau NDB didirikan oleh BRICS pada tahun 2015 untuk memenuhi kebutuhan negara-negara berkembang yang,menurut anggotanya, tidak diwakili secara setara dalam arsitektur keuangan internasional. Awalnya, lima anggota pendiri BRICS memiliki saham yang sama dalam lembaga tersebut; namun kemudian sedikit dikurangi untuk menarik investasi dari lebih banyak negara.

Saat ini, Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan masing-masing memiliki saham 18,98%, sementara Mesir memegang saham 2,27%, dan Bangladesh serta UEA memegang saham masih-masing sebesar 1,79% dan 1,06%.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Desak BRICS Berani...
China Desak BRICS Berani Melawan Barat: Akses Mineral Strategis Bakal Dikunci
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Impor Energi dari 41...
Impor Energi dari 41 Negara, India Tak Mampu Tolak Minyak Rusia: Kami Cari yang Paling Murah!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Menguak di Balik Lawatan...
Menguak di Balik Lawatan Prabowo 1,5 Tahun, Seskab Teddy: BRICS hingga Investasi Rp2.430 Triliun
Tiga Kapal Tanker Tujuan...
Tiga Kapal Tanker Tujuan China dan India Diam-diam Tinggalkan Selat Hormuz, Begini Caranya
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
6 Teroris Ditembak Mati...
6 Teroris Ditembak Mati usai Serang Markas Rangers Pakistan, 4 Tentara Juga Tewas
Rekomendasi
Iran Bersiap Berperang...
Iran Bersiap Berperang Lagi jika MoU Tidak Dilaksanakan, AS dan Sekutunya Ketar-ketir
RSCM Apresiasi Donor...
RSCM Apresiasi Donor Darah MNC Peduli, Bantu Penuhi Kebutuhan 100 Kantong Darah per Hari
Jajang C Noer Sebut...
Jajang C Noer Sebut Nadiem Makarim Tak Bersalah, Kritik Vonis 10 Tahun Penjara
Berita Terkini
Sah, 4 Marketplace Ini...
Sah, 4 Marketplace Ini Resmi Pungut Pajak PPh 22
Investor RI Mulai Lirik...
Investor RI Mulai Lirik Saham AI Global, Bittime Hadirkan Fitur Earn
Neraca Dagang RI Defisit...
Neraca Dagang RI Defisit USD1,61 Miliar, Pertama Kali sejak 2020
Grand Filano Ramai di...
Grand Filano Ramai di Medsos, Warganet Soroti Bobot Ringan hingga Irit BBM
Inflasi Juni 2026 Capai...
Inflasi Juni 2026 Capai 3,34%, Harga BBM dan Tiket Pesawat Jadi Pendorong
Tarif Listrik Juli-September...
Tarif Listrik Juli-September Tak Naik, Cek Harga per kWh Semua Golongan
Infografis
10 Miliarder India di...
10 Miliarder India di 2025, Paling Tajir Berharta Rp1.497 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved