Ramalan OECD Soal Kejatuhan Ekonomi Besar Dunia, Siapa Saja?
Kamis, 05 Juni 2025 - 15:17 WIB
loading...
Dari semua ekonomi besar yang bakal mengalami penurunan tajam, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mengungkap siapa saja ekonomi yang bakal mengalami perlambatan terparah. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Dari semua ekonomi besar yang bakal mengalami penurunan tajam, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi ( OECD ) memperkirakan, Amerika Serikat (AS) bakal menjadi yang terparah. Menurut para analis, tarif tinggi dan semakin meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan menjadi faktor kunci yang menghambat pertumbuhan.
Dalam prospek global terbarunya yang belum lama ini dirilis, OECD mengatakan ekonomi dunia sedang menuju periode terlemah sejak pandemi Covid-19. Pertumbuhan AS diproyeksikan melambat dari 2,8% pada 2024 menjadi 1,6% pada 2025 dan 1,5% pada 2026.
Sebagai informasi, pada bulan Maret lalu, OECD memperkirakan tahun depan bakal terjadi ekspansi sebesar 2,2%. Baca Juga: IMF Pangkas Proyeksi PDB 3 Negara Ekonomi Utama Asia
"Ini mencerminkan peningkatan yang substansial dalam tarif efektif atas barang impor dan pembalasan dari beberapa mitra dagang, ketidakpastian kebijakan ekonomi yang tinggi, pelambatan yang signifikan dalam imigrasi, ditambah pengurangan besar tenaga kerja federal," kata OECD.
Sejak kembali ke Gedung Putih untuk kedua kalinya pada bulan Januari, Presiden AS Donald Trump telah memberlakukan tarif besar-besaran yang bertujuan untuk melindungi manufaktur domestik. Kampanye ini mencapai puncaknya pada 2 April dengan langkah-langkah yang disebut sebagai "Hari Pembebasan".
Termasuk di dalamnya adalah pajak 10% secara keseluruhan pada semua barang impor, sedangkan untuk barang dari China, Meksiko, Kanada, dan negara-negara anggota UE (Uni Eropa) mendapatkan tarif lebih tinggi dengan alasan adanya ketidakseimbangan perdagangan.
Beberapa bea masuk tersebut telah dihentikan sementara untuk memberikan waktu buat negosiasi. Sementara itu Trump memberikan pembelaan bahwa strategi ini sebagai cara untuk mengembalikan lapangan pekerjaan ke AS dan mengurangi defisit perdagangan negara tersebut.
OECD memproyeksikan inflasi AS bakal meningkat hampir 4% di akhir 2025 dan tetap melampaui target 2% Federal Reserve hingga 2026 – dengan kemungkinan adanya penundaan pemotongan suku bunga hingga tahun depan. Ini juga menyoroti penyusutan dalam pertumbuhan PDB riil di tengah meningkatnya ekspektasi inflasi.
Kepala ekonom OECD, Alvaro Pereira memberikan desakan kepada pemerintah untuk mencapai kesepakatan guna mengurangi hambatan perdagangan, mengingat konsekuensi serius jika mereka gagal. "Jika tidak, dampak pertumbuhannya akan cukup signifikan," katanya.
Selain itu Ia juga menambahkan, "Ini akan memiliki dampak besar bagi semua orang." Menurut laporan tersebut, pertumbuhan global diproyeksikan mencapai 2,9% pada tahun 2025 dan 2026 – di bawah laju di atas 3% yang terlihat setiap tahun sejak penurunan akibat pandemi pada tahun 2020.
Baca Juga: Penasihat Danantara: Tarif Trump Bisa Bikin Sistem Keuangan Global Kolaps
Lembaga yang berbasis di Paris itu telah menurunkan proyeksi untuk hampir semua ekonomi utama dibandingkan dengan perkiraannya pada bulan Desember. Hal ini memperingatkan bahwa "prospek ekonomi yang melemah akan terasa di seluruh dunia, dengan hampir tidak ada pengecualian." Selain AS, perlambatan diprediksi juga bakal terlihat di Kanada, Meksiko, dan China.
Dalam prospek global terbarunya yang belum lama ini dirilis, OECD mengatakan ekonomi dunia sedang menuju periode terlemah sejak pandemi Covid-19. Pertumbuhan AS diproyeksikan melambat dari 2,8% pada 2024 menjadi 1,6% pada 2025 dan 1,5% pada 2026.
Sebagai informasi, pada bulan Maret lalu, OECD memperkirakan tahun depan bakal terjadi ekspansi sebesar 2,2%. Baca Juga: IMF Pangkas Proyeksi PDB 3 Negara Ekonomi Utama Asia
"Ini mencerminkan peningkatan yang substansial dalam tarif efektif atas barang impor dan pembalasan dari beberapa mitra dagang, ketidakpastian kebijakan ekonomi yang tinggi, pelambatan yang signifikan dalam imigrasi, ditambah pengurangan besar tenaga kerja federal," kata OECD.
Sejak kembali ke Gedung Putih untuk kedua kalinya pada bulan Januari, Presiden AS Donald Trump telah memberlakukan tarif besar-besaran yang bertujuan untuk melindungi manufaktur domestik. Kampanye ini mencapai puncaknya pada 2 April dengan langkah-langkah yang disebut sebagai "Hari Pembebasan".
Termasuk di dalamnya adalah pajak 10% secara keseluruhan pada semua barang impor, sedangkan untuk barang dari China, Meksiko, Kanada, dan negara-negara anggota UE (Uni Eropa) mendapatkan tarif lebih tinggi dengan alasan adanya ketidakseimbangan perdagangan.
Beberapa bea masuk tersebut telah dihentikan sementara untuk memberikan waktu buat negosiasi. Sementara itu Trump memberikan pembelaan bahwa strategi ini sebagai cara untuk mengembalikan lapangan pekerjaan ke AS dan mengurangi defisit perdagangan negara tersebut.
OECD memproyeksikan inflasi AS bakal meningkat hampir 4% di akhir 2025 dan tetap melampaui target 2% Federal Reserve hingga 2026 – dengan kemungkinan adanya penundaan pemotongan suku bunga hingga tahun depan. Ini juga menyoroti penyusutan dalam pertumbuhan PDB riil di tengah meningkatnya ekspektasi inflasi.
Kepala ekonom OECD, Alvaro Pereira memberikan desakan kepada pemerintah untuk mencapai kesepakatan guna mengurangi hambatan perdagangan, mengingat konsekuensi serius jika mereka gagal. "Jika tidak, dampak pertumbuhannya akan cukup signifikan," katanya.
Selain itu Ia juga menambahkan, "Ini akan memiliki dampak besar bagi semua orang." Menurut laporan tersebut, pertumbuhan global diproyeksikan mencapai 2,9% pada tahun 2025 dan 2026 – di bawah laju di atas 3% yang terlihat setiap tahun sejak penurunan akibat pandemi pada tahun 2020.
Baca Juga: Penasihat Danantara: Tarif Trump Bisa Bikin Sistem Keuangan Global Kolaps
Lembaga yang berbasis di Paris itu telah menurunkan proyeksi untuk hampir semua ekonomi utama dibandingkan dengan perkiraannya pada bulan Desember. Hal ini memperingatkan bahwa "prospek ekonomi yang melemah akan terasa di seluruh dunia, dengan hampir tidak ada pengecualian." Selain AS, perlambatan diprediksi juga bakal terlihat di Kanada, Meksiko, dan China.
(akr)
Lihat Juga :